
Senyum diwajah pria paruh baya bernama Rudi Adinata itu merekah ketika manik matanya mengabsen satu per satu anggota keluarganya yang saat ini berkumpul di mansion. Disana, nampak pula Aleysia — bocah cilik yang begitu menggemaskan, duduk dipangkuan Andin. Namun ketika tatapannya terhenti pada Andin, tiba-tiba saja senyum itu menyurut. Pasalnya ... sampai detik ini, Andin belum sekalipun mengenalkan seorang pria yang akan menjadi calon suami padanya. Padahal menurutnya, usia Andin sudah pantas menyandang gelar istri.
“Andin,” panggil Rudi.
“Iya Pi?” sahut Andin. Ia langsung menghentikan aktivitasnya menciumi pipi chubby Aleysia dan menolehkan kepalanya menatap Rudi.
“Berapa usiamu sekarang, Nak?” Pertanyaan yang terdengar sangat konyol namun berhasil membuat semua yang berada disana mengalihkan fokusnya pada Rudi. Mereka pun dibuat heran. Pasalnya, baru beberapa hari yang lalu mereka berkumpul untuk merayakan pesta ulang tahun putrinya yang ke dua puluh tujuh di sebuah restoran disalah satu hotel miliknya.
“Andin ini anaknya siapa? Kenapa Papi bisa lupa usia anak sendiri?” Bukannya menjawab pertanyaan Papinya, Andin malah memberikan pertanyaan yang ia sendiri tahu jawabannya.
Rudi terkekeh geli melihat wajah kesal Andin.
“Baiklah, akan Papi perjelas. Papi merasa, usiamu saat ini sudah pantas untuk membina rumah tangga. Apalagi Papi melihat, kamu sangat pandai bagaimana caranya memperlakukan anak kecil," ujar Rudi yang melihat Aleysia betah berlama-lama dipangkuan Andin. Bahkan Rissa yang notabene adalah ibu kandung dari bocah itu, di acuhkan bila berada didekat Andin.
“Hah?” Andin begitu terkesiap mendengar penjelasan papinya hingga membuat netra hitam miliknya membola sempurna.
“Benar apa kata papimu, Sayang. Apakah saat ini kamu sudah memiliki kekasih? Bila sudah ada, bawalah dia kemari. Kenalkan pada kami.” Kali ini Mira menimpali pertanyaan suaminya. Ia pun memiliki harapan yang sama seperti suaminya yaitu melihat anak bungsunya itu segera menikah dan memiliki keluarga.
Andin menghembuskan napas panjang. Ia tahu pertanyaan ini cepat atau lambat akan datang padanya.
“Tenang ... semua ada waktunya. Tunggu saja tanggal mainnya,” ucap Andin sembari tersenyum meyakinkan. Seolah senyum itu menyiratkan bahwa orang tuanya tak perlu khawatir.
“Jangan terlalu lama di zona nyaman, apa kamu mau menjadi perawan tua?” celetuk Adrian untuk memanaskan situasi.
“Kebiasaan, kalau bicara tidak ditakar dulu. Apa kamu tidak melihat, Mas? Ada putrimu disini! Dia sudah bisa meniru ucapan orang dewasa.” Rissa mencubit pinggang Adrian karena kesal terhadap suaminya yang selalu berbicara sembarangan. Seperti tidak sadar dengan keberadaan Aleysia di sekitar mereka. Bagaimana tidak, bocah kecil yang sudah berusia hampir dua tahun itu mulai bisa menyalin kalimat orang dewasa.
“Auchhh ... sakit, sayang!” Adrian mengaduh sembari tangannya mengusap pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan Rissa. Ekor matanya melirik ke arah putrinya yang melongo di pangkuan Andin.
“Rasakan itu, Bang. Makanya jangan suka nyinyir,” ejek Andin dengan penuh kemenangan.
“Awan tua,” kata Aleysia dengan bahasa khas anak kecil. Bocah itu mendongakkan kepalanya menatap Andin.
Andin segera membekap mulut Aleysia dengan kedua telapak tangannya. “Bukan apa-apa, Sayang. Papahmu hanya salah bicara."
“Kamu dengar itu, Mas!” Rissa melototkan matanya pada Adrian. Rasanya ia ingin sekali menarik bibir suaminya itu agar tak lagi berbicara sembarangan.
“Maaf sayang. Keceplosan.”
“Apa kamu mau dijodohkan juga seperti Abangmu? Beberapa kolega Papi ada yang masih muda
dan single. Mungkin salah satu dari mereka ada yang cocok untukmu,” lanjut Rudi lagi.
