Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 68 ~ Masalah Hati


__ADS_3

Sudah seminggu ini Ken berada di kediamannya. Dan semenjak kepulangannya itu Ken masih betah menyendiri. Bahkan untuk urusan kantor saja dia mengabaikannya. Beruntungnya ada Adel dan Ayahnya yang menangani semua itu.


Padahal tujuan Ken tinggal di negara kelahirannya saat itu adalah ingin mencari pembunuh Papa dan adiknya. Namun, di saat pembunuh itu ditemukan dan ia berhasil membalas dendam, kenapa hatinya masih gelisah. Ternyata yang menyebabkan itu semua adalah Michele.


Ada rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Dan ada rasa bersalah yang begitu besar yang tak dapat ia sampaikan. Ken selalu memikirkan bagaimana hari-hari Michele saat ini setelah tak mendapatkan kabar darinya. Bahkan saat itu dirinyalah yang meminta wanita itu agar sabar menunggunya. Ingin sekali Ken kembali ke Indonesia dan melawan Xander, namun lagi-lagi ia teringat dengan ucapan pria itu.


Ken mengacak rambutnya dengan kasar. Baru kali ini ia merasakan frustasi hanya karena cinta. Dan dia juga baru tahu kalau cinta ternyata membawa dampak yang sangat luar biasa.


Tok tok tok


Ken mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Ia segera membukanya, ternyata Ibunya yang masuk dengan membawa nampan berisi makanan lengkap dan minumnya.


“Ayo makan dulu, kamu tadi pagi belum sarapan.” Ucap Amara, Ibu angkat Ken.


“Ibu nggak perlu repot-repot seperti ini. Ken bisa turun dan mengambil sendiri.” Sahut Ken merasa tak enak.


“Sudah, ayo buruan makan!” Amara tak mempedulikan ucapan Ken. Wanita itu segera meletakkan nampan di atas meja. Bahkan ia duduk di kursi menunggu Ken menghabiskan makanan yang ia bawakan baru saja.


Akhirnya mau tak mau Ken makan makanan yang sudah disiapkan oleh Ibunya. Amara hanya diam melihat Ken yang sedang menghabiskan makanannya. Wanita paruh baya itu seolah tahu apa yang sedang dialami oleh Ken. Meskipun Adel mengatakan kalau kakaknya itu baik-baik saja, tapi dia tidak percaya begitu saja. apalagi Amara tahu kalau Ken adalah sosok pria yang jarang menceritakan masalahnya.

__ADS_1


“Terima kasih, Bu!” ucap Ken setelah menghabiskan makanannya.


“Kamu ada masalah, Nak?” tanya Amara.


“Semenjak kepulanganmu seminggu yang lalu, Ibu merasa ada yang berbeda pada diri kamu. Ibu sudah mengenal kamu lama. Jadi kamu tidak bisa membohongi Ibu. Ayo ceritakan, apa yang menjadi beban dalam hati dan pikiranmu?” lanjutnya dengan menatap sendu putra angkatnya.


Ken menatap lurus ke depan. Dia memang tidak pernah menceritakan masalahnya pada Ibunya. Dan Ibunya akan lebih tahu lebih dulu tanpa ia bercerita. Dan sekarang, akankah ia menceritakan tentang Michele pada Ibunya.


“Ingat, Ken. Memang Ibu ini bukan ibu kandung kamu, tapi Ibu sudah menganggap kamu seperti anak kandung Ibu dan Ayah. Kamu jangan pernah merasa hidup sendirian di sini. ada kami yang menjadi tempat kamu mencurahkan segala kegelisahan yang sedang kamu alami.”


Ken mengangguk. Akhirnya ia menceritakan masalahnya. Lebih tepatnya masalah hati. Sebenarnya ia malu untuk bercerita masalah ini, karena memang di usianya yang sudah tiga puluh dua tahun, Ken sangat awam dengan yang namanya cinta. Tapi dengan bercerita dengan Ibunya, mungkin akan sedikit mengurangi rasa sedih yang tengah ia rasakan.


“Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Cinta memang tidak mempunyai alasan kenapa dia datang dan pergi. Namun dengan alasan karena tidak ingin membuat nasib Michele sama dengan mendiang Mama kamu, Ibu rasa itu bukan alasan yang logis. Tapi di satu sisi, seorang ayah memang tidak ingin melihat anaknya hidup menderita dengan berkaca pada masa lalu seseorang.” Ucap Amara setelah mendengar cerita dari Ken mengenai Michele.


“Ibu yakin kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh oleh Tuhan, pasti ada jalan yang mempertemukan kalian berdua. Tinggal kamu saja, sabar atau tidak menunggu waktu itu. untuk saat ini lebih baik kamu memperbaiki diri kamu dulu atau lebih tepatnya berusaha memantaskan diri untuk bisa bersanding dengannya. Walau dengan cara menuruti kemauan Papa Michele untuk pergi meninggalkannya. Ingatlah, meskipun raga tak bisa bertemu, hanya doa yang bisa menjawabnya.”


Ken memeluk Ibunya dengan erat. Hatinya sedikit lega seteah mencurahkan isi hatinya dan juga mendapatkan semangat untuk bangkit.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Ken sudah mulai pergi ke kantor. dan ini adalah pertama kali baginya datang langsung ke kantor dimana selama ini ia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di hadapan karyawannya.


Rainer sangat bahagia akhirnya Ken mau menunjukkan wajahnya sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai presdir di MGN Corp. bagitu juga dengan Adel. Sepertinya mulai sekarang ia akan bernafas lega setelah beberapa tahun merangkap dua jabatan sekaligus.


“Kenapa kamu sejak tadi senyum-senyum?” tanya Ken yang melihat aneh pada Adel.


“Nggak apa-apa. Hari ini aku mau minta ijin untuk tidur selama seharian, setelah itu aku minta cuti selama semibnggu untuk berlibur.” Jawab Adel yang saat ini sedang duduk di meja makan bersama Ken.


Pantas saja sejak tadi Ken melihat penampilan Adel masih menggunakan pakaian santai. Berbeda dengan dirinya yang sudah siap pergi ke kantor.


“Tidak! Tidak untuk sekarang. kamu tahu kan, ini hari pertamaku datang ke kantor. kamu harus tetap mendampingiku, Del.” Ken menolak pengajuan cuti Adel.


“Ish, kamu menyebalkan sekali Ken.” Gerutu Adel lalu ia segera masuk ke kamar dan berganti pakaian dengan setelan kerjanya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2