
“Jangan seperti ini, Bi!” ucap Aiden seraya mengurai pelukannya.
Ada rasa bersalah dalam hati Aiden terhadap istrinya. Namun ia belum siap melihat istrinya yang kemungkinan besar tengah melihat semua kejadian ini.
“Maaf. Aku sangat merindukanmu.” Ucap wanita yang bernama Bianca itu.
Aiden tak menanggapi permintaan maaf Bianca. Ia segera melangkah mendekati sang istri yang masih mematung di samping Mamanya. Bahkan Bianca juga mengikuti Aiden, dan menyapa Tania.
“Tante Tania!” mata Bianca berbinar saat melihat Tania. Kemudian Bianca segera memeluk Tania.
Celine benar-benar tidak kuat berada dalam situasi seperti ini. perlahan ia menjauhkan tubuhnya dari interaksi mama mertuanya dan wanita yang dia sendiri tidak tahu namanya. Namun kemungkinan besar Celine menduga kalau mertuanya juga mengenal baik pada Bianca.
Celine melangkah keluar dari rumah mertuanya, namun buru-buru Aiden mencegahnya.
“Lepaskan!” ucap Celine dengan nada tegas sambil menahan kuat air matanya agar tidak terjatuh.
“Sayang, kumohon dengarkan dulu penjelasanku!” bujuk Aiden sambil mencekal lengan istrinya.
Wajah Celine sudah terlihat sangat murka. Ingin sekali ia menampar wajah suaminya, namun ada mertuanya. Bahkan dadanya sudah bergemuruh ingin meluapkan amarahnya saat ini juga.
“Aiden, kamu mau kemana? Aku jauh-jauh datang ke sini untuk menagih janji kamu loh.” Ucap Bianca tanpa beban dan menghampiri kekasihnya itu.
__ADS_1
Tania segera mengambil jalan tengah. Ia kini yang bertugas membujuk menantunya lalu mengajaknya masuk ke rumah. wanita paruh baya itu juga terkejut dengan kedatangan Bianca. Wanita yang beberapa tahun silam pernah dikenalkan oleh Aiden sebagai kekasihnya. Memang saat itu Bianca menurutnya perempuan baik-baik. Dan setelah itu Tania juga tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan hubungan anaknya dengan Bianca. Apalagi Aiden sudah resmi menikahi Celine, yang pastinya status anaknya sedang tidak memiliki kekasih.
Akhirnya Celine berhasil dibujuk oleh Tania. Dan saat ini mereka berempat tengah duduk di ruang tamu. Celine duduk di sampping Tania. Sedangkan Aiden duduk terpisah dengan Bianca.
Bianca sejak tadi juga bingung dengan situasi seeperti sekarang ini. apalagi melihat keberadaan wanita hamil di rumah Aiden. Dia pun segera menepis pikiran buruk itu.
“Bi, kenalkan dia Celine. Istriku.” ucap Aiden setelah beberapa saat diam.
Ternyata benar apa yang sejak tadi dipikirkan oleh Bianca. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. ia merasa dihianati oleh Aiden yang selama ini terpaksa ia tinggalkan sementara demi menjalani karirnya. Dan setelah kontraknya habis ingin menagih janji pada sang kekasih untuk menikahinya, ternyata ia mendapatkan kenyataan yang sangat pahit.
“Tega kamu melakukan ini semua padaku, Aiden! Kamu dulu yang bilang sendiri kalau akan menungguku sampai kontrak kerjaku selesai. lalu apa ini?” ucap Bianca berapi-api.
Plakkk
Bianca mendekati Aiden dan menamparnya dengan keras. Ia tidak terima dengan jawaban Aiden seperti itu. walau kenyataannya memang kedua orang tuanya sejak dulu tidak suka dengan Aiden.
“Apa kamu tahu setelah kepergianku dari negara ini dan melanjutkan karirku, aku hamil. Aku hamil anak kamu, Aiden! Dan terpaksa aku mengguurkannya demi karirku juga dan berharap kamu bisa menerima semua itu.” ucap Bianca.
Wanita itu menangis tersedu. Dia ingat benar bagaimana sakitnya saat melakukan aborsi dari hubungannya bersama laki-laki yang sangat dia cintai. Bianca saat itu juga hampir down karena sama sekali tidak bisa menghubungi Aiden. Hingga sampai lima tahun kontrkanya selesai tak juga mendapat kabar tentang Aiden.
Aiden jelas terkejut mendengar pengakuan Bianca. Pria itu tidak menyangka kalau hubungannya dengan sang kekasih dulu sampai membuahkan hasil.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan dua wanita yang juga berada di ruangan itu, yang sejak tadi menjadi penonton setia drama Aiden dan Bianca. Tania jelas saja sangat terkejut. Begitu juga dengan Celine. Bibirnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya mengalir begitu saja tanpa diminta.
***
Saat ini Celine tengah tidur meringkuk dalam balutan selimut tebal. Malam ini ia memilih tidur di kamar tamu daripada di kamar yang sama dengan suaminya. Celine memilih untuk tidak peduli dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Semua itu ia lakukan demi janin dalam kandungannya. Dia tidak ingin anaknya kenapa-napa.
Tapi, seberapa keras ia mencoba melupakan kejadian tadi, tetap saja wanita itu masih memikirkan ucapan Bianca sebelum pergi meninggalkan rumah. wanita itu tetap meminta pertanggungjawaban suaminya, walau janin yang sempat singgah di rahimnya sudah ia gugurkan.
Air mata Celine kembali mengalir. Haruskah ia merelakan sang suami dengan wanita lain.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1