__ADS_1
“Tidak,” jawab Andin cepat seraya mengibaskan kedua tangannya. Menolak usulan Rudi. “Zaman sudah berubah, Pi. Kenapa pemikiran Papi masih saja primitif?”
“Bukan primitif. Papi hanya ingin mempermudah urusanmu dalam mencari suami,” sahut Rudi membela diri. “Kalau tidak mau, ya, tidak apa. Papi tidak akan memaksa. Yang terpenting bagi Papi, dia mencintai dan menyayangimu melebihi kami.”
“Nah, begitu baru asyik. Tidak usah pakai acara dijodoh-jodohkan segala.” Andin mengangkat dua jempolnya sembari mengedipkan matanya pada Rudi. “Seperti tidak laku saja,” gumamnya pelan.
“Hei ... Apa kamu tidak melihat kami? Kami ini hasil perjodohan Papi,” sergah Adrian tak terima atas kalimat adiknya yang terakhir, “Papi tahu selera anak-anaknya. Seperti dia,” Adrian merangkul Rissa dengan penuh rasa bangga. Ia ingin menunjukkan pada Andin bahwa menikah karena perjodohan itu tidaklah buruk. Bahkan, Adrian sangat bersyukur karena di jodohkan Papinya dengan wanita yang telah memberinya satu orang anak itu.
“Iya, tapi pakai drama kabur-kaburan dulu, kan? Tanpa tahu terlebih dahulu wujud asli Kak Rissa,” sindir Andin dengan nada sengit membuat Adrian bungkam seketika. Pria itu tidak bisa mengelak karena apa yang diucapkan adiknya, memang benar adanya. Sementara Rissa hanya mengulum senyum melihat suaminya kalah telak.
***
Seorang pria muda terlihat baru saja mengeluarkan tubuh tinggi tegapnya dari mobil yang telah ia parkirkan di halaman rumahnya, lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya. Pria, yang tak lain adalah Reza menarik langkahnya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
“Assalamualaikum,” ucapnya disertai gerakan kakinya melepas sepatu yang membungkus kedua telapak kakinya tepat di depan teras kemudian meletakkanya di rak yang berada dibalik pintu rumah.
“Waalaikumsalam, Cha,” sahut Ahmad dan Hesti, orangtua Reza.
Reza langsung mencium tangan kedua orang tuanya yang duduk berdampingan di sofa panjang. Sebuah koper dengan ukuran lumayan besar berdiri tegak di samping sofa tunggal, menarik perhatiannya.
“Bapak dan Ibu mau ke mana?” tanya Reza sambil berlalu pergi menuju kulkas untuk mengambil air mineral di dalam sana dan kembali menghampiri orang tuanya. Sesaat kemudian ia ikut duduk di sofa tunggal.
“Sukabumi? Kenapa mendadak?” Reza menatap bingung pada kedua orang tuanya. Tidak biasanya Ahmad dan Hesti pergi ke Sukabumi, walau itu adalah kampung halaman mereka. Namun jika bukan moment lebaran atau libur panjang, mustahil keduanya akan pergi kesana.
“Tidak mendadak, kami saja yang lupa memberitahukanmu sebelumnya.”
“Memangnya ada urusan apa hingga membuat Bapak dan Ibu harus pergi kesana? Biasanya juga kalau kesana ketika mendekati lebaran, sekalian ziarah ke makam Aki dan Nini,” tutur Reza yang mengingat rutinitas tahunan orang tuanya.
Ahmad dan Hesti, sejenak saling memandang dengan bibir menyungging senyum lalu berpindah menatap Reza yang masih setia menunggu jawaban dari mereka.
“Apa kamu ingat Fathan? Temanmu sekaligus tetangga kita waktu di kampung. Minggu depan dia akan menikah. Orang tuanya mengundang kita untuk hadir di acara pernikahan putranya," terang Hesti.
Reza yang tengah asyik menuangkan air kedalam mulutnya, tersedak kala indra pendengarannya menangkap jelas kalimat yang diucapkan Hesti.
“Apa? Fathan menikah?” Setengah berteriak karena terkejut. Reza tahu pasti, Fathan adalah tipe lelaki yang sangat tertutup dengan wanita. Berbeda dengan dirinya yang selalu bergonta-ganti pacar hingga cap playboy melekat erat pada dirinya. Tapi itu dulu, jauh sebelum dirinya mengenal sosok Rima, sayangnya wanita itu menolak cintanya empat tahun yang lalu. Dan pria berambut model undercut messy itu berpikir, tidak ada gunanya lagi menghabiskan waktu untuk bermain-main dalam hubungan yang tidak serius.
