
Usai makan malam itu, mereka berkumpul di ruang tengah. Namun sepertinya Daisy tidak putus asa untuk mendekatkan putranya dengan Michele. Akhirnya ia mencari cara bagaimana agar Noah dan Michele bisa ngobrol berdua.
Dan di sinilah mereka berdua. Duduk di depan teras rumah. hanya berdua. Tidak ada satu orang pun yang ikut bergabung di sana.
Michele sejak tadi menatap pria yang tengah duduk di hadapannya itu dengan penuh keheranan. Pasalnya sejak tadi hanya dirinyalah yang mengajak bicara. Sementara Noah hanya menjawab dengan singkat pertanyaan Michele. Selebihnya, pria itu kembali menundukkan kepala.
Sedangkan Noah sendiri saat ini tengah merasakan kegugupan saat berhadapan dengan Michele. Apalagi pakaian yang dikenakan Michele menurutnya terlalu berani. Hingga membuatnya gugup sekaligus tidak berani menatapnya.
“Ehm, apa kamu pernah menjalin hubungan dengan seseorang sebelumnya?” tanya Michele dengan nada sedikit menggoda.
“Ak…aku aku tidak. Aku tidak pernah mempunyai kekasih.” Jawab Noah dengan gugup sambil sesekali mengusap keningnya yang mengeluarkan keringat dingin.
Michele tampak melongo. Sedetik kemudian ia menutup mulutnya untuk menahan tawa. Bagaimana mungkin ada seorang pria yang ketakutan seperti ini saat melihat pesonanya. Sungguh Noah bukanlah tipe pria idamannya. Michele tidak bisa membayangkan jika memiliki suami seperti Noah. Apalagi saat malam pertama. baru saja disenggol sudah gugup. Bisa-bisa senjatanya lumpuh total sebelum digunakan untuk bertempur.
Michele tidak kuat lagi menahan tawanya. Sampai-sampai perutnya sakit. Akhirmya ia memutuskan untuk masuk terlebih dulu dan meninggalkan Noah yang masih mengelap keringat dengan sapu tangan.
***
Hari berganti hari. Tidak terasa Ken sudah bekerja sebagai OB di perusahaan milik Xander selama seminggu. Dan selama itu Ken bekerja dengan baik. Bisa dikatakan kalau Michele cocok dengan kinerja Ken. Bahkan keberadaan Ken yang keluar masuk ruangannya membuat ia bersemangat dalam bekerja.
Sesuai dengan permintaan Xander sebelumnya, kalau Ken juga diperintahkan untuk membersihkan ruangan presdir. Dan Michele pun terpaksa mengijinkannya.
Selama bekerja seminggu ini, Ken juga bersikap ramah terhadap sesama teman seprofesinya. Mereka juga menyambut hangat keberadaan Ken.
**
__ADS_1
Kini jam pulang kantor telah tiba. Setelah semua karyawan pulang, seperti biasa para OB membersihkan ruangan sesuai dengan tugas masing-masing. Ken juga memasuki ruangan Xander sambil membawa alat kebersihannya. Setelah itu bergantian membersihkan ruangan Michele.
Sejak tadi pagi Ken hanya melihat atasannya itu sekali saja saat Michele memintanya untuk membuatkan teh hijau. Selebihnya saat ia standby di pantry, tidak mendapat perintah apapun dari Michele. Mungkin perempuan itu sedang sibuk atau sedang ada pekerjaan di luar kantor.
Ken memasuki ruangan wakil presdir. Ruangan itu tampak sepi. Ken mengira kalau Michele sudah pulang. karena dia tidak tahu kalau tas perempuan itu masih ada di atas meja. Namun entah kemana pemiliknya.
Ken memulai pekerjaannya dengan membersihkan kaca jendela. Lalu menyapu lantai. Setelah itu ia mengecek kamar mandi apakah perlu dibersihkan atau tidak. Kalau tidak, dia akan mengepel seluruh ruangan.
Ken memeriksa saluran air yang ternyata tidak mengeluarkan air. Dia berusaha mengotak-atik kran air itu. Namun naas, kran itu justru lepas dan menyemburkan air hingga membasahi seluruh pakaian Ken.
“Ah kenapa bisa seperti ini. untung saja sudah waktunya pulang.” gerutu Ken.
Setelah itu ia membuka baju atasnya yang tampak basah kuyup. Mungkin nanti saat keluar ia akan meminta tolong Zian untuk meminjamkan jaket. Dan sekarang lebih baik ia memasang lagi kran air itu. tapi sayang, sepertinya harus diganti.
Michele berjalan mendekat ke arah kamar mandi. dia sudah tahu kalau Ken pasti sedang ada di sana dan melaksanakan tuganya. Dia hanya ingin memastikan saja. namun saat Michele hampir sampai depan pintu, rupanya Ken juga sedang menuju keluar dengan keadaan tidak memakai baju.
Awwww
Pekik Michele terkejut saat tubuh keduanya bertabrakan. Bahkan tangan Michele saat ini tanpa sadar menyentuh dada Ken.
“Maaf. Maafkan saya, Nona!” ucap Ken dengan gugup saat merasakan sentuhan lembut tangan Michele tepat di dadanya. Tapi jangan lupa dengan kedua tangan Ken yang saat ini merengkuh pinggang Michele dengan posesif.
Kedua netra itu saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Michele pun bisa merasakan degupan jantung Ken. Namun Ken lebih dulu sadar dan segera melepas pinggang Michele dengan pelan.
“Maafkan saya, Nona.” Ucap Ken sekali lagi.
__ADS_1
Keduanya kini sama-sama canggung. Michele sendiri membuang muka. Jujur saja ia sudah terhipnotis oleh tatapan Ken yang sangat berbeda.
“Nggak apa-apa. Kenapa kamu tidak pakai baju?” tanya Michele berusaha tidak gugup, walau ia masih ingin melihat penampakan roti sobek si Office Boy itu.
“Kran kamar mandi anda rusak dan airnya menyembur membasahi baju saya. maaf, saya kira anda sudah pulang. kalau begitu saya ijin keluar sebentar.” Ucap Ken lalu beranjak keluar.
“Tunggu, Ian!” cegah Michele dengan cepat.
“Apa kamu akan keluar dari ruanganku dengan bertelanja** dada seperti itu?” tanya Michele sambil menunjuk ke arah tubuh Ken.
Ken merutuki kebodohannya. Padahal ia tadi hendak menghubungi Zian agar membantunya dan meminjami jaketnya. Tapi kenapa gara-gara kejadian baru saja membuatnya menjadi linglung.
“Maaf. Saya akan menghubungi teman saya untuk meminjami saya jaket dan membantu saya memperbaiki kran airnya.” Jawab Ken.
“Jangan!”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1