
Semalam suntuk Michele tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih terngiang dengan percakapan Ken dengan perempuan tadi. jujur saja Michele terkejut dan tidak menyangka kalau di balik sikap ramah Ken dan baik hati ternyata pria itu adalah seorang pembunuh bayaran.
Apakah Michele takut setelah ini jika beretemu dengan Ken. Tentu saja rasa takut itu pasti ada. Namun entah kenapa ia tetap tidak ingin kehilangan Ken. Sebesar itu lah pengaruh kehadiran Ken dalam hidupnya. Walau ia sudah tahu siapa Ken sebenarnya, tapi dia tidak mau pria itu pergi meninggalkannya.
Michele membolak-balikkan tubuhnya. Tapi tetap saja matanya tidak bisa terpejam. Ingin menghubungi Ken dan menanyakan langsung kebenaran itu, tapi nyalinya belum cukup berani.
Hingga pagi menjelang, mata Michele masih terbuka lebar. Namun terlihat jelas kantong mata kehitaman itu. ia segera bangun dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu bersiap untuk ke pergi ke kantor.
Setelah selesai bersiap, Michele segera turun. Ia memutuskan langsung berangkat ke kantor tanpa ikut sarapan bersama Mama dan Papanya demi menghindari pertanyaan tentang kantong mata yang kehitaman itu. bahkan Michele langsung pergi begitu saja dan mengatakan pada Mamanya akan langsung ke kantor saat Mamanya sedang sibuk di dapur.
Michele mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melihat jam tangannya masih menujukkan pukul tujuh. Itu tandanya Ken saat ini masih sibuk membersihkan ruangannya.
Michele mepersiapkan dirinya saat bertemu dengan Ken nanti. Dia akan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Namun kenapa ia masih merasa takut.
Michele menggunakan kacamata hitam sebelum keluar dari mobilnya. Ia tidak ingin semua orang melihat kantong matanya itu. setelah itu Michele melenggang masuk menuju lantai enam.
Cklek
Benar saja saat Michele memasuki ruangannya, tampak Ken sedang mengepel lantai. Pria itu melihat aneh dengan penampilan Michele yang memakai kacamata hitam.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ken.
“I..iya. iya aku baik-baik saja.” jawab Michele dengan gugup.
Ken semakin penasaran saat mendengar ucapan Michele yang tampak gugup itu. ia pun meletakkan alat pelnya lalu mendekati Michele yang sedang duduk dan masih mengenakan kacamata hitamnya.
“Kamu sakit, Chel?” tanya Ken terkejut saat melihat jelas kantong mata Michele.
__ADS_1
Seketika itu Michele memalingkan mukanya. Ia mengindari tatapan Ken. Dia kembali teringat ucapan Ken kemarin malam.
Ken semakin penasaran dengan sikap Michele yang tampak aneh pagi ini. lalu ia menempelkan punggung tangannya pada kening Michele. Benar saja kening Michele hangat. Sepertinya memang perempuan itu sedang sakit.
“Badan kamu hangat, Chel. Kamu sedang sakit.” Ken tampak khawatir. Setelah itu ia keluar dari ruangan Michele untuk membuatkan minuman hangat dan air putih untuk Michele. Tidak hanya itu, Ken juga membawakan roti untuk Michele.
“Kamu makan dulu roti ini dan minum yang banyak.” Ucap Ken begitu perhatian.
Michele masih terdiam. Jika tadi ia merasakan takut pada Ken, kini rasa takut itu berubah menjadi rasa bahagia karena Ken sangat perhatian terhadapnya.
Ken duduk di samping Michele di sofa. Ia menemani Michele sampai roti itu dimakan habis. Setelah itu Ken juga menyiapkan vitamin untuk Michele.
“Nah sekarang minum vitamin ini agar tubuh kamu lebih fit.” Ken memberikan vitamin itu pada Michele.
“Terima kasih, Ken.” Ucap Michele dengan singkat.
“Aku hanya menebak. Karena jika dilihat dari kantong mata ini, sudah bisa membuktikan kalau kamu semalaman tidak tidur. Ada apa, hemm?”
“Aku.. aku nggak kenapa-napa. Hanya susah tidur saja. mungkin karena hari pertama menjabat sebagai presdir, jadi membuatku sedikit terbebani.” Jawab Michele berbohong.
“Kamu yang rileks saja. aku tahu kamu adalah perempuan pintar dan cerdas. Jadi tetaplah tenang jika menghadapi suatu masalah.” Ujar Ken memberi nasehat.
“Ya sudah, aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu. Kalau butuh apa-apa, hubungi saja aku.” ucap Ken. Namun dengan cepat Michele berdiri dan memeluk Ken dengan erat.
Ken masih diam saat Michele tiba-tiba memeluknya. Dia menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Michele.
“Ken, aku mohon jangan pernah berniat untuk meninggalkan aku. aku tidak tahu bagaimana jadinya hidupku jika tidak ada kamu. Memang kita baru saja kenal. Tapi seperti inilah kenyatannya.” Ucap Michele dengan suara lirih.
__ADS_1
“Kenapa kamu bicara seperti ini, seolah-olah tahu aku akan meninggalkan kamu?”
“Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Ken. Please jangan lakukan itu semua.” Ucap Michele dengan nada memohon.
Ken mengurai pelukannya lalu mengangkat dagu Michele agar ia bisa berbicara langsung sambil menatap mata perempuan itu.
“Resikonya sangat besar, Chel jika kita terus bersama. Aku yakin kedua orang tua kamu tidak akan pernah menyetujui hubungan kita. Kita jalani saja hubungan ini layaknya air mengalir. Dan aku harap kamu bisa menemukan pasangan yang baik dan sesuai dengan kriteria kamu dan kedua orang tua kamu tentunya.”
“Tidak. Kamu adalah pria terbaik yang aku kenal. Sampai kapan pun aku tetap memilihmu. Aku sangat mencintaimu, Ken.”
“Apa kamu yakin dengan ucapan kamu, Chel? Kamu berani mengambil resiko karena telah berhubungan denganku?” tanya Ken memastikan.
“Aku sangat yakin. Dan aku berani mengambil resikonya.” Jawab Michele dengan yakin.
Cup
Setelah itu Ken mendaratkan bibirnya pada bibir manis Michele. Lalu Ken mulai melesakkan lidahnya untuk mengeksplor setiap rongga mulut perempuan itu. bahkan Michele sudah mulai menyeimbangi persilatan lidah itu. hingga tubuh mereka terhuyung sampai Michele terduduk di meja kerjanya. Sedangkan Ken dalam posisi berdiri dengan sedikit membungkuk.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1