
Dengan perlahan kesadaranku kembali pulih, kukerjapkan mataku yang terasa di penuhi kabut, kepalaku terasa sakit sekali. Aku berusaha bangkit dan melihat sekeliling, ternyata aku sudah berada di kamarku.
Tak lama pintu kamarku terbuka dimas masuk bersama seorang perempuan yang memakai pakaian serba putih dengan menjinjing tas.
" Sayang syukurlah kamu sudah sadar, jangan dulu bangun dokter akan memeriksa kamu" Ucap dimas dengan cepat memeluk tubuhku dan membaringkannya.
" Tolong periksa istri dan anak saya dok" Ucapnya ke dokter itu.
" Baik pak, saya akan memeriksa dulu ibunya" Sahutnya dengan tersenyum, setelah selesai dokterpun membereskan kembali peralatannya.
" Gimana dok?" Tanya dimas dengan cemas.
" Istri bapak mengalami syok yang luar biasa, itu tidak baik untuk kesehatannya dan bisa membahayakan janinnya, tolong jangan sampai istri bapak mengalami hal ini lagi karena bisa berakibat fatal" Jawab dokter dengan cepat.
" Iya dok, saya akan menjaga istri dan anak saya lebih hati2 lagi" Ujar dimas lirih.
" Ini segera di tebus resepnya ya pak, penguat kandungan dan vitamin" Ujar dokter sambil menyerahkan resep yang tadi di tulisnya.
" Saya permisi dulu pak, semoga istri bapak cepat sehat kembali" Pamitnya denga sopan, dimaspun mengantarkan dokter itu sampai pintu, Tak lama dimas sudah kembali lagi ke kamar dan memelukku dengan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang yang ga bisa melindungimu dan anak kita, aku ga tau kalau si tua itu akan datang, tolong maafkan aku" Rintih dimas dengan penuh penyesalan yang teramat sangat.
Aku hanya diam membisu tak tahu mau bilang apa, ucapan perempuan itu masih terngiang di telingaku, aku takut teramat takut dimas mengetahuinya.
Kubalas pelukan dimas dengan erat, akupun menangis sejadi jadinya dalam pelukan dimas, aku sungguh takut suatu saat semuanya akan terbongkar, dimas semakin merasa bersalah melihatku yang menangis terus menerus.
" Menangislah sepuasmu bila perlu pukul aku sayang, biar rasa sakitmu itu sedikit berkurang" Ujarnya dengan terisak, aku semakin merasa takut, kugelengkan kepalaku mengisyaratkan dimas kalau aku ga apa2.
Setelah puas menangis kulepaskan pelukanku lalu ku rebahkan tubuhku di atas kasur kembali.
" Bicaralah sayang jangan diam seperti itu, aku sungguh tidak bisa memaafkan diriku jika kamu seperti ini" Ucap dimas dengan putus asa.
" Aku ga apa2 kok, tenanglah" Akhirnya dengan susah payah keluar juga suaraku, dengan cepat dimas meraih tanganku dan di kecupinya berulang ulang.
Aku berusaha tersenyum untuk meyakinkan dimas bahwa aku baik2 saja, dimas menatapku dengan sendu.
" Kamu masih marah sama aku?" Tanyanya cemas, aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum manis
" Ga kok, aku akan berusaha kuat dan melupakan kejadian tadi demi anak kita ini, biar dia bisa tumbuh dengan sehat" Ujarku sambil mengelus perutku yang sudah mulai membuncit.
__ADS_1
" Terima kasih sayang, kamu harus kuat demi anak kita ini" Ucap dimas bahagia, di kecupnya perutku dengan penuh kasih sayang.
" Kamu mau makan apa, setelah makan kamu harus minum obat dan istirahat?" Tanya dimas dengan lembut.
" Bubur saja, karena tubuhku masih lemas. Kalau makan nasi takut ga masuk" Sahutku, dimas pun bergerak dengan cepat pergi ke dapur untuk menyiapkan bubur.
Tak lama dimas kembali lagi dengan semangkuk bubur dan teh hangat.
" Aku suapin ya, tapi buburnya ga pake sambel, semntara jangan dulu makan yang pedas ya" Ucap dimas, aku pun menuruti apa kata dimas, setelah selesai makan itupun ga habis keburu perutku terasa mual. Setelah minum teh hangat mualku pun agak berkurang.
Tak lama bi nani maduk dengan membawa obat resep dari dokter.
" Ini den obatnya" Ucapnya sambil menyodorkan obat ke dimas, lalu menatapku dengan berkaca kaca.
" Neng cepet sembuh ya, obatnya di minum biar cepet sehat lagi" Ucap bi nani dengan suara parau menahan tangis.
" Iya bi makasih, aku udah ga apa2 kok, tinggal lemasnya doang" Sahutku dengan tersenyum.
Bi nani pun keluar dengan membawa mangkok bekas bubur tadi, dimas segera menyiapkan obat yang harus ku minum, aku hanya diam memperhatikan dimas yang benar2 membuatku terharu dengan perlakuannya sekarang.
__ADS_1
Setelah minum obat aku pejamkan mata ini, kutarik nafasku dengan perlahan untuk mengusir segala rasa gundah di hati, sebuah tangan terasa membelai rambutku dan kemudian memelukku dengan erat. Terasa nyaman kurasakan dan membuatku tenang, akhirnya aku pun tertidur, meski dalam tidur pun aku merasa tak tenang, sering aku terbangun dan mengigau, dimas kembali memelukju dan menenangkanku.