Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Debaran Itu Lagi


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Event yang diadakan Dinata Group sudah sampai pada puncaknya membuat Andin bisa bernapas lega. Pasalnya, wanita itu ditunjuk langsung oleh kakaknya sebagai penanggungjawab seluruh event.


Meskipun lelah terkadang mendera, ia beruntung memiliki seseorang yang selalu sigap membantunya dalam hal apapun bila ia mengalami kesulitan. Yah, walau konsekuesinya wanita itu harus memupuk kesabaran dan sedikit menahan kesal menghadapi tingkah laku Reza yang kadang menyebalkan.


Seperti saat ini, Reza hanya duduk diam sambil memperhatikan Andin tengah sibuk mengeluarkan semua unek-uneknya mengenai sikap Adrian yang terlalu perfeksionis dan juga otoriter.


"Aku, 'kan adiknya. Kenapa dia terlalu berlebihan seperti itu? Memberikan beban pekerjaan yang menurutku tak sesuai job desk. Aku ini manusia bukan robot."


Tak ada respon dari pria di sampingnya itu membuatnya menolehkan kepala.


"Reza!"


"Hem."


Respon singkat yang Reza berikan membuat Andin semakin kesal.


"Kamu dengerin aku nggak, sih? Dari tadi cuma diam."


"Aku dengerin sambil menikmati pahatan Tuhan yang sempurna di depanku ini."


Seketika Andin mematung. Debaran yang sempat ia rasakan beberapa waktu lalu kembali mengusik hatinya. Namun dengan cepat ia menepisnya kala akal sehatnya mengambil alih pikirannya.


Tidak ... ini tidak mungkin terjadi. Ini pasti salah. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Reza. Dia sahabatku dan akan terus seperti itu.


"Tuh, 'kan. Kalau diam gini makin cantik."


Andin berdecak. "Mulai deh. Kamu, tuh nggak pernah serius kalau diajak diskusi."


"Tapi bila menyangkut pernikahan, aku serius ingin mengajakmu menikah."


Skak Mat! Lagi-lagi Andin terdiam tak berani berkutik.


Sesaat kemudian Reza bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya di hadapan Andin. "Ayo!" ajaknya kemudian.


"Ke mana?" tanya Andin ambigu.


"KUA."


"Hah!"


Reza tertawa geli melihat Andin yang terkejut dengan mulut terbuka. Begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda," ucap Reza disela tawanya. "Aku sudah lapar. Ayo kita cari tempat makan yang ada di sekitar sini. Setelahnya aku akan mengantarmu pulang. Kamu juga harus bersiap-siap untuk acara malam ini.


***


Dengan mengusung konsep luxury silver. Sebuah grand ballroom tempat berlangsungnya acara company anniversary ke dua puluh lima tahun itu terhias sangat mewah dan elegan. Puluhan meja bundar dengan beberapa kursi yang mengelilinginya pun telah terisi oleh para tamu dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat penting di negeri ini, investor dan juga beberapa kolega dari Rudi dan Adrian.


Tak lupa tuan rumah juga mengundang beberapa penyanyi dan grup band ternama ibukota untuk menambah kemeriahan acara ini.


Mobil yang di kendarai Reza berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang security berlari kecil mendekat ke arah mobil dan membukakan pintu untuk Reza.


"Terima kasih, Pak Agung."


"Sama-sama, Pak Reza."


"Biar saya saja, Pak," cegah Reza saat pria berseragam PDL hitam itu hendak membukakan pintu Andin. Ia mengangguk dan menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi langkah salah satu bosnya itu.


"Silakan Ratuku." Reza mengulurkan tangannya pada wanita yang ia cintai itu untuk membantunya turun dari mobil.


"Apa sih, Za. Lebay!" Andin memukul kesal tangan Reza tapi tak sampai menyakitinya.


Reza terkekeh. "Buruan. Acara akan segera dimulai."


Akhirnya tangan yang menggantung di udara itu tersambut oleh tangan Andin. Setelah memberikan kunci kontak pada petugas vallet parkir, keduanya pun melangkah masuk ke dalam ballroom.


"Siapa yang gila?" tanya Bagas yang celingukan mencari siapa yang dimaksud Nana barusan.


"Pak Reza dan Bu Andin," ucapnya tanpa menelaah kata terakhir dari Bagas. Matanya pun tak beralih dari pria yang mengenakan kemeja biru tua terbalut jas berwarna hitam dan wanita yang mengenakan nightgown berwarna biru muda tanpa lengan dengan rok menjuntai hingga ke betis.


