
“Aku ingin melamar Celine untuk Aiden.” Jawab Tania sambil mengeluarkan kotak cincin yang sudah ia siapkan.
“Mama? Mama apa-apaan sih?” ucap Aiden terkejut.
Aiden benar-benar shock dengan tindakan Mamanya. Aiden pikir kalau makan malam ini adalah makan malam biasa sekadar memperrat tali persaudaraan saja. ternyata tidak.
Di saat Aiden masih masih terkejut dengan tindakan Mamanya, berbeda dengan raut wajah Silvia dan Xander. Mereka justru tersenyum hangat, walau awalnya sedikit terkejut. Lalu bagaimana dengan reaksi Celine? Aiden menoleh pada Celine yang tampak cuek seperti biasa. Dia pun yakin kalau perempuan itu tidak setuju dan akan menolak lamaran Mamanya.
“Maaf, Om dan Tante. Aiden tidak tahu menahu tentang masalah ini. dan buat kamu Celine, aku nggak apa-apa jika kamu menolak lamaran ini. bukankah memang sebelumnya kamu sudah mengatakan nggak suka denganku. Jadi,-“
“Terima kasih, Tante. Celine menerima lamaran Tante Tania.” Potong Celine dengan cepat.
Aiden melongo mendengar ucapan Celine. Benarkah perempuan itu menerima lamarannya. apakah saat ini dirinya sedang bermimpi. Akhirnya Aiden memberanikan diri menatap mata Celine. Terlihat sama seperti biasanya tataan perempuan itu. namun berbeda dengan Silvia dan Xander yang sejak tadi hanya tersenyum.
“Ayo, pakaikan cincinnya!” Tania menyenggol lengan putranya yang masih tampak diam.
Dengan tangan sedikit bergetar, Aiden mengambil cincin dari kotak bludru itu, lalu menyematkan pada jari manis Celine. Dan di saat cincin itu sudah melingkar di jari Celine, perempuan itu mengulas senyum manis pada Aiden. Senyum yang selama ini tidak pernah Aiden lihat. Dan sunggugh membuatnya sangat terpesona.
“Aku menerima lamaran Kak Aiden.” Ucap Celine menjawab kegindahan hati Aiden.
“Benarkah?” tanya Aiden memastikan. Lalu Celine menjawabnya dengan anggukan kepala.
#Flashback Off
Aiden kini sudah berbaring di samping istrinya. Pria itu memeluk Celine dan mengusap lembut perut buncit istrinya.
__ADS_1
“Bukan sebelum kita sah, kita sudah berjanji untuk saling menerima kekurangan kita masing-masing, agar kita saling melengkapi dan saling membenahi. Justru aku yang berterma kasih karena kamu mau menerima segala sifat burukku di masa lalu.” Ucap Aiden lalu meninggalkan kecupan singkat di kening Celine.
Kecupan yang awalnya dari kening itu perlahan turun ke pipi dan berakhir di bibir Celine. Namun bukan hanya sekadar ciuman, melainkan luma tan kecil yang semakin lama semakin menutut dan menginginkan lebih dari itu.
Perlahan tangan Aiden melepas kancing blouse Celine hingga menampakkan dua buah fovoritnya. Apalagi kondisi Celine yang tengah hamil, buah itu terlihat semakin padat berisi dan sangat indah.
“Aku menginginkamu, Sayang.” Ucap Aiden dengan suara parau.
Tok tok tok
Mulut Aiden yang sudah siap mendarat pada ujung buah istrinya itu mendadak delay akibat suara ketukan pintu disertai suara bocah kecil yang memanggil namanya.
“Tate.. Om… bangun!!”
“Kita lanjutkan nanti malam saja, ya?” ucap Aiden.
“Iya. ya sudah, keluarlah dulu temui Tristan.” Ucap Celine sambil membenahi baju dan tatanan rambutnya.
Benar saja, saat Aiden membuka pintu, terlihat Tristan yang sedang berdiri di depan kamarnya sambil membawa banyak mainan di tangannya. kamar Michele bersebelahan dengan kamar Celine. Tristan tadi minta ingin bertemu dengan Omnya, jadi Michele menyuruh Tristan agar mengetuk sendiri pintunya. Sedangkan dirinya ada di kamar bersama Ken.
**
Malam harinya mereka sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Xander dan Silvia sangat bahagia melihat kebersamaan anak-anak dan menantunya seperti sekarang ini. mereka berharap rumah tangga anak-anaknya akan selalu awet dan rukun sampai akhir hayat nanti.
Kini mereka sudah menikmati makan malam yang sudah dimasak oleh Silvia dan Michele. Mereka makan sambil melakukan perbincangan ringan.
__ADS_1
“Apa Kakak tidak pergi berbulan madu?” tanya Celine tiba-tiba.
“Kami belum membicarakan hal itu. lagi pula tidak terlalu penting pergi berbulan madu. Apalagi aku tidak bisa meninggalkan Tristan.” Jawab Michele sambil tersenyum ke arah suaminya.
“Kalau kalian memang ingin pergi berbulan madu, pergilah! Biar Tristan sam Mama. Di sini dia juga mudah akrab. Apalagi ada Tante dan Omnya.” Sahut Silvia.
“Gampanglah, Ma. Nanti kita akan bicarakan dulu. Tapi memang dalam waktu dekat kita belum mempunyai rencana itu.” jawab Michele.
Usai makan malam, Michele memilih masuk ke kamar lebih dulu karena Tristan tampaknya sudah ingin tidur. Sedangkan Ken memilih bersantai di teras rumah bersama Aiden.
“Aku tidak menyangka kita akan berakhir menjadi saudara ipar seperti sekarang ini.” ucap Aiden.
“Ya. Begitupun dengan aku. mungkin memang inilah yang dinamakan takdir Tuhan. Sekarang kita harus jalan berdua, bekerjasama berdua demi misi dan tujuan yang sama.” Jawab Ken.
“Baiklah, Kakak ipar.” Ucap Aiden sambil mengulurkan tangannya pada Ken.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1