
Sudah lima hari terhitung setelah pertemuannya dengan Ken. Michele berusaha kuat menahan rindunya pada sang kekasih. Pasalnya setelah pertemuan terakhirnya tempo hari, Ken berpamitan pada Michele akan pergi menemui Hiro sekaligus menuntaskan masalahnya dengan pria itu.
Michele pun sudah kembali lagi ke kanto. Menjadi presdir di perusahaan Papanya. Dan semenjak kepergian Ken, Michele tidak lagi mengambil OB khusus. Biar OB lainnya saja yang mengerjakan semua itu, khususnya membersihkan ruangannya. Sedangkan untuk keperluan pribadi, seperti menyiapkan minuman, Michele memilih akan membuat sendiri ke pantry.
Michele berubah seratus delapan puluh derajat semenjak kepergian Ken. Bahkan sikapnya sekarang cenderung dingin dan tak banyak bicara. Dengan Papanya juga dia akan bicara seperlunya saja. tidak akan manja lagi pada Mamanya. Dia masih teringat dengan ucapan Papanya saat memarahi Mamanya karena telah memanjakan dirinya sejak dulu. Oleh karena itu Michele memilih merubah gaya hidupnya.
Sudah seminggu ini Michele lebih suka menghabiskan waktunya di luar rumah daripada bersama keluarga. Namun pergaulannya masih tergolong wajar. Karena hanya dengan Jessie dia akan keluar. Terkadang ia juga menginap di apartemen sahabatnya itu.
***
Saat ini Silvia sedang duduk seorang diri di balkon kamarnya. Setelah makan malam bersama suaminya, ia berpamitan masuk ke kamar terkebih dulu. Sedangkan Xander masuk ke ruang kerjanya.
Mempunyai dua anak perempuan yang seharusnya bisa menjadi teman Mamanya, ternyata itu hanya harapan semata bagi Silvia. Meskipun kedua anaknya belum menikah, rasanya dia seperti hidup sendirian.
Cklek
Terdengar suara seseorang membuka pintu kamar. dan orang itu adalah Xander. Pria itu mencari keberadaan istrinya, ternyata sedang berada di balkon.
“Kamu bilang akan pergi tidur, tapi kenapa masih disini?” tanya Xander ikut duduk di samping istrinya.
“Cari angin segar saja.” jawab Silvia dengan tatapan lurus ke depan.
“Besok pagi aku akan pergi ke luar kota untuk memantau perkembangan proyek-“
“Pergilah! Tidak perlu kamu bilang ke aku. aku sudah terbiasa sendirian. Bahkan kini kedua putriku memilih menjalani hidupnya sendiri dan tidak mau lagi dekat dengan Mamanya yang sudah tua ini.” Silvia tidak kuat lagi menahan kesedihannya. Dia sangat merindukan keharmonisan keluarganya. Berkumpul bersama anak-anaknya seperti dulu.
“Sayang, kamu ini bicara apa? Aku tidak berniat membiarkanmu sendirian. Semua ini karena memang urusan penting mengenai perusahaan.” Sahut Xander dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
“Semua ini terjadi karena keegoisan kamu. Bahkan Celine pun memilih tinggal bersama Kak Hadiata karena tidak tahan hidup di bawah tekanan kamu. Sekarang Michele yang kamu buat tidak betah tinggal di rumah. sebenarnya apa maumu, Xander?” tiba-tiba Silvia berbicara dengan suara tegas. Wanita itu langsung berdiri meninggalkan suaminya yang masih diam mematung.
***
Sementara itu di sebuah kota kecil, lebih tepatnya di sebuah Bar, tampak seorang pria paruh baya tengah menenggak minuman berlakohol. Pria itu sudah mabuk berat, namun masih saja meminta bartender menuangkan minuman.
Sementara seorang pria yang sejak tadi duduk di sampingnya membiarkan pria itu mabuk. Dia sama sekali tidak ingin minum. Hanya mendampingi bosnya saja.
“Ayolah, Ken! Ini enak sekali. Coba saja sedikit, nanti lama-lama kamu akan ketagihan.” Ucap Hiro dengan mata yang hampir terpejam.
Ken hanya diam. dia sebenarnya ingin tahu apa alasan Hiro mengajaknya pergi ke Bar. Ken seolah tahu kalau pria yang telah lama menjadi bosnya itu sedang mempunyai masalah.
“Kamu tahu, nggak kalau dengan kita meminum minuman ini, semua beban kita akan lebih ringan. Hahahaha…” lanjut Hiro.
“Memangnya kamu punya beban apa?” tanya Ken ingin tahu.
Ken segera menahannya dan mengajak Hiro keluar dari Bar itu. lalu Ken membawanya pulang ke rumah Hiro yang tak jauh dari Bar.
Sesampainya di rumah Hiro, Ken kembali mengorek informasi mengenai kekesalan Hiro. Meskipun pria itu hampir saja menutup matanya.
“Coba katakan padaku, siapa orang yang membuatmu kesal? Biar aku bunuh sekarang juga.” pancing Ken.
Hiro jelas mendengar ucapan Ken. Pria itu berusaha membuka lebar matanya dan menatap tajam Ken.
“Kamu jangan macam-macam! Meskipun dia membuatku kesal, tapi dia lah yang menggaji kita.” Jawab Hiro lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.
Kini Ken paham. Ternyata memang ada orang lain yang menjadi dalang dari pembunuhan yang sering ia lakukan atas perintah Hiro.
__ADS_1
“Dia marah-marah padaku karena gagal membunuh Aiden. Dan sekarang malah memberiku tugas berat lagi. huhhh dasar pria arogan!!”
“Tugas berat apa? Katakan padaku, biar aku yang membantumu.” Ken terus saja memancing Hiro.
“Dia menyuruhku mencari anak musuhnya yang telah ia bunuh beberapa tahun lalu. Memangnya semudah itu apa mencarinya. Memang kamu bisa membantuku, Ken? Ahh, pekerjaan kamu menghabisi Aiden saja mash belum terlaksana. Bodohh!!”
Ken tidak terima dikatakan bodoh oleh Hiro. Namun ia berusaha sabar, karena saat ini ia sedang menghadapi orang yang sedang mabuk.
“Aku janji akan membantumu.” Jawab Ken dengan mantap.
“Ya.. ya… ya.. aku percaya denganmu.” Jawab Hiro dengan suara semakin lirih. Namun Ken berusaha menahan agar pria itu tidak tumbang terlebih dulu sebelum mendapatkan informasi penting lainnya.
“Cepat katakan sekarang juga, aku akan mencari anak dari musuh temanmu itu.”
“Keluarganya sudah mati semua. Apalagi anaknya yang dulu sempat aku culik untuk diambil organ tubuhnya. Tapi sebelum itu aku menikmati tubuhnya, hahahaha.”
“Cepat katakan, siapa dia. Aku akan mencarinya sekarang juga.” Ken menahan sesak di dadanya setelah mendengar pengakuan Hiro yang sepertinya tertuju pada Angel.
“Cari anak seorang pria bernama Ma…ga..na” jawab Hiro sebelum akhirnya ia ambruk ke sofa.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️