
Michele menurut saja walau ia tidak mengerti kenapa Ken membungkam mulutnya. Setelah Michele memberi kode dengan menganggukkan kepalanya, akhirnya Ken melepas tangannya yang sejak tadi membungkam mulut perempuan itu.
Setelah itu Ken berusaha mendengar apa yang dibicarakan oleh temannya itu dengan pria asing yang sama sekali tidak ia kenal. Michele juga ikut mendengarnya.
Kedua pria itu sepertinya sudah biasa melakukan pertemuan di saat kantor sudah sepi. Lalu pembicaraan mereka berdua ditangkap dengan jelas telinga oleh Ken dan Michele kalau mereka sedang bertransaksi obat-obatan terlarang. Michele mengepalkan kuat tangannya. ia hendak menghampiri pria itu tapi ditahan oleh Ken.
Michele menurut saja, walau ia belum tahu apa rencana Ken. Tak lama kemudian dua pria itu pergi meninggalkan basecamp melewati pintu belakang.
“Kurang ajarr! Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. aku akan memecatnya.” Ucap Michele penuh amarah.
Ken memberitahu Michele kalau salah satu pria tadi adalah orang yang masuk ke ruang kerja presdir tempo hari. Michele pun bertambah murka.
“Jangan asal pecat. Lebih baik cari bukti yang valid dulu.” Saran Ken pada Michele.
“Bukti yang seperti apa?” tanya Michele memancing Ken.
“Terserah kamu. Aku tidak tahu. Aku rasa kamu lebih pandai dari aku yang hanya seorang OB.” Jawab Ken sambil berlalu meninggalkan Michele.
Michele pun segera mengikuti langkah kaki Ken. Sepertinya memang sangat sulit untuk mencari tahu siapa sebenarnya Ken itu.
“Terima kasih, Ken telah memberaitahuku kejadian tadi. aku akan mencari bukti agar bisa menjebloskan pria itu ke kantor polisi.” Ucap Michele.
“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya kebetulan lihat saja tadi. ya sudah, ini sudah malam. lebih baik kamu segera pulang.” ucap Ken menghentikan langkahnya saat mereka sampai lobby.
Michele hanya mengangguk. Lalu ia segera berlari menuju basement untuk mengambil mobilnya. Sedangkan Ken berjalan keluar, karena seperti biasa ia akan pulang berjalan kaki.
__ADS_1
Ken tidak mengerti kalau Michele berlari untuk mengambil mobil agar bisa mengajak Ken pulang bersama. Tak jauh dari kantor, Michele menghentikan mobilnya tepat di samping Ken yang sedang berjalan.
“Ayo kita pulang bersama!” ajak Michele.
Ken terdiam sejenak. Ia tahu pasti Michele tidak menerima penolakannya. Akhirnya ia pun mau. Namun, Ken berjalan ke arah mobil Michele ke bagian sisi kemudi.
“Biar aku yang nyetir.” Ucap Ken lalu Michele menggeser badannya.
Kini mereka berdua sudah berada di mobil dengan Ken yang memegang kemudi. Michele tahu kalau jarak rumah Ken sangat dekat. Otomastis sebentar lagi ia akan sampai. Akhirnya Michele pun mencari cara agar bisa lebih lama lagi bersama Ken.
“Ken, tidakkah kamu keberatan untuk mengantarku membeli kue. Baru saja Mama mengirim pesan agar membelikan aku kue.” Ucap Michele.
“Baiklah. Kamu tunjukkan saja dimana toko kuenya.” Jawab Ken dengan tatapan lurus ke depan.
Michele hanya mengangguk. Ia tersenyum tipis karena berhasil membuat Ken percaya dengan ucapannya. Entah kenapa dia jadi seperti ini pada seorang pria. Ini juga baru pertama kalinya Michele dekat dengan pria seperti Ken. Sebelumnya ketika ia menjalin kasih dengan beberapa mantan kekasihnya, semuanya hanya memandang fisik. Maka dari itu hubungannya dengan sang kekasih sejak dulu tidak pernah bertahan lama. Dan penyebabnya karena mereka hanya menginginkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Ken menghentikan mobilnya tepat di depan toko kue. Michele pun segera turun dan meminta Ken agar tetap menunggunya di dalam.
Michele membeli kue kesukaan Mamanya. Lalu ia juga membeli brownies untuk dimakan bersama Ken nanti. Setelah menyelesaikan pembayarannya, Michele segera masuk ke dalam mobil.
Ken melajukan mobil Michele ke rumah kontrakannya. Sesampainya di sana, ia mengucapkan terima kasih pada Michele atas tumpangannya. Namun ia bingung saat melihat Michele malah ikut turun.
“Apa aku nggak boleh mampir ke rumah kamu, Ken? Aku tadi membeli brownies untuk kita makan bersama.” Ucap Michele dengan tatapan memohon.
“Bukannya kamu beli kue untuk Mama kamu? Kamu harus segera pulang.” tolak Ken secara halus.
__ADS_1
“Iya. Gampang lah itu. aku hanya ingin makan kue bersama kamu. Ya, anggap saja sebagai rasa ucapan terima kasihku padamu karena telah memberitahu tentang kejahatan OB tadi.”
Ken pun tidak punya alasan lagi untuk menolak. Akhirnya ia mempersilakan Michele untuk masuk ke rumahnya.
Michele memasuki rumah kontrakan Ken yang berukuran kecil itu. namun menurut Michele rumah Ken sangat bersih dan dia merasa nyaman di sana.
“Maaf, kalau rumahku sangat kecil.” Ucap Ken mempersilakan Michele duduk di ruang tengah sekaligus ruang tamu.
“Nggak masalah, Ken.” Jawab Michele dengan mata menelisik sekitar ruangan.
Rumah Ken sangat bersih. Termasuk dinding ruang tengah sama sekali tidak ada apa-apanya. Bahkan foto atau lukisan saja tidak ada.
Ken masuk ke dapur membuat minuman untuk Michele. Setelah itu membawanya ke ruang tengah dimana Michele berada.
Tampak Michele mengipaskan tangannya seperti sedang kepanasan. Karena memang di rumah Ken tidak ada AC. Hanya kipas angin saja.
“Maaf, di sini tidak ada AC. Apa kamu tidak apa-apa jika pakai kipas angin?” tanya Ken merasa tidak enak.
“Hmm, nggak apa-apa.” Jawab Michele sedikit ragu. Pasalnya dia juga tidak pernah pakai kipas angin.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️