
Michele sangat terkejut dan hampir saja berteriak. Namun dengan cepat Ken membekap mulutnya agar kekasihnya itu diam.
“Apaan sih kamu, Ken? Bikin orang senam jantung saja.” keluh Michele setelah Ken melepaskan bekapan tangannya.
“Maaf. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan bahagiaku setelah mendapat lampu hijau dari orang tua kamu. Tidak mungkin aku bersorak saat berada di tengah-tengah keluarga kamu.” Ucap Ken. Kemudian pria itu menarik Michele ke dalam pelukannya. Tentunya pitu kamar sudah tertutup.
Ken membawa Michele duduk di bibir ranjang dengan posisi Michele duduk di pangkuan Ken. Mendadak Michele menjadi gugup. Selama ini memang dia tidak pernah dekat dengan pria manapun. Dan hanya dengan Ken lah dia bermesraan. Tapi itu dulu.
“Kenapa wajah kamu memerah, hem?” tanya Ken dengan nada menggoda.
“Nggak kenapa-napa. Jangan seperti ini, nanti ada yang tiba-tiba masuk bagaimana?” Michele berusaha berdiri namun Ken mencegahnya.
“Aku sangat merindukanmu, Sayang. Aku sudah tidak sabar meresmikan hubungan kita ini.” ucap Ken dengan tatapan seperti menahan gai_rah.
“Apa kamu ingin secepatnya menikah hanya karena itu?” tanya Michele dengan kesal.
“Tentu saja tidak dan iya.” jawab Ken dengan enteng, dan semakin membuat Michele cemberut.
“Jangan cemberut! Nanti aku semakin gemas dan ingin memakanmu. Apa aku salah jika memang menginginkan itu? aku pria normal, dan selama ini aku menahannya. Aku hanya ingin melakukannya denganmu, bukan dengan wanita lain. Akhirnya Tuhan memberi jalan seperti ini setelah sekian lama kita terpisah.”
Michele terharu dengan perkataan Ken. Dia sangat beruntung memiliki calon suami seperti Ken. Ternyata Ken memang sosok yang sangat setia dan patut untuk dipertahankan.
“Aku sangat mencintaimu, Chel.” Ucap Ken dengan mengecup ssingkat bibir Michele.
Wajah Michele semakin merona. Jujur saja ia juga sangat merindukan masa-masa seperti dulu saat bermesraan dengan Ken. Tapi dia berusaha kuat menahannya, karena sedang berada di rumah orang tuanya.
__ADS_1
“Aku pulang ke apartemenku saja, ya?” ucap Ken merasa tak nyaman.
“Apartemen?” Tanya Michele bingung.
“Iya. apartemenku dulu. Itu masih menjadi milikku, walau sudah lama tidak pernah aku tempati.” Jawab Ken.
“Lalu kenapa kamu memilih ke sana? Apa kamu tidak betah tinggal di sini?”
“Bukan seperti itu. aku hanya.. ehm maaf kurang bebas saja.” Michele tahu apa yang dimaksud oleh Ken. Setelah itu ia meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk keluar sekalian mengantar Ken pulang ke apartemennya saja. Silvia pun mengijinkan. Lagi pula sepasang Opa dan Oma itu kini sedang sibuk bermain dengan Tristan.
Michele dan Ken akhirnya pergi ke apartemen Ken yang sudah lama tidak pernah ditempati. Dan saat mereka berdua hendak keluar rumah, ternyata di teras rumah ada sepasang suami istri juga tampak sedang bermesraan. Apalagi Aiden yang kini sedang mengusap perut buncit Celine.
“Ehm, kalau mesra-mesraan di dalam sana!” usir Michele membuat matanya tak nyaman melihat keuwuan adik dan adik iparnya itu.
“Yee biarin. Kita kan sudah sah, mau dimana saja bebas.” Sangkal Celine sengaja memancing kekesalan kakaknya.
“Kakak mau kemana?” Celine bertanya dengan teriak saat melihat Michele dan Ken memasuki mobil.
“Jangan-jangan kalian mau-mpphh” Aiden segera membekap mulut istrinya. Dia tahu apa yang akan diucapkan oleh istrinya.
“Sudah, biarkan saja. mereka sudah sama-sama dewasa. Sebentar lagi juga mau menikah. ayo kita masuk kamar saja!” Ajak Aiden kemudian.
Celine pun menurut saja saat suaminya menggandeng tangannya dan menuntunnya memasuki kamar. Celine yang masih penasaran kemana kakak dan calon kakak iparnya pergi, dia tidak sadar kalau sudah berada di dalam kamar dan suaminya sudah sibuk membuka kancing bajunya bagian atas.
Arghhh….
__ADS_1
Celine memekik saat dirinya sudah duduk di pangkuan suaminya, dan Aiden sangat rakus melahap dua buah besar itu.
***
Ken memasuki apartemennya yang sudah lama tidak pernah ia tempati. Sebelum Ken pergi dulu, ia sudah memerintah seseorang untuk membersihkannya sebulan sekali. Namun Ken melarang orang itu membuka pintu kamarnya. Jadi yang dibersihkan sebatas ruang tamu, ruang tengah dan dapur saja.
“Aku kira kamu sudah menjualnya.” Ucap Michele.
“Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan menjualnya.” Jawab Ken lalu duduk di sofa samping Michele.
Ken tidak ingin istirahat di dalam kamarnya, karena bisa dipastikan kalau ruang kamarnya itu kotor. Mengingat selama tiga tahun tidak dibuka sama sekali. Jadi ia memilih istirahat di ruang tengah saja. di sana ada sofa yang cukup besar yang bisa digunakan untuk istirahat.
“Kemarilah!” panggil Ken. Dia kini sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ukurannya lebih lebar.
Michele mendadak gugup saat diminta oleh Ken untuk mendekat. Pasalnya dia masih ingat jelas kaalau di tempat itulah pertama kalinya ia menyerahkan mahkotanya bpada Ken, hingga lahirlah Tristan.
Michele hanya duduk di samping Ken. Karena gemas, Ken pun menarik tangan Michele sampai wanita itu jatuh ke pelukannya.
“Tenang saja, aku tidak akan memintanya sekarang. aku hanya ingin memelukmu seperti ini saja.” ucap Ken sambil mencium aroma wangi rambut kekasihnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️