
Michele menatap nanar punggung Papanya. Dia benar-benar kecewa dengan sikap Papanya. Baru kali ini Michele menjalin hubungan serius dan sangat mencintai pria itu, namun sayangnya ditentang oleh Papanya.
*
Hari ini jelas Michele tidak pergi ke kantor. Suasana hatinya masih tidak baik. Michele sangat khawatir dengan keadaan Ken saat ini. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu pasti Papanya menutup semua akses tentang Ken. Apalagi Papanya sudah memastikan kalau Ken sudah pergi dari negara ini.
Michele duduk di kursi balkon kamarnya. Dia tidak menyangka kalau hubungannya dengan kekasihnya akan seperti ini jadinya. Kemudian tangan Michele terulur meraih kalung pemberian Ken dan juga cincin lamarannya.
Michele tersenyum perih melihat barang berharga pemberian kekasihnya. Mungkinkah saat itu Ken sudah mempunyai firasat buruk tentang hubungannya. Maka dari Ken memilih mengikatnya sebelum hal buruk itu benar-benar terjadi.
“Ken, aku akan tetap menantimu. Aku akan selalau menjaga cinta ini.” gumam Michele dengan air mata mengalir dari pelupuk matanya.
Tok tok tok
Michele segera memasukkan kalungnya, menutupinya dengan baju agar tidak terlihat oleh siapapun. Lalu ia membukakan pintu kamar untuk seseorang yang mengetuknya.
“Mama…” Michele melihat Mamanya membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih.
“Ayo masuk. Kamu harus makan.” Ucap Silvia.
Michele bisa melihat raut kesedihan Mamanya. Dia tahu kalau Mamanya juga pasti kecewa dengannya. Bahkan akibat ulahnya, Mama dan Papanya sampai bertengkar.
“Makanlah dulu, setelah ini Mama ingin bicara denganmu.” Ucap Silvia dan diangguki oleh Michele.
Meskipun tidak berselera makan, namun Michele tetap memaksa makanan itu untuk masuk mengisi perutnya yang kosong. Bagaimana pun juga ia membutuhkan tenaga untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
“Apa benar yang kamu katakan tentang Om Barrack dan Aiden?” tanya Silvia.
__ADS_1
Rupanya Silvia tadi mendengar perdebatan antara suami dan anaknya. Silvia mendengar semuanya dengan jelas. Entahlah, dia akan percaya atau tidak, akan memberi restu pada hubungan Michele dan Ken atau tidak.
“Benar, Ma.” Jawab Michele.
“Sebenarnya Om Barrack sudah lama mempunyai niat buruk pada Papa. Semua itu karena ingin merebut Mama dari Papa.” Lanjut Michele.
“Maksud kamu apa, Sayang? Mama tidak mengerti.” Silvia tampak bingung.
“Om Barrack sebenarnya adalah pria yang sangat terobsesi dengan Mama sejak dulu. Nama asli Om Barrack adalah Rendy. Pria itu mengubah identitas dan bentuk wajahnya demi merebut Mama dari Papa.”
Deg
Silvia sangat terkejut mendengar fakta itu. dia teringat dengan sosok pria yang mengejar-ngejar cintanya sewaktu masih remaja dulu. Silvia ingat kalau saat itu menolak Rendy karena pria itu bukan cinta padanya. Melainkan obsesi. Selain itu, Rendy adalah pria yang terkenal dengan sebutan penjahat kelam*n.
“Kamu tahu dari mana, Sayang?” tanya Silvia masih tidak percaya dengan ucapan Michele.
Silvia masih terdiam. Cukup masuk akal dia mendengarkan semua penjelasan Michele. Apalagi sejak awal dia bisa melihat kalau Ken adalah pria yang baik. Namun, jika ia memberitahu semua itu pada suaminya, tentu saja Xander tidak akan percaya dengan mudahnya.
***
Sudah dua hari ini Michele tidak datang ke kantor. ia juga tidak tahu kabar apapun tentang perusahaan. Karena saat ini Papanya lah yang memegang kendali sementara. Dan hubungannya dengan Papanya sampai saat ini juga masih saling diam.
Siang ini Michele berada di rumah seperti biasanya. Dia melihat mobil Papanya terparkir di depan halaman rumah. jadi bisa dipastikan kalau saat ini Papanya sedang berada di rumah, atau mengambil berkas penting.
Michele tak sengaja lewat di depan ruang kerja Papanya. Kebetulan pintunya sedikit terbuka. Saat hendak menaiki tangga menuju kamar, samar-samar Michele mendengar suara Papanya sedang berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang.
“Apa kamu tahu kemana baji***n itu pergi?”
__ADS_1
“…..”
“Cepat cari datanya di seluruh jadwal penerbangan.”
“…..”
“Pastikan kalau dia benar-benar pergi dari negara ini dan menjauhi putriku.” Pungkas Xander sebelum akhirnya menutup panggilan itu.
Michele sangat terkejut. Dia harus berbuat sesuatu sebelum Ken benar-benar pergi meninggalkan negara ini dan pastinya akan sulit ditemukan. Kemudian terlintas sebuah ide yang menurutnya jalan terbaik dari masalah ini. Setelah itu Michele masuk ke kamarnya. Ia berganti pakaian dan akan pergi ke suatu tempat.
“Mau kemana?” tanya Silvia saat melihat Michele keluar kamar dengan membawa tas kecil.
“Michele mau pergi ke apotek, Ma.” Jawab Michele dengan tenang.
“Ya sudah, jangan lama-lama.” Ucap Silvia.
Tentu saja Silvia mengijinkan Michele pergi. Karena menurut informasi yang dia dengar kalau saat ini Ken sudah pergi meninggalkan kota ini dan pastinya Michele sendiri tidak akan bisa menemukannya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1