
Usai mendapat nasehat dari Mama metuanya, hati Celine merasa lebih tenang. Ada kalanya ia harus menekan kuat egonya dan mencoba berpikir logis dengan kejadian yang tengah menimpa rumah tangganya. Mungkin inilah ujian pernikahannya dengan Aiden. Kalau dia mampu menghadapi badai itu, pasti ke depannya ia akan lebih mudah menjalani kehidupan runah tangganya.
Celine memilih tenang dan ia memutuskan untuk tinggal sementara di rumah mertuanya. Selain ingin menunggu suaminya menyelesaikan masalah itu, Celine tidak ingin kedua orang tuanya tahu tentang masalahnya. Terutama Papanya. Yang ada nanti penyakit jantungnya kambuh.
Hingga sampai malam hari Celine tak kunjung mendapat kabar dari suaminya. entah kemana pria itu pergi di saat hari minggu seperti ini. perasaannya semakin kacau dan pikiran negative muncul begitu saja.
Celine juga sengaja tidak menanyakan keberadaan Aiden melalui sambungan telepon. Bahkan pria itu juga tidak ada niatan sama sekali untuk menghubunginya.
Drt drt drt…
Tiba-tiba ponsel Celine bergetar ada notif panggilan masuk. Ia kira itu panggilan dari Aiden. Ternyata bukan. Di sana tertera nama kakaknya yang sedang menghubunginya. Celine pun segera mengusap air matanya sebelum menerima panggilan itu. karena Michele melakukan panggilan video.
“Halo!” ucap Celine setelah menggeser ikon warna hijau pada ponselnya.
Bukannya wajah sang kakak yang ia lihat, namun wajah keponakannya yang lucu dan menggemaskan. Yaitu Tristan.
Suara celotehan Tristan pun mampu membuat suasana hatinya yang sejak tadi sendu berubah menjadi ceria. Bocah itu terlihat sangat lucu dengan pipi yang belepotan karena sedang makan es krim. Tanpa sadar saking rindunya pada Tristan ditambah suasana hatinya yang tidak baik, mata Celine berair lagi. dan hal itu diketahui langsung oleh kakaknya.
Michele langsung mengambil alih ponselnya dan meminta sang suami menjaga Trstan sebentar. Bagaimanapun juga kedua bersaudara itu memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Karena tidak biasanya Michele melihat adiknya menangis.
“Apa calon keponakanku baik-baik saja?” tanya Michele setelah ia mencari tempat yang nyaman untuk bicara dengan Celine.
Sekuat apapun Celine memendam kesedihan hatinya, akhirnya ia menceritakan semua masalahnya pada sang kakak.
__ADS_1
Michele sangat terkejut mendengarnya. Namun dia terus memberikan semangat pada adiknya agar tetap kuat dan bisa mempertahankan rumah tangganya. Michele juga menyarankan agar memberikan waktu buat Aiden untuk menyelesaikan masalahnya. Karena tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi. Bahkan Tuhan pun tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya.
Setelah cukup lama berbicara dengan kakaknya melalui sambungan video call, Celine melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. dan samapi saat ini suaminya juga belum pulang.
Cklek
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dengan menampakkan sosok Aiden yang berjalan dengan wajah yang terlihat kusut dan memaksakan senyum pada istrinya.
“Apa dia baik-baik saja hari ini?” tanya Aiden yang kini sudah berjongkok sambil mengusap perut Celine.
Celine hanya mengangguk tanpa bersuara. Dia juga kasihan melihat wajah suaminya yang tampak murung seperti itu.
“Maafkan Papa kamu yang seharian ini mengabaikan Mama ya, Nak? Papa janji setelah masalah ini selesai, Papa tidak akan lagi memberikan beban berat buat kalian berdua.” Ucap Aiden dengan sungguh-sungguh.
“Sayang, jangan menangis! Maafkan aku, maafkan aku sudah menyakiti kamu dan anak kita. Tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini.” ucap Aiden.
Celine mengusap air matanya. ia mengangguk sebagai jawaban dari permintaan Aiden.
“Terima kasih, Sayang! Kumohon tetaplah di sisiku sampai kapanpun. Dan aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Ucap Aiden lalu merengkuh tubuh istrinya.
***
Sementara itu sepasang pengantin baru yang tengah berbulan madu kini sedang menikmati hari-hari terakhir mereka sebelum pulang.
__ADS_1
Ken mengajak istrinya menginap di sebuah villa pribadi miliknya untuk menikmati bulan madunya. Lalu bagaimana dengan Tristan. Apakah anak kecil itu juga ikut kedua orang tuanya yang sedang berproses membuatkan adik untuk Tristan? Tentu saja tidak.
Setelah kedatangannya saat itu, Ken tidak langsung mengajak istrinya tinggal di Villa. Ia masih butuh waktu selama dua hari agar Tristan dekat dengan kedua orang tuanya. Setelah itu barulah ia menjalankan misi bulan madunya dengan sang istri.
Saat ini Ken tengah berdiri di balkon kamarnya sambil meneguk kopi yang masih hangat. Pria itu hanya memakai celana saja tanpa memakai baju. Karena Ken baru saja selesai bercinta dengan Michele. Saat tengah menikmati kopinya, tiba-tiba saja Ken mendapat pelukan hangat dari belakang. Siapa lagi kalau bukan istrinya yang paling cantik.
Michele hanya berbalut selimut saja saat memeluk suaminya. entah kenapa setelah ia terbangun habis bercinta dan di sampingnya tidak menemukan Ken, hati Michele mendadak resah. Takut pria itu tiba-tiba pergi meninggalkannya.
“Ada apa, hem?” tanya Ken yang sudah memutar tubuhnya. Ia meletakkan cangkir yang berisi kopi itu di atas meja.
“Aku terkejut saat baru saja membuka mata tidak menemukan keberadaan kamu.” Jawab Michele jujur.
“Kamu takut aku pergi?” tanya Ken dengan senyuman manis dari bibirnya. ia tahu apa yang dirasakan oleh istrinya. Pastinya ada rasa trauma dalam hati Michele setelah dulu ditinggal oleh pria yang sangat dicintainya.
“Maafkan aku jika kamu masih trauma dengan kejadian dulu. Aku berjanji, sampai kapanpun akan selalu bersamamu, Sayang.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️