
Saat ini Michele sedang berada di sebuah restaurant untuk makan siang. Dia sama sekali tida berselera makan lantaran sedang kesal dengan sikap Ken.
“Apa makanannya tidak enak?” tanya Noah yang sedang duduk di hadapan Michele.
Noah tadi sengaja datang ke kantor Michele karena disuruh oleh Papanya agar pdkt dengan Michele. Dan akhirnya mereka berdua ada di restaurant ini. meskipun Michele sama sekali tidak berminat makan siang ataupun jalan berdua dengan Noah.
“Kamu makan saja.” jawab Michele lalu menyodorkan piringnya ke hadapan Noah.
“Tapi aku sudah makan punyaku sendiri, Michele. Apa kamu menginginkan yang lain? Biar aku pesankan?” tanya Noah yang sudah menunjukkan keberaniannya berbicara sambil menatap Michele.
“Iya. aku ingin yang lain. Aku ingin pergi sekarang juga. terima kasih atas ajakannya.” Jawab Michele lalu meraih tasnya dan meninggalkan Noah yang masih memegang sendok dan garpu.
Michele memilih pulang ke rumahnya. Hari ini ia benar-benar tidak mood bekerja. Beruntungnya hari ini tidak ada meeting. Jadi ia bisa menyerahkan pekerjaannya pada Ivan.
Sementara itu Ken sejak tadi sengaja menunggu Michele kembali tapi sampai jam setengah dua siang perempuan itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Ken bahkan sampai meretas cctv di ruangan Michele, karena ia tidak bisa keluar masuk begitu saja tanpa ada perintah dari atasannya.
Ken melihat di meja kerja Michele tampak teh hijau buatannya tadi pagi masih utuh. Sepertinya Michele benar-benar sedang kesal padanya.
Hingga sampai sore hari Ken baru bisa masuk ke ruangan presdir untuk bersih-bersih. Ruangan itu juga masih kosong. Dan Ken tetap melanjutkan pekerjaannya.
Cklek
Ivan masuk ke dalam ruangan presdir sambil membawa beberap berkas penting untuk diletakkan di laci meja kerja Michele sesuai perintah perempuan itu.
Ivan melihat Ken yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu pun seperti memiliki kesempatan untuk mengintrogasi Ken mengenai hubungannya dengan Michele.
“Hei, Ian! Sebenarnya kamu itu siapa? Berani sekali kamu menjalin hubungan dengan presdir.” Ucap Ivan dengan suara yang tak ramah.
__ADS_1
Ken pun masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia memilih mengabaikan pertanyaan asisten kekasihnya.
“Atau kamu memang bukan OB sungguhan? Kamu sengaja mendekati presdir demi misi tertentu? Ck, lebih baik kamu urungkan niatmu itu sebelum kamu menyesal.” Lanjut Ivan.
Ken masih diam. justru ia seperti tidak menganggap keberadaan Ivan di ruangan itu. dan hal itu semakin membuat Ivan geram.
“Percuma ngomong sama patung. Meskipun aku pernah memergoki kalian sedang bermesraan, tapi aku tidak yakin kalau hubungan kalian bertahan lama. Selain Tuan Xander jelas menolakmu, Michele juga sudah mempunyai calon suami.” pungkas Ivan sengaja memancing emosi Ken. Setelah itu ia keluar dari ruangan presdir.
Setelah beberapa saat Ken sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun bersiap untuk pulang.
Ken masih memikirkan ucapan Ivan tadi kalau Michele sudah mempunyai calon suami. jelas saja Ken tidak mempercayainya. Namun siang tadi ia melihat sang kekasih sedang berjalan berdua dengan seorang pria. Hati Ken pun mendadak gelisah.
Hari ini Ken memilih pulang ke apartemennya. Ia memilih fokus mencari informasi tentang Hiro saja daripada memikirkan perasaannya.
Setelah mendengar pengakuan Michele kalau Hiro lah yang menculik adiknya, Ken langsung mencari informasi tentang Hiro. Tapi sayangnya tidak membuahkan hasil. Dan malam ini ia akan memulai pencariannya lagi.
Sementarai itu di waktu yang sama tampak Aiden sedang bertemu dengan seseorang di ruangan VVIP salah satu restaurant ternama di kota.
Pria yang ditemui Aiden itu adalah seorang detektif yang sengaja ia sewa untuk mencari pelaku penusukan terhadap dirinya tempo hari.
Memang Xander juga membantu mencarinya, namunsampai saat ini belum mendapatkan petunjuk. Aiden pun tidak tinggal diam. bahkan ia sedikit mencurigai Xander yang memang sengaja menutup kasus itu.
“Bagaiamana?” tanya Aiden pada seorang detektif yang sedang duduk di hadapannya.
“Berdasarkan noda darah yang melekat di kemeja Tuan, memang benar bukan darah anda saja. ada darah lain yaitu darah pria yang menusuk anda, Tuan.” Jawab detektif itu.
Aiden tersenyum sinis. Beruntungnya saat itu ia melarang Mamanya mencuci kemeja kotornya. Karena Aiden sangat yakin kalau pria yang menusuknya juga terluka dan darahnya pasti melekat di kemejanya.
__ADS_1
“Lalu, apa kamu sudah mengetahui siapa pemilik darah itu?” Aiden kembali bertanya.
Detektif itu tidak menjawabnya langsung. ia mengeluarkan laptopnya dan menujukkan sesuatu pada Aiden. Hasil sample darah pria yang menusuknya sudah dimasukkan ke data pencarian detektif itu. sebenarnya ia juga sudah mengidentifikasi siapa pemilik golongan darah itu dengan menujukkan rekam wajahnya langsung. karena di data tersebut tidak menunjukkan identitas yang jelas, hanya foto wajah saja. itu pun buram. Jadi detektif itu meminta Aiden agar mengenali sendiri wajah pria itu.
Klik
Aiden menajamkan penglihatannya. Ia berusaha keras mengenali wajah pria itu. memag sangat asing. Namun Aiden seperti pernah melihat pria itu.
“Ah, aku tahu siapa dia.” Ucap Aiden setelah mengingat sesuatu.
“Jadi pria itu hanya seorang OB. tapi sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Dia bukan OB sungguhan.” Gumam Aiden.
“Setelah ini cari informasi mengenai pria itu. aku akan mengirim data pribadinya nanti padamu.” Ucap Aiden dengan tersenyum sinis.
“Tamatlah riwayatmu setelah ini OB gadungan!” Gumam Aiden menyeringai.
.
.
.
*TBC
Bab-bab berikutnya mulai mendebarkan guys😂😂
Happy Reading‼️
__ADS_1