Belenggu Derita

Belenggu Derita
Perbedaan sikaf dimas


__ADS_3

Dimas terus memelukku dengan erat, tak lama dimas pun tertidur, aku berusaha melepaskan pelukannya tapi malah semakin erat.


Akhirnya akupun diam karena percuma juga, fikiranku melayang tak karuan, aku takut dimas curiga, tak terbayangkan apa yang akan terjadi apabila dimas tahu.


Wajah ibuku menari nari di pelupuk mataku, aku takut jika dimas tahu selama ini aku sering bertemu andi dan mengadukannya pada ibu, ibu pasti akan sangat syok.


Akupun akhirnya tertidur juga, subuh aku bangun dan mandi terus sholat, setelah itu aku turun menuju dapur, nampak bi nani yang sudah bersibuk ria dengan peralatan perangnya di dapur.


" Bi mau bikin sarapan apa?" Tanyaku sambil duduk di meja makan.


" Eh neng ros, bibi mau bikin nasi goreng capcay neng" Jawab bi nani sambil tersenyum ramah.


" Neng udah bangun, mau di bikin susu?" Tanya bi nani.


" Ga bi, aku mau bantuin bibi masak saja" Jawabku sambil bangkit mendekati bi nani.


" Ih neng ga usah, cuma masak gini doang kok, bentar lagi juga beres" Tolak bi nani.

__ADS_1


" Ga apa2 bi, aku sebenarnya biasa masak, cuma setelah hamil ini dimas ga memperbolehkan lagi aku masak" Jawabku dengan cemberut, karena memang aku bosan tiap hari ga boleh melakukan apa2.


Meski bi nani menolak untuk aku bantu tapi aku tetap merayunya, akhirnya bi nanipun mengijinkan.


Selesai masak aku menatanya di meja makan, tak lama dimas datang dan langsung duduk di meja makan.


" Kebetulan dimas, tadinya aku mau bangunin kamu, ternyata kamunya udah bangun" Ucapku dengan sumringah.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya tanpa bicara, aku buru2 mengambilkan nasi goreng dan lauk pauknya buat dimas.


Selama makan dimas lebih banyak diam, akupun tak mau menganggunya, karena aku takut dimas akan kembali marah seperti semalam.


" Ini kopi nya dimas" Ucapku sambil meletakkan kopi di atas meja.


"Iya ros, sini duduk temani aku nonton" Sahut dimas.


Akupun ikut duduk menemani dimas nonton, dimas fokus nonton acara tv yang entah rame atau ga, karena aku sibuk dengan fikiranku sendiri.

__ADS_1


Dimas yang biasa selalu bersikaf hangat saat ini sikafnya dingin, aku menarik nafasku yang terasa berat, ku lirik dimas yang masih tetap fokus pada tv, ku kumpulkan keberanianku untuk bicara.


" Dimas, bolehkah aku bertanya?" Tanyaku dengan sangat pelan, dimaspun melirik ke arahku, aku menundukkan kepalaku dengan takut, ah kenapa aku harus bertanya lagi rutukku dalam hati.


" Bicaralah" Jawab dimas singkat.


" Seandainya aku mbuat kesalahan aku minta maaf sama kamu" Ujarku pelan tanpa berani menatap dimas.


Dimas yang melihatku ketakutan terlihat menarik nafasnya dengan kasar, akupun semakin ketakutan dan tanganku meremas ujung baju yang kupakai.


Tiba2 dimas merengkuhku ke dalam pelukannya, lalu tangannya dengan lembut membelai rambutku.


" Kamu ga salah apa2 kok sayang, maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan perasaanku melihat kamu bicara dengan laki2 lain" Ucapnya lembut.


Ku tatap mata dimas terlihat tulus tanpa ada binar kemarahan, aku merasa lega ku balas pelukannya.


" Aku sangat takut ketika kamu marah kaya semalam" Bisikku lirih.

__ADS_1


" Aku janji ga akan marah2 lagi kaya semalam" Ucap dimas di kecupnya keningku, aku merasa tenang mendengarnya, alhamdulillah bhatinku.


__ADS_2