
Ken menyandarkan punggungnya pada kursi. Pria itu menghela nafasnya panjang. Mungkinkah benar yang diucapkan oleh Adel baru saja, bahwa dirinya adalah pria yang gagal move on.
Sudah tiga tahun ini Ken menyibukkan diri dengan perusahaan. Terlebih setelah kemunculannya di perusahaan yang membuat orang-orang tahu bahwa dirinyalah selama ini seorang presdir yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan karyawannya.
Tidak hanya itu saja, semenjak kemunculan Ken, ternyata satu per satu musuh juga bermunculan untuk mengahncurkan Ken. Jadi selama itu ia selalu dibuat sibuk. Lalu bagaimana dengan masalah perasaannya terhadap perempuan yang masih ada di hatinya? Jawabannya tetap sama. Ken masih menyimpan nama Michele dalam hatinya yang terdalam. Karena sampai kapanpun dia akan tetap mencintai perempuan itu. mungkin hanya masalah waktu saja yang bisa menjawab semua itu.
Ken membenarkan ucapan Xander kala itu. dan benar selama tiga tahun ini hidup Ken bisa dikatakan tidak aman. Lalu bagaimana jika saat itu Michele ada di sampingnya, pasti nyawanya juga dalam bahaya.
Tapi kini semua masalah sudah teratasi dengan baik. Ken akhir-akhir ini justru disibukkan dengan kerjasama dengan beberapa perusahaan. Dia baru ingat kalau sebulan yang lalu sudah sepakat menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan di negara kelahirannya dulu. Negara dimana ia juga bertemu dengan cinta sejatinya. Hanya saja berbeda kota dengan Michele.
Sebenarnya ingin sekali Ken mencari informasi mengenai Michele. Namun ia takut jika mendengar kabar buruk. Hatinya belum siap. Karena kemungkinan besar bisa dipastikan kalau Michele pasti sudah menikah dengan pria lain. Mengingat dirinya pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sementara Michele sudah dipastikan tidak bisa melacak keberadaannya. Karena ia masih memegang teguh ucapan Xander yang meminta dirinya untuk menutup semua informasi untuk Michele.
Ken mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia meneguk kopi hitam buatan Adel baru saja. kopi yang selalu mengingatkan dirinya dengan Michele. Karena perempuan itu dulu sangat suka sekali minum kopi hitam buatannya.
“Masihkah kamu suka meminum kopi hitam, Chel?” gumam Ken setelah meminum kopinya.
Sepertinya malam ini Ken akan pulang larut lagi. Selain memang harus secepatnya menyelesaikan pekerjaannya sebelum ditinggal pergi ke luar negeri, Ken biasanya akan menghabiskan waktunya pada rooftop perusahaan hanya sekedar menyapa sang pujaan hati lewat hembusan angin malam. mungkin terdengar konyol, namun nyatanya kegiatan yang sudah seringkali Ken lakukan itu bisa membuat hatinya sedikit lega.
Tak lama kemudian Ken membuka beberapa file yang berisi surat perjanjian kerjasama dengan peerusahaan yang akan ia kunjungi minggu depan. Ken memang tidak begitu detail membaca informasi tentang perusahaan itu. dia hanya melihat kalau perkembangan perusahaan itu dari tahun ke tahun semakin menunjukkan angka kenaikan yang signifikan.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, termasuk menyiapkan berkas-berkas untuk keberangkatannya ke Indonesia, Ken kini sudah menutup laptopnya. Lalu ia beranjak menuju rooftop Gedung perusahaan.
***
Malam ini Michele tengah berdiri di balkon kamarnya. Setelah makan malam bersama Mama dan Papanya, ia masuk ke kamar untuk beristirahat. Kebetulan Tristan ikut tidur bersama Oma dan Opanya. Michele memang sengaja memberi kesempatan untuk Mama dan Papanya melepas rindu pada cucu tercintanya.
Michele memegang kalung pemberian Ken dulu. Kemudian mengecupnya dengan dalam. Hatinya kembali rapuh jika mengingat wajah pria yang sudah lama hilang bagaikan ditelan bumi.
Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga lalu menyuarakan isi hatinya kalau ia sangat merindukan Ken. Sosok pria yang sampai saat ini masih ia tunggu kehadirannya.
Michele tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Tapi dia sangat yakin kalau Ken pasti masih mencintainya.
“Ken, tahukah kamu aku sangat merindukanmu. Hampir setiap hari selama kepergianmu, aku selalu merindukanmu.” Gumamnya sambil terisak lirih.
Ya, Tristan adalah anak Michele hasil hubungannya dengan sang kekasih, yaitu Ken. Padahal saat itu dirinya hampir saja menikah dengan Noah, namun setelah dinyatakan kalau dirinya hamil, keluarga Noah langsung membatalkan pernikahan itu. dan hal itu membuat Michele sangat lega karena batal menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai.
Sebelumnya Michele memang sengaja melakukan itu semua. Semenjak mendengar ucapan Papanya yang ingin menjauhkan dirinya dengan Ken, Michele pun terpaksa menggunakan cara itu. Bahkan sebelum dan sesudah berhubungan dengan Ken, ia selalu rajin minum obat penyubur kandungan. Setidaknya jika memang Ken benar-benar pergi akibat ulah Papanya, dengan adanya janin dalam kandungannya, sama artinya dia membawa separuh jiwa dan raga Ken.
**
Selama empat hari berkunjung, akhirnya hari ini Xander dan Silvia memutuskan untuk pulang. Silvia juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah, terlebih saat ini Celine sedang hamil dan tinggal serumah dengannya.
__ADS_1
“Titip salam sama Celine, Ma. Nanti kalau dia sudah lahiran, Michele janji akan pulang.”ucap Michele saat mengantar Mama dan Papanya ke bandara.
“Iya. dia sebenarnya ingin ikut, tapi dilarang sama suaminya. Mama juga tidak mengijinkannya.”
“Ya sudah, Papa dan Mama pulang dulu. Kalian baik-baik ya di sini. Opa akan datang kesini lagi nanti.” Ucap Xander lalu mnciumi pipi tembem Tristan.
Setelah mereka saling berpelukan, Silvia berjalan menggandeng tangan suaminya memasuki gate keberangkatan. Michele juga segera pulang bersama Tristan.
Sepuluh menit setelah Michele meninggalkan bandara, tampak seorang pria sedang berjalan sambil menenteng jas di tangannya. tak lupa sang asisten yang selalu menemaninya pergi kemana pun.
“Kita langsung ke hotel saja. besok saja baru berkunjung ke perusahaan itu.” ucapnya pada sang asisten.
“Tapi, Ken. Kita belum memberitahu pada mereka kalau meeting diajukan.” Protes Adel.
“Tidak perlu. Justru aku ingin memberi kejutan pada mereka. Besok saja sebelum pergi ke perusahaan itu, kamu beritahu mereka” Jawab Ken.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️