
Krieeeett...
Tiba2 pintu terbuka membuatku terkejut, mataku membulat sempurna melihat sosok yang datang, sosok yang sangat tidak kuharapkan kedatangannya.
" Kau terkejut bukan melihatku?" Tanyanya ketus dan dingin.
" Nyo..nyonyaa" Jawabku terbata.
" Aku kemari untuk menunggui kekasihku yang lagi koma, kau pergilah dari hadapanku" Usirnya dengan angkuh.
" Tapi aku istrinya nyonya" Sahutku berusaha tegas.
__ADS_1
" Hhh istrinya??? Cuma di atas kertas karena tetap akulah yang utama" Cibirnya, aku tak mampu lagi bicara, lidahku terasa kelu.
" Kenapa masih disitu, keluar kataku!!!" Bentaknya sambil menatap tajam penuh kebencian padaku.
" Tapi nyonya tolong aku masih mau disini menemani suamiku" Pintaku memohon, tapi nyonya tati sedikitpun tak peduli meski aku sudah mulai menangis.
" Keluar ku bilang, kau fikir siapa yang menanggung semua biaya rumah sakit ini hah??!! Pengawal seret dia keluar dan jangan sampai dia masuk lagi kesini!!" Nyonya tati kembali membentakku, dan dua orang lelaki langsung memegangi tanganku dan menyeretku keluar, ingin aku teriak tapi aku masih sadar ini rumah sakit. Kedua pengawal perempuan jahat itu menyeretku keluar dan menghempaskanku kedalam lift.
" Dasar perempuan jahat ga punya perasaan, aku ini istrinya yang sah" Teriakku menumpahkan amarahku yang terpendam, setelah sampai di lantai bawah aku berjalan dengan gontai keluar rumah sakit, hatiku kosong, jiwaku terasa hampa, aku tak tahu harus kemana apakah pulang atau menunggu disini.
Tapi aku takut nyonya tati berbuat yang bisa mencelakakan aku, aku masih ingin bertemu anakku. Akupun akhirnya memutuskan untuk pulang naik taksi sambil menenangkan fikiranku yang lagi kalut.
__ADS_1
Setelah sampai ke rumah aku di sambut bi nani dengan muka yang khawatir melihat keadaanku yang acak2an dan mata yang sembab, sungguh sangat memprihatinkan.
" Neng udah pulang, ada apa neng kok kusut begini, apakah den dimas baik2 saja neng??" Tanya bi nani cemas.
" Nanti saja bi aku ceritain, sekarang aku mau istirahat dulu, badanku sangat lelah bi" Ujarku lirih.
" Ya sudah neng isirahat saja dulu, den firman udah tidur jadi neng bisa istirahat" Tutur bi nani, aku tak menjawabnya, dengan cepat aku masuk kamar dan kurebahkan badanku di atas kasur, airmataku kembali mengalir ( ya alloh apa yang harus aku lakukan, berikanlah hambamu ini ketabahan dan kesabaran yang tak terhingga dalam menghadapi ujianmu ini) Bhatinku sambil kupejamkan mataku yang terasa lelah.
Aku selalu datang ke rumah sakit untuk melihat dimas, tapi selalu di jaga ketat oleh pengawal nyonya tati, aku tak pernah berhenti terus mencoba dan mencoba agar aku bisa melihat dan mengetahui keadaan dimas. Setelah hampir sebulan akhirnya kegigihanku membawa hasil, nyonya tati mengijinkanku melihat dimas, ingin aku berlari memeluk tubuh dimas yang masih belum sadar, tapi baru saja aku melangkah untuk mendekat nyonya tati langsung menutup pintu ruangan dan memerintahkan pengawalnya mengusirku lagi.
Aku sungguh sangat geram, kenapa aku istrinya tidak boleh menemui dan merawat suami yang lagi sakit. Uang segalanya memang, yang berkuasa menindas yang lemah.
__ADS_1