Belenggu Cinta Office Boy

Belenggu Cinta Office Boy
Bab 78 ~ Menyinggung Masa Lalu


__ADS_3

Minggu depan pesta pernikahan Ken dan Michele akan digelar. Setelah melewati kesepakatan bersama, akhirnya pernikahan itu diselenggarakan dengan sangat mewah di sebuah hotel berbintang. Semua persiapan pesta sudah hampir seratus persen.


Hari ini Ken akan menjemput kedua orang tua angkatnya yang baru datang dari luar negeri. Rainer dan Amara sangat senang mendengar kabar pernikahan Ken. Akhirnya anak angkatnya itu menikah dengan wanita yang dicintainya. Ya, meskipun di usia Ken yang sudah tidak muda lagi.


Rainer dan Amara juga terkejut bahwa Ken sudah memiliki anak dengan kekasihnya itu. meskipun sebenarnya mereka tidak suka cara Ken memiliki anak di luar nikah, namun tetap saja Rainer menyetujui hubungan Ken dengan Michele.


“Ayah, Ibu!” Ken memeluk kedua orang tua angkatnya saat baru saja sampai di gate kedatangan.


Amara menitikan air matanya haru saat melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari mata Ken. Pasalnya wanita paruh baya itu selama ini yang paling tahu isi hati Ken yang selama tiga tahun tersiksa menahan rindu pada sang kekasih.


“Kemana Adel?” tanya Rainer saat tak melihat anak perempuannya bersama Ken.


“Dia sedang sibuk. Tadi sudah berpesan kalau tidak bisa ikut menjemput Ayah dan Ibu.” Jawab Ken lalu membantu membawa koper Ibunya.


“Dasar anak bandel! Sudah tahu orang tuanya datang malah lebih mementingkan pekerjaan.” Gerutu Rainer.


“Adel seperti itu karena ia bekerja pada seorang bos yang sangat otoriter terhadap anak buahnya.” Sahut Amara sekaligus menyindir Ken.


“Nggak perlu sindir menyindir. Langsung saja tembak pada sasarannya.” Sahut Ken dengan tenang lalu membukakan pintu mobil untuk kedua orang tuanya.


Ken membawa kedua orang tua angkatnya untuk tinggal sementara di rumah orang tua kandung Ken yang telah lama tidak ditempati. Beberapa hari yang lalu Ken juga sudah tinggal di sana sekaligus meminta orang untuk membersihkannya.


Jika ditanya apakah Ken sudah mengikhlaskan kepergian kedua orang tua beserta adiknya? Tentu saja sudah. Dia sudah tidak lagi memikirkan kematian mereka, walau sebenarnya yang membunuhnya juga sudah mati. Namun doa Ken tak pernah surut untuk kedua orang tuanya dan Angel di alam sana.


“Ayah dan Ibu lebih baik istirahat dulu! Ada pembantu jika Ibu membutuhkan sesuatu.” Ucap Ken.

__ADS_1


“Memangnya kamu mau kemana, Ken?”


“Ken akan mengajak Michele dan Tristan kesini dan memperkenalkannya pada Ayah dan Ibu.” Jawab Ken lalu ia segera pergi.


***


Saat ini Ken sudah berada di rumah calon mertuanya. Ia hendak mengajak Michele dan Tristan menemui orang tuanya, namun sayangnya tiba-tiba badan Tristan panas. Bahkan anak itu sejak tadi menangis mencari Papanya.


“Apa kamu sudah membawanya ke dokter?” tanya Ken sambil menggendong Tristan. Badan anak itu memang terasa hangat.


“Tidak. Aku masih memberinya obat penurun panas dulu.” Jawab Michele dengan tenang.


Tanpa mengucapkan sesuatu Ken membawa Tristan keluar dari kamar. dia segera membawa Tristan ke rumah sakit untuk berobat. Michele pun terpaksa mengikuti Ken, walau ia tidak tahu kemana Tristan akan dibawa pergi.


“Ken, Tristan sedang sakit. Kamu mau bawa kemana?” tanya Michele saat Ken hendak membuka pintu mobil.


“Tapi Tristan hanya demam biasa. Aku baru saja memberinya obat,-“


“Cukup! Aku akan membawanya ke dokter sendiri.” Potong Ken lalu ia segera masuk ke mobil.


Michele menghela nafsanya pelan. Mau tidak mau ia harus ikut Ken untuk memeriksakan Tristan.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Tristan yang semula didudukkan di samping kemudi, kini sudah berada dalam pangkuan Michele. Mereka berdua sama-sama diam. hanya terdengar suara rintihan Tristan saja.


Ternyata Ken membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sakit. Michele hanya menggeleng pelan, karena menurutnya Ken terlalu berlebihan.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Ken mengambil Tristan dari gendongan Michele dan membawanya masuk menuju ruang IGD.


Setelah diperiksa beberapa menit oleh dokter, Tristan hanya demam biasa. Dan tidak perlu dirawat inap. Dokter hanya meresepkan obat penurun panas beserta antibiotic. Setelah itu Tristan diperbolehkan pulang.


Ken merebahkan Tristan di jog belakang agar anak itu bisa tidur dengan leluasa. Setelah itu ia mengemudikan mobil menuju rumahnya.


Sejak tadi Michele masih diam dan tidak banyak bertanya setelah mendengar langsung penjelasan dokter tentang keadaan Tristan.


“Maafkan aku.” ucap Ken dengan tatapan masih lurus ke depan.


“Ya, aku tahu kamu pasti mengkhawatirkan keadaan Tristan. Aku tahu kamu peduli dengannya. Tapi perlu kamu tahu kalau aku adalah Mamanya yang pastinya sudah tahu cara menanganinya. Aku bukan sehari dua hari menjadi seorang ibu. Dan aku sudah biasa mengalami hal seperti ini.” Jawab Michele.


Tiba-tiba saja Ken menepikan mobilnya setelah mendengar ucapan Michele baru saja. memang dirinya sangat khawatir dengan keadaan Tristan seperti tadi. tapi setelah mendengar kalimat terakhir Michele membuat hatinya sakit. Kenapa seolah Michele menyudutkannya.


“Iya. semuanya memang salahku. Kamu yang sudah mengandung Tristan dan merawatnya seorang diri. Aku memang bukan sosok ayah yang baik. Yang harusnya tahu tentang keadaan seperti tadi.”


Michele mendadak speechless. Kenapa jadi seperti ini. niat hati ingin memberitahu pada Ken, kenapa jadi seperti menyalahkan Ken.


“Sudah, sudah Ken! Jangan diperpanjang lagi. Ok, aku senang kamu sangat perhatian dan peduli pada Tristan. Maaf aku tidak bermaksud menyinggung masa lalu kita.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2