"Hah! Beraninya kamu bilang mereka gila. Wah cari perkara ni cewek," sentak Faisal yang tak terima ucapan Nana.


"Bu-bukan itu maksudku. Aku hanya memuji bukan meledek mereka gila," sanggah Nana. Raut wajahnya mulai berubah pucat.


"Serius?" Mega ikut-ikutan menakuti Nana. Ia mengulum senyum melihat wajah Nana semakin panik. Bagaimana tidak, ia merupakan tulang punggung bagi ibu dan adiknya setelah kepergian ayahnya beberapa tahun lalu karena sakit keras. Tak terbayangkan bagaimana nasibnya bila ia dipecat dari Dinata Group, perusahaan bonafit yang bisa memberikan gaji berkali-kali lipat dibandingkan perusahaan lain.


"Kamu liat sendiri mereka. Tampan dan cantik, 'kan?" imbuhnya lagi dan membuat ketiga rekannya melihat ke arah meja VVIP tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Sudah sudah sudah," lerai Bagas, "kalau mereka tahu kita memperhatikannya. Mereka akan merasa tak nyaman."


Sedangkan pasangan yang mereka perhatikan tadi, tengah asyik menikmati lagu yang dibawakan oleh vokalis band yang melejit lewat album terbarunya yang mengaransemen ulang lagu-lagu lawas.


"Kamu mau minuman yang berwarna?" tawar Reza pada Andin saat melihat beberapa pelayan membawa nampan yang di atasnya tersaji berbagai macam minuman, tentu saja tidak beralkohol

__ADS_1


Andin mengangguk. "Boleh."


Reza menunggu sejenak sampai salah satu pelayan itu mengalihkan pandangannya pada meja mereka. Ia memicing, merasa familiar dengan salah satu pelayan itu. Sesaat kemudian ia tersenyum. Tanpa suara ia melambaikan tangannya, bermaksud meminta wanita itu mendekat.


"Pak Reza," sapa Amalia ramah. Kemudian mengangguk pada Andin karena wanita itu belum mengetahui namanya. Benar ia sudah bekerja selama dua bulan di sana namun karena selama itu Andin selalu terjun ke lapangan membuat mereka tak mengenal satu sama lain.


"Hai Amalia," balas Reza tak kalah ramah. "Kamu di sini juga ternyata?"


"Iya Pak. Lumayan buat tambahan."


"Bagus. Kamu harus semangat Amalia."


"Iya Pak. Terima kasih."


"Ehem."


Sebuah deheman yang diciptakan Andin, mengurai interaksi Reza dan Amalia. Pria itu menoleh ke samping kirinya.


"Oh iya. Andin ini Amalia. Dia ini OG baru di kantor kita. Tapi area kerjanya di lantai dua puluh empat," jelas Reza, "dan Amalia ... ini adalah Ibu Andin. Dia adalah wakil presdir kita," imbuhnya.


Netra hitam milik Amalia membola sempurna sesaat setelah mendengar penuturan Reza. Ia terlihat gugup dan merasa tak sopan beberapa saat lalu.


"Ma-maafkan saya, Bu Andin. Saya tidak tahu."


"Tak apa. Hal wajar bila kamu tak mengenali saya. Selama beberapa bulan ini saya memang jarang berada di kantor."


"Amalia, kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat." Reza melihat ada keanehan pada wajah dan tubuh wanita itu.


"Ti-tidak, Pak. Saya baik-baik saja," elak Amalia. Sebenarnya ia sudah merasa tidak enak badan sejak beberapa hari yang lalu. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Apalagi dengan adanya event seperti ini, lumayan untuk mendapat tambahan baginya.


"Oh iya. Saya ambil dua gelas, ya." Reza meraih gelas yang berisi cairan berwarna merah dari nampan dan meletakkanya di atas mejanya.


"Ma-maaf lagi, Pak, Bu. Saya lupa menawarkan minuman," ujar Amalia menahan malu.


Andin dan Reza terkekeh melihatnya.


"Ya sudah. Lanjutkan lagi kerjamu. Ingat ya, semangat."


"Iya Pak," sahut Amalia kemudian melanjutkan lagi langkahnya ke meja-meja lainnya.


Sepeninggal Amalia, Andin menatap heran pada Reza yang terus saja memandangi punggung wanita yang perlahan mulai menjauh dari pandangan.

__ADS_1


"Sepertinya kamu tertarik padanya."


Reza menoleh dan menatap Andin yang juga tengah menatapnya. "Kenapa? Cemburu?"


__ADS_2