
Aiden segera dilarikan ke rumah sakit setelah mendapat luka tusukan di bagian perutnya. Sontak saja acara pesta ulang tahun perusahaan Aiden gagal total setelah terjadi insiden penusukan oleh orang tak dikenal.
Tania menangis histeris saat mendapati anaknya sedang terluka parah dan mengeeluarkan darah begitu banyak dari perutnya. Xander juga bergerak cepat mengejar pelaku penusukan itu dan diduga orang yang membunuh Barrack juga.
Nafas Xander terengah-engah setelah berlari keluar dari hotel. Ia sama sekali tidak menemukan jejak pelaku penusukan itu. Setelah itu ia berusaha mencari rekam jejak melalui kamera CCTV hotel dan sekitarnya. Namun sayangnya CCTV seluruh hotel sudah diretas oleh si pelaku. Dan yang paling membuat Xander heran, ia tidak bisa mencari rekaman itu meskipun sudah diretas. Mengingat bahwa dirinya sangat handal di bagian itu. jadi dapat disimpulkan bahwa pelaku tersebut bukanlah orang sembarangan.
Sekarang lebih baik Xander pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Aiden. Sedangkan suasana ballroom hotel sudah tampak sepi setelah orang suruhan Aiden membubarkan pesta itu.
Sedangkan di rumah sakit, Tania terus menangis di depan ruang operasi. Silvia sejak tadi juga selalu berada di samping Tania untuk menenangkan wanita itu.
***
Di waktu yang sama, tampak sepasang kekasih saling diam dalam mobil. Michele kini sudah bergeser tempat duduk dengan Ken. Jadi Ken lah yang memegang kemudi.
Pandangan Michele tertuju pada lengan kiri sang kekasih yang terkena luka goresan hingga mengeluarkan darah. Dia segera mengambil tisu dalam tasnya untuk menyumbat aliran darah itu agar tidak keluar lagi. sedangkan Ken hanya meliriknya sekilas tanpa berniat mengucapkan sesuatu.
#Flashback On
Tadi saat di pesta, Michele yang tengah mengambil hidangan makanan, ia melihat sekelebat bayangan orang yang memiliki postur tubuh mirip dengan Ken. Namun orang itu menghilang begitu cepat di tengah kerumunan orang-orang.
Michele teringat dengan kematian Barrack yang dilakukan oleh Ken. Ia pun bisa menduga kuat kalau orang yang dilihatnya tadi benar-benar Ken. Dan kali ini pasti sasarannya adalah Aiden atau Tania.
Michele tidak membiarkan itu terjadi. Meskipun Ken melakukannya atas dasar suruhan orang yang telah membayarnya, Michele harus tetap menghentikan perbuatan jahat Ken. Namun, saat Michele hendak melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Ken, tiba-tiba saja lampu ballroom padam. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan orang yang sedang kesakitan. Michele pun segera keluar dari ballroom yang jaraknya dekat dengan pintu keluar, dengan menggunakan pencahayaan dari lampu ponselnya.
__ADS_1
#Flashback Off
Ken menghentikan mobil Michele di basement apartemen. Setelah itu ia keluar begitu saja. sedangkan Michele mau tak mau harus mengikuti Ken masuk ke dalam unit apartemennya.
Cklek
Ken masuk unit apartemennya dengan diikuti Michele dari belakang. Setelah itu Ken melepas seluruh baju bagian atasnya dan mengambil sarung tangan dan pisau yang sudah ia lepas tadi setelah menusuk Aiden. Ken memasukkan baju dan sarung tangan kotor itu ke dalam kantong kresek.
“Dimana kotak obat kamu?” tanya Michele.
“Di laci lemari dekat televisi yang ada di ruang tengah.” Jawab Ken dengan menahan perih pada lengannya yang ternyata luka goresannya cukup dalam.
Tadi saat Ken berhasil menusukkan pisau ke perut Aiden, ternyata tangan Aiden dengan cepat memegang tangan Ken untuk menarik pisau yang tertancap di perutnya. Lalu dengan gerakan cepat Aiden menusukkan pisau itu pada Ken, namun sayangnya hanya menggores tangan Ken sebelah kiri.
“Kenapa kamu menolongku?” tanya Ken dengan suara datarnya.
“Harus berapa kali aku mengatakan padamu kalau aku sangat mencintaimu, Ken. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu, meskipun kamu seorang pembunuh berdarah dingin.” Jawab Michele dengan menatap tajam mata Ken.
“Sudah selesai. lebih baik kamu istirahat. Aku akan pulang.” ucap Michele dan segera berdiri untuk mengembalikan kotak obat ke tempatnya semula.
Ken pun berjalan mengikui Michele yang menuju ruang tengah. Pria itu segera memeluk Michele dari belakang. Entah kenapa sikap dingin Michele saat ini membuat Ken takut jika kekasihnya itu akan pergi meninggalkannya.
“Maafkan aku. aku berjanji akan berhenti dari pekerjaan ini setelah aku menemukan pembunuh keluargaku.” Ucap Ken dengan suara lirih.
__ADS_1
“Sampai kapan, Ken? Apakah kamu sudah menemukan petunjuk? Kalau sampai saat ini kamu belum menemukan petunjuk, tentunya masih ada banyak nyawa akan kamu renggut.” Tanya Michele.
Ken juga kesulitan menjawab pertanyaan kekasihnya itu. kemudian Ken menarik tangan Michele dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
“Duduklah!” Ken meminta Michele agar duduk di bibir ranjang. Tak lama kemudian Ken mengambil sebuah album foto yang berisi foto keluarganya.
Ken menunjukkan wajah kedua orang tuanya dan foto dirinya bersama Angel semasa kecil. Michele ikut sedih saat melihat kebersamaan Ken bersama keluarga semasa kecil dulu. Siapa yang tidak sakit hati jika keluarga yang selama ini memberikan kehangatan, harus meninggalkan Ken dalam waktu sekejap.
Setelah itu Ken membuka lembar demi lembar halaman album foto itu. hingga yang terakhir menampakkan foto Angel sebelum meninggal.
Michele menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena sangat terkejut. Perlahan badannya bergetar ketakutan saat melihat foto Angel.
“Chel, kamu kenapa?” tanya Ken ikut panik.
“Itu… dia… Ange…lica sahabatku waktu SMP.” Jawab Michele dengan suara terbata dan air mata yang mengalir semakin deras.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️