
“Kamu romantis sekali, Ken. Aku jadi tak percaya kalau kamu tidak pernah memiliki kekasih.” Ucap Michele dan Ken hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya.
Setelah itu Ken menoleh sekilas ke arah Michele, namun tangannya masih sibuk memegang kemudi. “Apakah pria yang berlaku romantis selalu diidentikkan dengan pria yang playboy atau sudah pernah menjalin hubungan, hem? Kalau begitu apa aku harus merubah sikapku dengan sikap yang dingin, kaku, dan wajah muram?” tanya Ken.
“Ah, bukan begitu maksudku. Baiklah, aku percaya. Aku juga sangat senang kalau aku adalah perempuan pertama di hati kamu.” Jawab Michele sambil mengusap lembut lengan Ken.
“Sebenarnya kamu bukan perempuan pertama yang ada di hatiku.” Ucap Ken dengan nada serius. Mendadak Michele mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya senang menjadi murung. Entah apa maksud ucapan Ken itu. sungguh membuat dirinya bingung. Aakhirnya Michele memilih diam dan tidak ingin lagi meminta penjelasan.
Ken juga masih diam. tidak berminat untuk menjelaskan ucapannya baru saja. ia lebih memilih fokus pada jalanan.
Suasana tampak hening. Michele sampai tidak menyadari kalau saat ini mobil yang dikemudikan oleh Ken sudah memasuki kawasan pantai.
Meskipun malam, namun suasana pantai itu tampak ramai dengan orang-orang yang sengaja menghabiskan weekend-nya di sana.
Di area pantai itu terdapat beberapa rumah makan sederhana dan juga café. Mungkin tidak seramai tempat yang lainnya, namun tempat itu sepertinya sangat nyaman untuk orang-orang yang ingin mencari ketenangan untuk melepas penat setelah semunggu bergulat dengan pekerjaan.
Michele sangat takjub melihat pemandangan pantai di malam hari. Dimana di sekeliling pantai itu terdapat banyak lampu yang berkelap-kelip. Tidak hanya itu, di sana juga ada beberapa spot foto yang menarik.
“Apa kamu mau diam di sini terus, Nona?” tanya Ken saat membuka pintu mobil untuk Michele, namun perempuan itu masih bengong.
Michele sedikit tersentak. Kemudian ia berusaha tetap tenang, lalu keluar dari mobil. Ia mengikuti Ken yang sedang berjalan menuju salah satu restaurant yang tidak terlalu ramai.
Mereka berdua memilih tempat duduk paling sudut dan bisa melihat langsung keindahan pantai dengan deburan ombak yang memanjakan telinga.
“Kamu mau makan apa?” tanya Ken sembari membaca serentetan daftar menu makanan.
__ADS_1
“Samakan saja. aku pemakan segala.” Jawab Michele dengan suara datar. Namun Ken justru terkekeh mendengarnya.
Ken mencatat beberapa menu makanan khas laut dan dua gelas minuman. Setelah itu memberikannya pada pelayan restaurant yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
Setelah pelayan itu pergi dengan membawa daftar pesanan makanan, Ken memegang lembut tangan Michele. Namun si empunya justru memalingkan muka. Sebenarnya Ken tahu apa yang membuat kekasihnya itu berubah dingin.
“Apa kamu mau tahu siapa dua perempuan yang pernah singgah di hatiku?” tanya Ken dengan menatap Michele.
“Tidak. Tidak penting juga buat aku.” jawab Michele dengan masih membuang mukanya.
Aww
Tiba-tiba Michele mengaduh kesakitan saat Ken menekuk jari-jari tangannya sampai berbunyi. Sontak saja Michele langsung menatap Ken dengan menujukkan raut kesalnya.
“Kalau nggak begini kamu nggak akan melihat wajahku.” Ucap Ken tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Dua orang perempuan yang pernah singgah di hatiku adalah mendiang Ibu dan adikku.” Jawab Ken dengan suara lirih sarat akan raut kesedihan.
Michele terkejut mendengarnya. Justru kini ia merasa bersalah pada Ken karena sempat berpikiran yang tidak-tidak.
“Maaf,-“
Belum sempat Michele melanjutkan kalimatnya, seorang pelayan datang dengan membawa pesanan makanan mereka. Setelah itu Ken mengajak Michele untuk makan terlebih dulu, dan akan melanjutkan ceritanya nanti setelah makan.
Beberapa menit setelah menyelesaikan makan malamnya, Ken mengajak Michele keluar dari restaurant, lalu berjalan-jalan di pinggiran pantai. Mereka memilih duduk di atas pasir putih sambil melihat pemandangan laut di malam hari.
__ADS_1
“Ibuku adalah wanita pertama yang ada di hatiku. Setelah itu adik perempuanku. Namun sayangnya mereka berdua haru pergi meninggalkan aku dalam waktu hampir bersamaan.” Ucap Ken dengan pandangan lurus ke depan.
“Maaf. Aku tidak bermaksud mengingatkan kamu tentang masa lalu kamu yang pahit, Ken. Aku turut berduka.” Ucap Michele.
“Tidak apa-apa. Lagi pula sudah sangat lama. Aku hanya ingin menjelaskan saja pada kamu agar tidak ada kesalah pahaman lagi.” jawab Ken sambil tersenyum menatap Michele.
“Jika memang itu sudah lama, itu tandanya kamu sudah ikhlas dengan kepergian mereka. Lebih baik mendoakan saja semoga mereka tenang berada di sisi Tuhan.” Ucapan Michele sedikit banyak memberikan nasehat pada Ken agar tidak membalaskan dendamnya pada seseorang yang telah menghanurkan keluarga Ken. Karena sepengetahuan Michele kalau adik Ken meninggal karena dibunuh, hingga menyebabkan Ken menjadi seorang pembunuh bayaran demi mencari pembunuh adiknya.
“Apa kamu sedang memberiku nasehat, Nona?” tanya Ken dengan nada suara yang berbeda. Sepertinya Ken juga sadar kalau ucapan Michele baru saja secara tidak langsung meminta dirinya agar berhenti dari pekerjaan keji itu.
“Bukan. Bukan seperti itu maksudku, Ken. Tapi apa ada yang salah dengan ucapanku kalau kamu sudah ikhlas dengan kepergian mereka?” tanya Michele dengan gugup.
“Ck, sayangnya sampai saat ini aku masih belum mengikhlaskan kepergian kedua orang tuaku dan adikku.” Jawab Ken dengan aura yang sangat menakutkan.
“Tapi, apa dengan kamu yang masih belum ikhlas dengan kepergian mereka bisa mengembalikan merek-“
“Cukup, Michele!!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️