“Iya, dia dijodohkan oleh orangtuanya dengan putri pemilik yayasan pendidikan tempat ia mengajar selama ini."
"Kalau acaranya minggu depan, kenapa harus pergi sekarang?" tanya Reza, "apa tidak sebaiknya ditunda dulu, biar Echa bisa mengantarkan Bapak dan Ibu kesana."
"Sengaja kami pergi sekarang, kamu tahu sendiri, kan, kalau acara di kampung itu kalau satu orang yang punya hajat, satu kampung akan ikut membantu. Lagipun, Ibu dan ibunya Fathan sudah seperti saudara. Tidak enak kalau tidak datang dari sekarang."
__ADS_1
Reza yang mendengar penjelasan Hesti hanya mengangguk-anggukan kepala.
“Wah, sepertinya sang playboy ditikung Kak Fathan, nih.” Tiba-tiba saja Rania datang dari arah luar dan menyela, lalu secara bergantian ia mencium punggung tangan tiga orang yang duduk di sofa.
“Sembarangan, Kakak bukan playboy,” bantah Reza cepat, “kalau Kakak ini playboy, kenapa Kakak menjadi pihak yang selalu tersakiti?”
Reza merupakan pria baik, ramah dan juga cerdas disegala bidang akademik dan non akademik. Dulu ketika masih menempuh pendidikan di bangku SMA hingga perguruan tinggi, banyak wanita mendekatinya hanya untuk mengambil keuntungan dari otak cemerlangnya. Setelah mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, para wanita itu mencampakkannya begitu saja. Terlebih lagi ketika mengetahui fakta bahwa Reza bukanlah pria yang berasal dari keluarga berada dan bekerja sebagai office boy disalah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa selama dua tahun ini ia hanya fokus bekerja dan berhenti memikirkan wanita. Ia ingin memapankan dirinya agar ia pantas berdiri disamping wanita yang akan menjadi pendampingnya kelak. Namun tak dapat dipungkiri, selama perjalanan dua tahun itu, ada sebuah nama yang tersimpan rapat di sudut hatinya dan ia jadikan motivasi hingga kini.
“Biasakan kalau masuk rumah itu salam dulu,” tegur Hesti pada Rania.
“Hehehe, Nia lupa, Bu.” Rania menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tak berdosa dengan apa yang ia lakukan barusan.
Hesti kembali menatap Reza. “Satu persatu temanmu sudah menikah. Lalu kamu, kapan kamu akan menikah? Apa kamu tidak memiliki keinginan yang sama seperti mereka?”
“Keinginan pasti ada, Bu. Cuma calonnya saja yang belum pasti ingin.”
“Maksudnya?” Hesti mengernyitkan keningnya. Bingung dengan ucapan Reza.
“Ehm ....” Reza memalingkan wajahnya ke arah kaca bening yang tertutupi gorden tipis ketika mendengar suara deru mesin mobil mendekat. “Itu mobil travelnya sudah tiba.”
Ahmad mencondongkan tubuhnya kedepan menatap ke arah pintu yang terbuka. “Ah iya, benar.”
Semua yang ada di ruang tamu beranjak keluar rumah. Reza menarik tuas koper untuk diberikan pada sopir travel sebelum akhirnya koper itu dimasukkan ke dalam bagasi. Reza dan Rania bergantian mencium tangan kedua orang tuanya.
“Maaf, Echa tidak bisa mengantar Bapak dan Ibu ke sana," kata Reza sembari membukakan pintu mobil. Terlihat dari sorot matanya, ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengantarkan orang tuanya.
“Tidak apa. Bapak memang tidak mau merepotkanmu. Bapak tau, pekerjaanmu di kantor pasti banyak," ujar Ahmad menenangkan Reza.
“Insya Allah Echa akan menyusul. Biar nanti kita pulangnya bisa bareng."
“Iya, terserah kamu. Ya sudah, kami pergi dulu. Kalian jaga diri baik-baik. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Bapak dan Ibu hati-hati di jalan. Kabari kami bila sudah tiba dan sampaikan salam pada keluarga disana.”
Ahmad dan Hesti mengangguk kemudian melambaikan tangan.
"Bagaimana tesismu, lancar?" tanya Reza sambil melangkahkan kakinya kembali masuk ke rumah bersama adiknya.
"Lancar Kak, tinggal beberapa kali bimbingan semuanya akan beres."
"Bagus, Kakak bangga padamu." Reza mengusak rambut Nia dengan sayang.
__ADS_1