Belenggu Derita

Belenggu Derita
Kenyataan pahit


__ADS_3

Aku terbangun dengan kepala yang teramat sakit, kubuka mataku dengan perlahan dan melihat sekelilingku serba putih, kulihat tanganku terdapat infusan.


Aku kembali mengingat apa yang telah terjadi, ah iya semuanya mulai ku ingat, dimas, andi dan mamanya nyonya tati farera perempuan yang kubenci itu.


Ceukleek...


Pintu kamar mandi terbuka dan kulihat dimas keluar dari kamar mandi, dia menatapku dengan sendu, nampak bibirnya membengkak bekas pukulan andi.


" Syukurlah akhirnya kamu sadar juga ros, aku sangat khawatir sama kalian berdua" Ucap dimas lirih lalu duduk di sampingku, di belainya rambutku dan di usapnya perutku.


Kupalingkan mukaku ke arah lain, sumpah aku jijik melihat muka dimas, teringat peristiwa tadi yang task ada sedikitpun pembelaan darinya ketika nyonya tati itu menyakiti hatiku.


" Maafkan aku yang belum bisa melindungimu, aku tahu pasti hatimu sangat sakit" Ucap dimas kembali.


Kutarik nafasku dengan kasar, dadaku terasa sesak bila kuingat kenyataan yang ternyata perempuan la***t itu adalah mamanya andi.


" Kamu makan dulu ya, habis itu minum obat" Ucap dimas sambil mengambil bubur di atas nakas.


" Aku ga lapar" Tukasku.

__ADS_1


" Makanlah sedikit, setidaknya demi anak kita ini" Bujuk dimas sambil mengelus perutku, akupun mengalah dan duduk bersandar di ranjang, ketika aku mau mengambil mangkuk bubur dimas melarangku.


" Biar aku suapin" Tukasnya, diapun lalu menyuapiku dengan penuh perhatian, tapi bagiku semua perhatian dan kasih sayang yang dia tunjukkan tidak meluluhkan hatiku, aku sudah benar2 sangat terluka, tak terasa butir air mataku bergulir kembali tanpa bisa ku tahan.


Dimas meletakkan mangkuk bubur dan memelukku dengan erat, di kecupnya keningku, dan itu malah membuatku semakin terluka.


" Menangislah sayang jika itu bisa membuatmu sedikit meringankan rasa sakitmu" Bisik dimas sambil tetap memelukku.


" Aku mau istirahat" Ujarku parau.


" Ya sudah istirahatlah, sebelumnya minum obat dulu" Bisik dimas lalu melepaskan pelukannya.


Setelah beberapa menit aku tertidur efek obat yang ku minum.


Aku terbangun ketika seorang dokter masuk untuk memeriksaku, dimas masih setia menungguku duduk di samping ranjangku, matanya terus mengawasi dokter ketika memeriksaku.


" Gimana dok keadaan istri saya?" Tanyanya terlihat cemas.


" Istri bapak tidak apa2, hanya perlu istirahat saja dan jangan dulu banyak bergerak, bayinya pun sehat" Ujar dokter itu dengan ramah.

__ADS_1


" Syukurlah dok" Ucap dimas dengan nafas lega.


" Apa saya boleh pulang hari ini dok?" Tanyaku.


" Boleh bu tapi itupun jika ibu sudah tidak merasa lemas, saya permisi dulu ya bu" Jawab dokter, aku menoleh ke arah dimas mengisyaratkan kalau aku ingin pulang, dimaspun bangkit berdiri dan mengikuti dokter itu keluar.


Tak lama dimas kembali masuk dan duduk di sampingku.


" Gimana kata dokter tadi?" Tanyaku pada dimas.


" Kamu boleh pulang sayang tapi harus nebus resep dulu, apa kamu yakin mau pulang?" Tanya dimas sambil menatapku, aku anggukkan kepalaku karena aku merasa ga betah di rumah sakit, bau obat2an membuatku mual dan pusing.


" Aku mau urus dulu kepulanganmu dan menebus resep obat, kamu tunggu dulu ya di sini" Ucap dimas sambil berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar.


Dengan sabar aku menunggu dimas kembali, aku ingin cepat2 pulang ke rumah dan istirahat di kamarku.


Tak lama dimas kembali membawa kursi roda dan seorang perawat, perawat itu tersenyum ramah dan kemudian mencabut infusan di tanganku.


Lalu dimas menggendongku dan mendudukkan aku di kursi roda, di dorongnya dengan perlahan keluar menuju mobil, setelah sampai di depan mobil aku kembali di gendongnya dan di dudukkan dengan perlahan dan sangat hati2 di mobil, mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang membawaku pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2