
Mobil Michele juga masih berhenti di depan gerbang kompleks perumahan itu. tak lama kemudian ada seorang satpam datang menghampiri dan bertanya pada Michele.
“Oh, saya hanya mencari alamat rumah teman saya. dan sepertinya dia salah memberikan alamat. Mungkin nanti saya akan meneleponnya saja.” jawab Michele.
“Oh ya sudah kalau begitu.” Ucap satpam.
Karena dia tidak ingin berurusan dengan satpam itu, yang justru akan dicurigai, akhirnya Michele memutuskan untuk pergi dari kawasan perumahan itu.
Michele kembali melajukan mobilnya menuju rumah yang tinggal beberapa menit lagi. sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamar, karena badannya sangat lelah.
Michele mengganti bajunya dengan baju tidur. Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya terlebih dulu sebelum tidur. Perempuan itu melihat paantulan wajahnya dari cermin yang ada di kamar mandi. Michele melihat kalung pemberian Ken. Kalung sederhana berliontin bentuk hati itu menurut Michele sangat bagus. Dia sangat senang mengenakan kalung itu. lebih tepatnya senang pada seseorang yang memberinya.
Setelah cukup lama berdiam diri di kamar mandi, Michele pun segera keluar dan ingin tidur secepatnya. Namun sebelumnya ia mengecek ponselnya dulu. Dia melihat pesan yang dikirim pada Ken tadi sampai saat ini masih belum terkirim, karena ponsel Ken masih dalam keadaan tidak aktif.
“Besok sajalah aku tanyakan. Lagi pula besok juga aku bertemu dengannya.” Gumam Michele lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
***
Sementara itu saat ini seorang pria paruh baya sedang duduk di ruang kerjanya. Pria itu menyalakan laptopnya. Ia ingin membuka rekaman suara melalui alat penyadap yang sudah ia pasang di ruang kerja teman sekaligus rekan bisnisnya.
Barrack mengerutkan keningnya saat hendak memutar rekaman yang berhasil ditangkap oleh alat penyadap suara itu. karena di sana sama sekali tidak ada rekaman apa pun. Dia sangat yakin kalau saat itu sudah mengaktifkannya.
Saat Barrack mengotak-atik laptopnya untuk mengecek kembali alat penyadap suara itu, tiba-tiba ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Barrack menoleh, lalu orang itu segera membungkam mulut Barrack hingga dalam waktu beberapa detik tubuh Barrack seketika lemas. Pria yang memakai penutup kepala dan menggunakan sarung tangan itu merebahkan tubuh Barrack di kursi kerjanya. Setelah itu ia keluar dari ruangan Barrack tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
***
__ADS_1
Keesokan paginya Michele sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Dan hari ini ia akan menempati ruangan presdir dimana sebelumnya ruangan itu ditempati oleh Papanya. Sementara tugas Xander di kantor sudah tidak begitu padat. Ia sudah menyerahkan semuanya pada Michele, walau sesekali juga akan ikut campur menangani perusahaan.
Saat ini Michele sedang duduk di meja makan untuk sarapan bersama Mamanya. Papanya masih belum turun. Sepertinya hari ini juga Xander akan datang ke kantor lebih siang.
“Papa mana nih, Ma? Michele sudah lapar sekali.” Ucap Michele.
Sebenarnya Michele belum begitu lapar. Dia hanya ingin segera pergi ke kantor untuk bertemu dengan Ken. Entahlah sejak semalam dia sangat merindukan pria itu semenjak ponsel Ken tidak aktif. Bahkan sampai sekarang.
“Masih di kamar. Papa bilang akan datang ke kantor agak siangan, karena Mama dan Papa akan pergi ke Villa Om Sean dulu. Nah, itu yang ditunggu muncul juga.” jawab Silvia lalu menunjuk Xander yang baru saja menuruni tangga.
“Sayang, kita tunda dulu ke Villa Sean. Oh iya, Chel, Papa hari ini tidak datang ke kantor. Baru saja Papa mendapat kabar kalau Om Barrack meninggal dunia.” Ucap Xander dengan raut wajah sedih.
Silvia dan Michele pun sama terkejutnya. Namun entahlah apa yang saat ini sedang dalam pikiran Michele. Apa dia harus senang dengan kabar ini. mengingat Barrack mempunyai niat buruk terhadap Papanya.
“Papa juga belum tahu jelas kabarnya. Saat ini juga suasana rumahnya masih ramai kedatangan polisi untuk menyelidiki kasus kematian Om Barrack. Setelah ini Papa dan Mama akan datang ke sana. Kamu nanti datanglah saat jam makan siang saja.” ucap Xander.
Michele hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia segera menikmati sarapannya bersama kedua orang tuanya.
**
Kini Michele sudah berada di kantor. Lebih tepatnya sudah duduk di ruangan presdir. Michele menelisik ruangannya yang sudah tampak bersih. Dan pastinya Ken sudah membersihkan ruangan itu sejak tadi pagi.
Tak lama kemudian Michele meraih gagang telepon untuk menghubungi Ken agar membuatkannya teh hijau. Mendengar suara pria itu saja membuat jantung Michele berdegup kencang.
Cklek
__ADS_1
“Selamat pagi! ini tehnya.” Ucap Ken dengan sopan.
Michele melihat Ken tidak seperti biasanya. Pagi ini tampak ada yang berbeda dengan OBnya itu.
“Kenapa ponsel kamu tidak aktif? Kemana saja kamu semalam?” tanya Michele.
“Maaf, semalam aku pulang lebih dulu, karena badanku sangat lelah. Ponselku juga kehabisan daya.” Jawab Ken dengan suara datar.
Ken sendiri masih mengingat jelas dengan sosok pria yang memeluk dan memberi kado pada Michele semalam. Ia sudah bersikap biasa saja, namun nyatanya sangat sulit.
“Om Barrack meninggal, Ken.” Ucap Michele memberitahu.
“Aku turut berduka. Maaf aku permisi dulu.” Ucap Ken lalu ia segera keluar dari ruangan Michele.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1