
Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Aiden hari ini diperbolehkan pulang. Tania benar-benar menjaga putranya dengan penuh perhatian. Karena sekarang hanya Aiden lah harapan satu-satunya.
“Sayang, kalau kamu belum sembuh sepenuhnya lebih baik tinggal beberapa hari lagi di sini.” ucap Tania yang saat ini tengah membereskan baju kotor Aiden.
“Ma, aku sudah sembuh. bukankah dokter sendiri yang mengatakan tadi?” jawab Aiden tersenyum pada Mamanya.
“Tapi Mama khawatir kalau luka kamu belum sembuh sepenuhnya.”
Aiden kembali tersenyum pada Mamanya. Betapa bahagianya dia saat melihat sikap Mamanya yang sangat perhatian padanya. Orang tua satu-satunya yang ia miliki saat ini. sungguh besar sekali hati Mamanya selama hidup berumah tangga dengan Papanya. Meskipun hanya dicintai setenag hati oleh Papanya, Mamanya sama sekali tidak menaruh dendam pada wanita yang mengisi relung hati Papanya. Namun tidak bagi Aiden. Dia harus tetap membayar rasa sakit hati Mamanya pada Mama Michele.
Tak lama kemudian seorang perawat masuk membawa kursi roda buat Aiden. Perawat itu juga membantu Aiden turun dari brankar dan duduk di atas kursi roda. Selanjutnya Tania lah yang mendorong kursi rodanya. Sedangkan baju-baju kotor Aiden dibawa oleh bodyguard yang selalu siap siaga.
Hanya istirahat dua hari saja di rumah. setelah itu Aiden kembali lagi ke kantor. pekerjaannya juga sangat padat. terlebih dengan kerjasamanya dengean beberapa perusahaan.
Saat ini Aiden sedang duduk di kursi kebesarannya. Satu jam lagi ada jadwal meeting dengan perusahaan milik Michele. Jadi Aiden harus mempersiapkan semuanya. Termasuk tujuannya agar membuat perusahaan Michele perlahan bangkrut.
Aiden sudah bersiap berangkat meeting dengan Michele. Dan kali ini meetingnya diadakan di perusahaan Michele.
Beberapa saat kemudian Aiden sudah tiba di kantor Michele. Pria itu meminta asistemmya masuk ke ruang meeting terlebih dulu. Sedangkan ia akan menemui Michele ke ruang kerjanya hanya untuk menyapanya.
Saat Aiden masuk ke dalam ruangan Michele, ia berpapasan dengan Ken yang hendak keluar dari ruang kerja Michele. Melihat seragam kerja Ken, Aiden tahu kalau Ken adalah seorang OB. Tapi entah kenapa dia melihat aneh pada Ken, meskipun Ken hanya menundukkan kepalanya saat bertemu dengan Aiden. Apalagi Aiden melihat bekas luka di tangan sebelah kiri Ken.
“Ayo kita segera ke ruang meeting saja, Den!” Ajak Michele dengan sopan.
“Apa dia OB kamu, Chel?” tanya Aiden pada Michele. Dan yang dimaksud adalah Ken.
__ADS_1
“Iya. kenapa memangnya? Kamu mengenalnya?” Michele bertanya balik dan berusaha tenang.
“Oh.. tidak. Aku tidak mengenalnya. Kenapa dengan tangannya tadi? sepertinya dia habis terluka.” Tanya Aiden to do poin.
Michele jelas terkejut. Apakah Aiden mencurigai Ken. Lalu ia menghembuskan nafasnya dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan Aiden.
“Kamu ini perhatian sekali dengan OBku? Setahuku waktu Papa tanya, kalau luka itu dia dapat saat sedang memperbaiki atap rumahnya yang bocor. Aku juga tidak begitu peduli sih. Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Ya sudah ayo kita ke ruang meeting sekarang. Oh iya, sampaikan salamku pada Om Xander yang telah banyak membantuku selama ini. aku juga belum sempat berkunjung ke rumah kamu.” Ucap Aiden sambil berjalan keluar dari ruang kerja Michele.
“Iya, nanti aku sampaikan.” Jawab Michele.
Usai meeting, Michele meminta Ken masuk ke dalam ruangannya. Entah kenapa ia sangat khawatir sekali dengan Ken. Apalagi dengan pertanyaan Aiden tadi.
“Ken, aku benar-benar takut kalau Aiden berhasil menemukan kamu sebagai pelaku penusukan itu.”
“Percayalah padaku! semuanya akan baik-baik saja.” ucap Ken sambil menatap dalam mata Michele.
Cup
Ken mendaratkan bibirnya pada bibir Michele. Sebanranya pikiran Ken sedang kalut. Namun ia tidak menunjukkannya pada Michele. Dan dengan mencium bibir manis Michele berharap hatinya sedikit lebih tenang. Dan niatnya hanya mencum sekilas, ternyata justru Michele yang meminta lebih dari sekadar ciuman. Perempuan itu sepertinya sedang mengetahui isi hati Ken. Jadi Michele melu mat lembut bibir Ken untuk memberikan ketanangan.
Cklek
“Oh astaga!!!” pekik seorang perempuan yang baru saja masuk ke ruangan Michele tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
__ADS_1
Sontak saja Ken dan Michele sangat terkejut saat melihat Jessie sudah ada di ruangan itu sambil menutup matanya.
***
Weekend ini Ken mengajak Michele jalan-jalan ke sebuah taman yang sedikit jauh dari tempat tinggal Ken maupun Michele. Selain untuk mencari suasana baru, Ken juga sedang ada janji bersama Hiro.
Beberapa hari yang lalu Hiro mengirim pesan pada Ken. Pria itu ingin bertemu dengan Ken untuk membahas tentang Aiden. Memang Ken sudah berniat tidak ingin melanjutkan pekerjaan itu. dia hanya ingin berusaha mengulur waktu saja sampai Xander sendiri yang memberi pelajaran pada Aiden.
“Chel, sebenarnya aku juga sedang ada janji dengan seseorang. Kamu tidak perlu tahu tentang dia. Nanti saat dia datang, kamu tetap di sini saja, ya? Aku akan ngobrol sebentar di sana.” Ucap Ken sambil menunjuk tempat duduk tak jauh dari tempatnya sekarang.
“Baiklah. Jangan lama-lama, ya? Nanti aku diculik loh.” Jawab Michele dengan suara manjanya.
Ken hanya tersenyum gemas. Lalu ia mengacak rambut Michele.
Tak lama kemudian Ken sudah melihat kedatangan Hiro dari jauh. Michele pun ikut melempar pandangan ke arah pria yang sedang dilihat Ken saat ini. Hiro berjalan semakin dekat. Ken pun segera menghampirinya.
Tubuh Michele bergetar hebat saat melihat wajah Hiro. Dia segera memalingkan muka agar tidak dilihat oleh pria itu. Pria yang telah mengancamnya sekaligus penculik sahabatnya.
“Tidak. Tidak mungkin Ken berteman dengan pembunuh adiknya sendiri.” Gumam Michele lalu perlahan ia mencari tempat sembunyi agar tidak dilihat oleh Hiro.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️