
“Kamu jangan mencintaiku, Chel. Bukankah kamu sudah memiliki kekasih yang sangat perhatian dan menyayangimu?” tanya Ken dan berhasil membuat Michele terdiam dari isakannya.
“Sudah aku katakan bukan kalau aku tidak mempunyai kekasih. Tunggu dulu, apa kamu mengira Kak Kavi itu adalah kekasihku?” ucap Michele setelah menyadari perubahan sikap Ken semenjak di pesta kemarin. Dia sangat yakin kalau penyebabnya adalah Kavi. Apa itu tandanya Ken sedang cemburu. Entah kenapa Michele jadi merasa senang.
“Kak Kavi itu sudah seperti saudaraku, Ken. Ayah Kak Kavi adalah sahabat Papa. Ehm, apa kamu cemburu?” tanya Michele dengan senyum menggoda.
Mendengar penjelasan Michele jujur saja membuat hati Ken lega sekaligus senang. Meskipun begitu tidak mungkin ia membenarkan ucapan Michele kalau dirinya cemburu. Karena sampai saat ini Ken juga masih ragu dengan hatinya.
“Buat apa aku cemburu? Aku tidak berhak cemburu. Kamu boleh menjalin hubungan dengan siapapun, Chel.” Jawab Ken seketika memudarkan senyum Michele.
Tiba-tiba saja terdengar deringan ponsel Ken. Itu pasti dari Adel yang sudah menunggunya sejak tadi. setelah itu Ken meminta Michele segera pulang.
“Lebih baik kamu pulang sekarang. ini sudah malam. besok kita bertemu lagi di kantor.” ucap Ken dengan tersenyum dan mengusap lembut kepala Michele.
“Baiklah. Asal kamu jangan cuekin aku lagi, ya?” jawab Michele dengan suara manja.
“Iya, iya. Ya sudah hati-hati di jalan.” Jawab Ken lalu meninggalkan kecupan singkat di kening Michele.
Setelah Michele pulang, Ken segera bersiap untuk pergi menemui Adel. Dalam pesan Adel meminta agar Ken mengirim alamat tempat tinggalnya, karena perempuan itu hendak menjemputnya. Namun Ken menolak dan mengatakan kalau ia sedang dalam perjalanan.
Ken keluar dari rumah kontrakannya. Ia berjalan cepat sampai ke jalan raya untuk mencari taksi. Tanpa Ken ketahui, ternyata Michele sejak tadi belum pulang. Michele memutuskan untuk mengikuti kemana Ken pergi.
Taksi yang dikendarai Ken berhenti di sebuah apartemen dimana Adel tinggal. Pria itu berjalan tergesa menuju unit apartemen Adel. Begitu juga dengan Michele yang terus mengikuti Ken sampai pria itu masuk ke salah satu unit apartemen yang masih satu lantai dengan unit milik Jessie.
__ADS_1
Michele semakin penasaran tentang apa yang dilakukan Ken di dalam sana. Dan siapa yang berada di unit itu.
Michele menunggu sampai beberapa menit namun pintu unit apartemen itu belum terbuka juga. akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di unit apartemen Jessie.
Sedangkan Ken di dalam unit apartemen itu sedang berada di dalam sebuah ruangan. Di hadapannya ada sebuah layar monitor besar yang menunjukkan beberapa orang ada di sana. Ya, saat ini Ken sedang meeting secara virtual dengan beberapa petinggi perusahaan MGN Corp. seperti biasa, Ken selalu mengenakan topeng tiap kali melakukan meeting. Semua itu ia lakukan karena identitasnya tidak ingin diketahui oleh banyak orang, termasuk petinggi perusahaan miliknya sendiri.
Sedangkan Adel juga berada di sana. Ia sebagai operator sekaligus asisten Ken. Kedatangannya ke nagara ini memang untuk mengawasi dan menemani Ken meeting dengan beberapa petinggi perusahaan dan beberapa kliennya. Selain itu, Adel juga melaporkan perkembangan perusahaan selama beberapa bulan terakhir.
Meeting itu berlangsung selama kurang lebih satu jam. Dan meeting malam ini adalah meeting terakhir yang Ken lakukan. Selebihnya, ia akan menyerahkan kembali urusan perusahaan kepada Adel.
Usai Meeting, Ken melepas topengnya. Setelah itu membiarkan Adel mencatat hal penting yang baru saja ia bahas dalam meeting tadi.
Kini Ken sedang duduk di ruang tengah sambil meneguk minuman kaleng bersoda. Tak lama kemudian Adel keluar dengan membawa beberapa dokumen untuk dimintai tanda tangan Ken.
“Baiklah, berhubung meeting malam ini berjalan lancar dan sukses, aku memutuskan untuk pulang besok.” Ucap Adel.
Ken melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. ia segera pulang. namun Adel meminta untuk mengantar Ken sampai lobby apartemen.
Dalam perjalanan menuju lobby, suasana apartemen terlihat sangat sepi. Mereka berdua pun berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Ken, apa tidak sebaiknya kamu menggunakan mobilmu saja? ini sudah malam, daripada harus naik taksi.” Tawar Adel.
“Aku sudah terbiasa naik taksi.” Jawab Ken dan membuat Adel hanya menghembuskan naafasnya pelan.
__ADS_1
Mereka terus berjalan sampai lobby. Adel kembali mengajak Ken bicara. Meskipun ia tahu resikonya akan diabaikan oleh Ken, apa salahnya jika terus mencoba.
“Ken, lebih baik kamu tinggalkan pekerjaan kamu itu. fokuslah dengan perusahaan.” Ucap Adel dan masih belum mendapat sahutan dari Ken.
“Kamu mencari pembunuh Angel dengan cara menjadi pembunuh bayaran. Lalu apa bedanya diri kamu dengan si pembunuh itu? sudah berapa nyawa yang kamu hilangkan tapi sampai saat ini kamu juga belum menemukan siapa pembunuh Angel.” Ucap Adel dengan tegas, walau dia sendiri sangat takut dengan reaksi Ken setelah ini.
“Kamu tidak berhak mengatur hidupku, Del! Kalau kamu tidak betah bekerja denganku kamu bisa mengundurkan diri mulai dari sekarang. Tapi jangan harap kamu bisa tinggal bersama Ibu dan Ayah lagi, meskipun kamu anak kandungnya.” Ucap Ken dengan suara tegas bercampur amarah.
Adel benar-benar tidak menyangka kalau ucapannya baru saja berhasil memancing emosi Ken. Padahal ia sudah siap dengan resikonya. Namun mendengar ancaman Ken yang akan menjauhkan dirinya dengan kedua orang tua kandungnya, membuat Adel ketakutan.
“Maaf. Maafkan aku. aku janji tidak akan lagi mencampuri urusan kamu.” Ucap Adel.
“Lebih baik kamu kembali. Aku bisa pulang sendiri. Besok aku akan mengantar kamu ke bandara.” Ucap Ken dengan merendahkan nada bicaranya. Bagaimana pun juga ia merasa bersalah atas ucapannya pada Adel baru saja.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata sejak tadi Michele mengikuti Ken dan Adel. Bahkan Michele mendengar jelas semua ucapan Ken.
“Tidak mungkin.” Gumam Michele dengan bibir bergetar ketakutan.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️