Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 39 ~ Memberi Kesempatan


__ADS_3

“Cukup, Michele!!”


Mata Ken memerah menahan marah mendengar ucapan Michele baru saja. Memang tidak ada yang salah dengan kalimat kekasihnya itu. namun Ken teringat jelas dengan kematian adiknya, hingga tidak sadar sampai berbicara dengan nada tinggi pada Michele.


“Ma..maaf.” ucap Michele dengan suara bergetar menahan tangis. Dia benar-benar takut melihat aura Ken yang sangat berbeda dari biasanya.


Sedangkan Ken yang sadar dengan ucapannya yang sudah membentak Michele, dia segera menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Ken merasa sangat bersalah pada Michele. Bahkan dalam pelukannya, dia merasa Michele sedang terisak.


“Maafkan aku, Chel! Maafkan aku yang sudah membentakmu.” Ken mengusap kepala Michele agar perempuan itu tidak lagi menangis.


Michele yang sedang berada dalam pelukan Ken sebenarnya juga paham kalau pria itu tidak sengaja membentaknya. Mungkin ada sesuatu hal yang membuatnya ingat dengan kematian kedua orang tua dan adiknya.


Setelah tangis Michele mereda, perlahan Ken mulai mengendurkan dekapannya. Namun Michele masih betah berada dalam pelukan Ken.


Tatapan Ken lurus ke depan. Ke arah pantai yang disinari oleh cahaya rembulan malam ini. mungkin itulah gambaran yang tepat untuk dirinya saat ini. Semenjak kematian keluarganya, hidup Ken seperti malam. gelap. Karena hanya dipenuhi dendam pada sosok yang telah merenggut nyawa keluarga tercintanya. Dan adanya rembulan yang menyinari malam ini bisa digambarkan seperti Michele yang telah haadir dalam hidupnya.


“Papaku meninggal karena sebuah kecelakaan yang disengaja.” Ucap Ken dengan tatapan masih lurus ke depan. Mungkin lebih baik dia jujur pada Michele tentang kehidupannya dan juga jati dirinya yang sesungguhnya. Michele juga masih diam. Membiarkan Ken mencurahkan isi hatinya.


“Mungkin karena Papa adalah pengusaha yang hebat dan sangat cerdas, sehingga banyak memiliki musuh dan sampai akhirnya membuat Papa mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.”


Ken kembali mengingat kejadian itu. jujur saja masih sakit hatinya. Apalagi setelah itu disusul oleh kematian sang Mama dan juga adik perempuan satu-satunya. Ken menceritakan semua pada Michele tentang keluarganya. Terlebih dengan kematian Angel yang sangat tragis.


Sungguh Michele sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika Ken menyimpan beban seberat itu seorang diri dan bertahun-tahun. Ken juga mengaku pada Michele kalau demi mencari musuh Papanya ia sampai menjadi seorang pembunuh bayaran.


“Apa kamu tidak takut mempunyai kekasih seorang pembunuh?” tanya Ken sambil meraih kepala Michele agar bisa menatap matanya langsung.

__ADS_1


“Tidak. Aku sama sekali tidak takut. Aku sangat mencintaimu, Ken.” Jawab Michele dengan suara tegas.


Ken tersenyum kecut. Meskipun dia percaya dengan ucapan kekasihnya, namun dia tidak yakin kalau hubunhgannya akan bertahan lama. Karena sudah bisa dipastikan kalau kedua orang tua Michele akan menolaknya.


“Dan aku juga tahu kalau kematian Om Barrack ada campur tangan kamu. Dan orang yang tak sengaja aku temui malam itu adalah kamu.” Lanjut Michele dan membuat Ken hanya terkekeh.


“Benar saja kamu tahu siapa aku sebenarnya. Karena kamu sudah menguping pembicaraanku dengan Adel.”


“Eh?” Michele terbelalak. Bagaimana bisa Ken mengetahui dirinya yang sedang menguping pembicaraan Ken dengan seorang perempuan. Michele baru sadar kalau dia sedang berhadapan dengan pria yang pintar, cerdas, dan pastinya sangat cerdik.


“Aku melihat semuanya saat kamu menguntitku dan mencuri dengar pembicaraanku dengan Adel.” Lagi-lagi Ken berkata sambil tersenyum.


“Maaf. Karena kamu pria yang sangat misterius.” Ucap Michele akhirnya.


“Lalu, dengan kamu mengetahui siapa diriku sebenarnya, apa kamu benar-benar tidak menyesal?” Ken kembali menanyakannya.


Ken tidak menanggapi ucapan Michele. Karena mau bagaimanapun jika nanti menemukan pembunuh keluarganya, Ken tidak akan mudahnya menjebloskan ke penjara. Mereka tetap harus mendapat hukuman yang setimpal.


“Terima kasih.” Hanya itu yang dikatakan oleh Ken.


“Lalu siapa perempuan yang bernama Adel itu?” tanya Michele penasaran. Namun raut wajahnya cenderung murung.


“Hai Nona cantik! Apa kamu sedang cemburu?” tanya Ken dengan gemas, lalu menarik hidung Michele.


“Adel adalah asistenku. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Semenjak Om Rainer memilih pensiun, Adel lah yang menggantikan posisi Ayahnya sebagai asistenku. Dia yang selama ini merangkap sebagai asisten dan wakil presdir di perusahaanku yang berpusat di luar negeri.” Papar Ken panjang lebar.

__ADS_1


Michele sangat lega mendengarnya. Dan kini dia baru sadar kalau Ken adalah seorang pengusaha hebat. Bahkan jabatannya sama dengan dirinya.


“Lalu kenapa kamu memilih bekerja sebagai OB?” tanya Michele penasaran.


“Yakin kamu mau tahu apa alasanku menjadi OB?” Ken bertanya balik pada Michele dengan menatap dalam mata kekasihnya. Dan Michele menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Karena aku tahu kalau kita akan dipertemukan dan disatukan menjadi pasangan kekasih.” Jawab Ken dengan tersenyum. Namun bagi Michele jawaban itu sama sekali tidak membuatnya lega.


“Ternyata kamu pandai menggombal, Ken.” Michele mencebikkan bibirnya dan segera beranjak meninggalkan Ken yang masih terkekeh.


Grep


Ken menarik tangan Michele hingga perempuan itu yang sudah setengah berdiri jatuh terduduk di pangkuan Ken.


Kedua netra itu menatap dalam dan tanpa sadar jarak keduanya semakin terkikis. Tiupan angin pantai malam ini menjadikan suasana semakin syahdu. Ken mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Michele, lalu mendaratkan bibirnya dengan sempurna.


Beruntungnya di sekeliling mereka tidak terlihat orang-orang yang sedang berjalan-jalan. Seolah memberi kesempatan buat Ken agar semakin memperdalam ciumannya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


 


__ADS_2