Belenggu Derita

Belenggu Derita
Koma


__ADS_3

Aku tersadar dari pingsan saat tercium bau minyak angin di hidungku, rupanya bi nani yang mengoleskan karena melihatku pingsan tadi.


" Dimana aku bi?" Tanyaku bingung.


" Neng ros tadi pingsan, ada apa neng sampai neng bisa pingsan" Jawab bi nani cemas, untung firman masih tertidur pulas di sebelahku. Aku langsung teringat dengan telpon tadi.


" Ya alloh bi, dim..dimaaass" Pekikku.


" Ada apa dengan den dimas neng??" Tanya bi nani.


" Dimas kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit xx bi!!!" Teriakku histeris.


" Iiiya neng yang sabar ya, kasihan den firman neng, neng ros yang tenang ya, berdo'a saja semoga tidak apa2" Ujar bi nani menenangkanku, aku teringat anakku firman segera aku berusaha tenang dan berfikir positif.


" Iya bi astaghfirulloh, bibi jagain firman ya, aku mau ke rumah sakit dulu" Ucapku dengan berlinang air mata.


" Iya neng jangan khawatir, den firman sama bibi di sini, neng ke rumah sakit saja dulu, tapi neng harus sabar, tabah, ikhlas dan tawwakal ya, hadapi semua dengan ketenangan, jangan sampai kenapa2, inget den firman ya" Pesan bi nani, akupun menganggukkan kepalaku.

__ADS_1


Segera aku berangkat ke rumah sakit naik taksi, dalam perjalanan tak henti2nya aku berdo'a memohon padanya agar dimas tidak kenapa2. Sesampainya di rumah sakit ku tanyakan ruangan tempat dimas di rawat.


" Dokter gimana keadaan suami saya dok??" Tanya ketika memasuki ruangan IGD.


" Tenang bu ya yang sabar, suami ibu sudah melewati masa kritisnya, tapi sekarang beliau koma, karena benturan di kepalanya yang lumayan keras" Tutur dokter.


" Astaghfirulloh!!" Pekikku tertahan, tangisku tak bisa ku tahan lagi mendengar dimas koma.


"Ibu yang tenang ya, berdo'a semoga pasien bisa melewati semua ini dan kembali sadar" Tutur dokter kbali.


Nampak dimas terbaring dengan berbagai macam alat yang terpasang di tubuhnya, aku tak dapat menahan tangis lagi.


" Kenapa bisa terjadi seperti ini dimas, cepatlah sadar kembali, aku dan firman menunggumu" Isakku, ku genggam tangan dimas yang terasa dingin dengan erat.


Seseorang tiba2 mengusap bahuku dengan lembut, aku terlonjak kaget. Kulihat yuli sahabatku berdiri dengan berlinang airmata.


" Dimas yul dimas" Rintihku.

__ADS_1


" Iya ros, kamu yang sabar ya, insya alloh nanti juga akan cepat2 sadar kembali" Hibur yuli.


" Aku takut yul dimas ninggalin aku dan firman" Isakku pilu.


" Ga ros jangan bicara seperti itu, yakinlah dimas akan kembali sadar" Bisik yuli sambil memelukku, kubalas pelukan yuli dengan erat. Kutumpahkan tangisku dalam pelukan yuli, setelah agak tenang yuli mendudukkanku di di kursi sebelah ranjang dimas dan memberiku minum.


" Firman di rumah sama siapa ros?" Tanya yuli setelah melihatku berhenti nangis.


" Sama bi nani yul" Jawabku, yulipun manggut2.


" Mertua dan ibumu sudah di kabari di kampung?" Tanya yuli lagi, akupun menggelengkan kepalaku, kulirik dimas yang masih terpejam matanya dengan berlinang air mata.


" Ya sudah biar aku saja yang nelpon ke kampung ros, kamu tunggu di sini aku mau keluar nelpon sama beli makan" Tutur yuli, aku hanya menganggukkan kepalaku tak mampu untuk bicara, fikiranku kosong masih syok dengan musibah ini.


Yulipun keluar untuk menelpon keluarga dan mertuaku, aku kembali duduk di samping dimas, kupandangi wajah dimas yang pucat, bibirnya membiru. Kepalanya dibalut dengan perban, rasa takut menghantui fikiranku, aku takut dimas tak bangun lagi dan meninggalkan aku dan firman. Aku kembali menangis tersedu sedu, sungguh aku merasa takut yang teramat sangat.


Aku kembali tersadar dan ingat anakku firman, aku harus kuat apapun yang terjadi, demi anakku yang masih kecil jangan sampai aku terpuruk dan jatuh sakit.

__ADS_1


__ADS_2