Belenggu Derita

Belenggu Derita
Sangkar emas


__ADS_3

Setelah istirahat beberapa hari tubuhku kembali sehat dan bugar, nafsu makanku pun sudah kembali lagi, tapi aku tidak di perbolehkan untuk keluar rumah sekedar jalan2 ataupun ketemu yuli sahabatku.


Benar2 membosankan bahkan yuli pun di larang main ke rumah, apa2 yang aku mau makan di beli lewat online atau di masakin bi nani.


Sikaf dimas padaku setelah pertengkaran waktu itu menjadi dingin dan jarang bicara, aku pun tak mau ambil pusing bodo amat lah semaunya saja, siang hari aku keluar kamar pergi ke dapur, rasa2nya aku pengen bikin seublak yang pedas.


" Bi di kulkas ada ceker sama tulang ayam ga ?" Tanya ku pada bi nani yang sedang beres2 di dapur.


" Duh ga ada neng, emang mau bikin apa gitu, seublak ?" Jawab bi nani sambil bertanya padaku.


" Iya bi" Ku anggukkan kepalaku, lalu aku duduk di kursi depan meja makan dengan cemberut, huuh mau belanja juga pasti ga boleh sama dia bhatinku kesal.


" Ya sudah bibi belanja ke pasar ya neng, catat saja apa2 yang mau di beli" Ucap bi nani.


" Pengen ikut belanja tapi pasti ga boleh, hhh membosankan" Sungutku jengkel.

__ADS_1


Bi nani pun tersenyum dan mengusap punggungku.


" Yang sabar ya neng, ikutin saja mau nya den dimas" Ucap bi nani.


" Ya mau gimana lagi bi, mau ga mau ya harus nurut" Cebikku.


" Sok atuh di catat neng apa2 saja yang mau di beli" Ucap bi nani lagi dengan terkekeh melihatku yang cemberut.


Aku pun segera mencatat apa saja bahan2 untuk membuat seublak, setelah selesai di catat lalu ku serahkan pada bi nani, tanpa lama bi nani bergegas pergi ke pasar untuk belanja pesananku.


" Kamu mau bikin makanan pedas lagi ros ?" Tiba2 terdengar suara seseorang bertanya dengan dingin.


Akupun menoleh dengan sedikit terkejut, karena aku tadi lagi melamun memikirkan keadaanku yang tak boleh kemana2.


" Iya" Jawabku singkat setelah tahu siapa yang bertanya.

__ADS_1


" Jangan pedas2 kasihan baby di perutmu" Ucap dimas dingin.


" Justru ini keinginan baby'y" Kilahku, dimas duduk di hadapanku matanya menatao tajam padaku, tapi aku pura2 sibuk mengaduk aduk minumanku.


" Aku ga mau kamu dan anak kita sakit, ingat sekarang bukan cuma diri kamu sendiri tapi ada anak kita di dalam perutmu" Tutur dimas, meski terdengar sedikit lembut tapi penuh penekanan.


" Aku yang punya badan lebih tahu kok batasannya, tenang saja ga usah khawatir, karena jika sakit bukan kamu yang ngerasain tapi aku" Sahutku ketus, lalu aku pun berdiri dan pergi ke kamarku meninggalkan dimas yang menatap kesal padaku.


Ah aku tak peduli dia mau marah mau ga, aku sudah terlalu sangat pusing dengan semua larangannya, ga boleh ini itu, ga boleh keluar sekedar jalan2 atau juga ketemu sahabatku.


Ku baringkan tubuhku dengan kesal, rese amat jadi orang itu, banyak aturan ini lah itu lah omelku dalam hati.


Segala kebutuhanku dimas mencukupi semuanya, tapi aku ga boleh melakukan hal yang aku mau dan sukai, semua harus atas ijin dimas, aku bagaikan burung di dalam sangkar emas, sungguh tersiksa sekali rasanya menjalani hidupku ini.


Setelah puas aku ngomel2 dalam hati tak terasa mataku mulai berat, dan aku pun tertidur dengan memeluk guling kesayanganku yang selalu setia menemaniku.

__ADS_1


__ADS_2