
Ken tampak serius berbicara dengan Hiro mengenai rencananya untuk menghabisi Aiden. Hiro bahkan sampai rela terjun langsung menangani pekerjaan ini. Terlebih uang yang dijanjikan oleh sahabatnya sangatlah besar.
“Baru kali ini kamu gagal menjalankan tugasmu, Ken? Ada apa denganmu? Apa semua ini gara-gara wanita?” Tanya pria berusia lima puluh enam tahun itu.
Saat Hiro datang tadi, tanpa sengaja ia melihat Ken sedang duduk berdua dengan seorang perempuan. Namun entah kemana sekarang perempuan itu berada. Saat Hiro melihat tempat duduk Ken tadi, perempuan itu sudah tidak ada.
Ken juga demikian. Ia melirik sekilas dimana Michele tadi duduk, sekarang tempat itu kosong. Lantas kemana Michele pergi.
“Ini semua bukan urusan kamu.” Jawab Ken dengan suara datar. Ia paling tidak suka kalau membahas masalah pekerjaan disangkut pautkan dengan masalah pribadi.
“Ck, aku tahu kamu masih muda dan berhak untuk itu. tapi aku minta untuk kali ini kita fokus dengan Aiden. Kita cari celah waktu yang tepat kapan bisa menghabisi pria sialan itu. Dan kamu harus mencari informasi penting tentang dia.”
Entah kenapa kali ini Ken benar-benar muak dengan perintah Hiro. Pria tua itu berbuat semena-mena. Atau memang karena Ken sedang fokus dengan mencari pelaku pembunuh adiknya, jadi ia sama sekali tidak niat menjalankan tugas dari Hiro.
Kalau saja bukan karena balas budi, Ken juga pasti sudah mengakhiri pekerjaan ini setelah mendapat petunjuk pembunuh adiknya. Pertemuan Ken dan Hiro beberapa tahun silam saat keadaan Ken sedang terpuruk. Pada waktu itu Ken yang hampir putus asa mencari pembunuh adiknya, hampir setiap malam ia datang ke bar. Ia bahkan tidak peduli lagi masalah perusahaan. Dia menyerahkan semuanya pada Rainer. Hingga suatu ketika Ken sedang mabuk dan terlibat pertengkaran hebat dengan salah satu pengunjung bar. Entah apa masalahnya, Ken dengan brutalnya menghajar pria itu seolah sedang menghabisi pembunuh adiknya. Pria yang dihajar Ken ternyata memiliki beberapa teman yang kebetulan baru datang. Melihat itu Ken pun mendapat serangan balik dari beberapa pengunjung (teman pria tadi). Lalu datanglah Hiro menyelamatkan Ken dan segera membawa Ken kabur dari bar itu.
Ken dibawa Hiro ke rumahnya. Sebenarnya sejak tadi Hiro menyaksikan pertemgkaran Ken saat di bar. Menurut pandangannya, Ken adalah sosok pria Tangguh. Hingga akhirnya muncul ide untuk menjadikan Ken seorang pembunuh bayaran, menggantikan pekerjaannya.
“Baiklah. Tapi memang semua itu membutuhkan waktu lama. Kamu harus bersabar.” Jawab Ken akhirnya. Dan lagi-lagi ia mengulur waktu untuk membunuh Aiden. Kalaupun waktu yang dijanjikan pada Hiro selesai, ia akan mencari cara bagaimana agar Aiden mati di tangan Hiro saja.
__ADS_1
“Ya sudah. Segera hubungi aku jika mendapat informasi apapun tentang Aiden.” Pungkas Hiro setelah itu pergi meninggalkan Ken.
Selepas kepergian Hiro, Ken menghembuskan nafasnya pelan. Biarlah Masalah Hiro yang ingin melenyapkan Aiden ia abaikan sementara. Karena saat ini langkahnya tinggal sedikit lagi untuk bisa menemukan pembunuh adiknya.
“Astaga!!” Ken baru teringat dengan Michele. Dia melihat tempat yang diduduki Michele kosong. Itu tandanya Michele pergi tanpa pamit.
**
Sementara itu sejak tadi melihat Hiro bertemu dengan Ken, Michele memilih pergi dari taman itu dan sekarang ia tengah berada di apartemen Jessie.
Sejak tadi Michele benar-benar kalut dengan pikirannya sendiri. Dia bingung, apakah sebaiknya mengatakan pada Ken kalau pria yang ditemuinya tadi adalah pembunuh Angel. Lalu, apakah Ken akan percaya begitu saja. memang Michele lupa dengan wajah pria yang menculik Angel saat itu. namun setelah melihat Hiro secara langsung, dia sangat yakin kalau pria itulah pelakunya. Wajahnya saja yang kini tampak keriput dibandingkan dulu.
“Chel, baiklah kalau kamu tidak ingin cerita atau belum bisa cerita padaku. tapi aku hanya ingin tahu, apakah benar kamu sedang menjalin hubungan dengan OB kamu itu?”
“Iya.” jawab Michele singkat.
“Whattt??” Jessi benar-benar terkejut mendengar jawaban singkat Michele namun cukup jelas itu. saat itu memang Jessie belum sempat mendapat jawaban dari Michele, karena Michele keburu ada panggilan dari seseorang yang terlihat penting. Jadi sekarang ia baru sempat bertemu lagi dengan Michele.
“Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan Ian? Memang sih dia sangat tampan.” Ucap Jessie menjeda kalimatnya seraya membayangkan wajah tampan Ken.
__ADS_1
“Tapi dia seorang OB, Chel! Kamu masih waras kan?” lanjut Jessie.
Michele kembali diam. ia melirik ponselnya ternyata ada pesan dari Ken. Sepertinya pria itu sedang mencarinya. Karena tadi ia pergi begitu saja tanpa pamit.
Tak lama kemudian terdengar suara deringan ponselnya. Yaitu dari Ken. Dengan ragu akhirnya Michele menerima panggilan itu dan benar saja Ken sedang kebingungan mencarinya.
“Aku sedang di apartemen Jessie.” Jawab Michele sebelum akhirnya ia menutup panggilannya.
“Chel! Cepat katakan, bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan Ian?” Jessie kembali bertanya dengan memegang kedua bahu Michele.
“Maaf, Jes aku belum bisa menceritakan semua ini. nanti pasti aku cerita ke kamu. Sekarang aku minta kamu agar menjaga rahasia ini.” ucap Michele sambil menatap dalam mata sahabatnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️