Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Honeymoon Part 2


__ADS_3

Dua manik hitam milik pria yang sedari tadi mengulas senyum itu tak lepas memandangi wajah damai wanita yang tertidur pulas di balik selimut putih. Sementara tangannya, sibuk menggusur geraian rambut yang terlihat berantakan, menutupi wajah cantik istrinya.


Dalam hati, tak henti-hentinya ia bersyukur pada pemilik semesta. Menghadirkan wanita sesempurna Andin untuk menjadi pendampingnya. Dan berharap kelak bila ada riak-riak cobaan menerpa pernikahannya, ia mampu melewati dengan hati dan pikiran yang teduh.


“Hanya Tuhan yang tahu betapa aku sangat mencintaimu, Sayang.”


“Room service!”


Teriakan seseorang dari balik pintu, menghentikan Reza untuk mendaratkan bibirnya di kening Andin. Ia menyibak selimut, meraih celana dan kaosnya yang tergeletak asal di lantai kemudian memakainya. Sembari merapikan rambut, ia berjalan menghampiri pintu.


“Ini pesanan Anda, Pak,” ujar pria berseragam khas resort setelah pintu terbuka. Sejenak, Reza meneliti menu sarapan yang ia pesan beberapa saat lalu di atas nampan.


“Oh iya, silakan masuk. Letakkan di sana saja.” Reza menarik pintu lebih lebar. Mempersilakan pria tersebut masuk dan meletakkan di atas meja.


“Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” tanya pria tersebut memastikan sebelum ia benar-benar beranjak dari sana.


“Tidak ada. Nanti kalau ada, saya akan hubungi kembali.”


“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”


Sepeninggal pelayan itu dari sana. Reza pergi ke kamar mandi. Usai membersihkan diri, ia pergi ke balkon kamar dengan membawa secangkir kopi tanpa sedikitpun niat ingin membangunkan istrinya. Ia paham, istrinya itu sangat lelah karena ulahnya.


Matahari mulai beranjak tinggi, membiaskan cahayanya di balik awan tipis membuat riak air laut memancarkan kilauan. Dari tempatnya berdiri, Reza dapat melihat beberapa ikan yang bergerak kesana kemari. Suasana resort cukup tenang.


Sampai pria itu merasakan sesuatu menempel di balik punggungnya. Hangat, sangat hangat. Pandangan teralih, menatap dua tangan yang menumpuk di perutnya. Ia tersenyum.


“Sudah bangun?” tanyanya.


“Kenapa nggak bangunin aku, Bee? Aku telat!”


Reza menegang, berusaha mencerna ujung kalimat istrinya. Sesaat kemudian ia membalik tubuhnya, menatap Andin dengan wajah semringah.


“Kamu hamil, Sayang?”


“Hah!”


Andin tersentak. Menatap heran pada suaminya.


“Sayang … kamu beneran hamil?” ulang Reza.


“En-enggak,” elak Andin disertai gelengan. “Dari mana teorinya menikah baru beberapa hari, aku bisa hamil?”


“Lah, itu tadi apa? Kamu bilang ‘telat’. Berarti kamu hamil ‘kan?”


Andin mendengkus seraya tersenyum tipis, memaklumi sikap suaminya. Terlalu lama menjomblo dan tak pernah berinteraksi dengan wanita secara intens, membuat pria tersebut menerka sesuatu yang tak masuk akal.

__ADS_1


“Aku hanya telat liat sunrise! Bukan hamil,” jelas Andin.


“Oh.”


Wajah Reza berubah redup. Napasnya terhela cukup panjang. Ia ganti menatap hamparan biru yang menyembunyikan keindahan biota alam bawah laut. Melihat itu, Andin menangkup kedua pipi Reza. Berusaha membuat pria itu kembali menatapnya.


“Apa kamu sudah sangat menginginkannya, Bee?”


“Aku tidak terlalu menuntut, Sayang,” jawab Reza. Ia menarik tangan Andin lalu mengecupinya berulang kali. “Diberi cepat atau lambat, kita harus tetap bersyukur.”


Andin diam. Reza pun ikut diam. Suasana menjadi hening sesaat. Hingga suara deburan ombak tipis menjadi latar musik di sekitar mereka.


“Sayang!”


“Bee!”


Refleks keduanya pun tersenyum ketika saling memanggil nama secara bersamaan.


“Kamu duluan, Yank. Mau ngomong apa?”


“Ehm ….” Andin tampak ragu. Entah kenapa, ada rasa khawatir yang tiba-tiba mencuat kepermukaan. “Bagaimana bila aku … aku.”


“Katakan saja, Yank. Aku siap mendengarkan.”


“Aku ragu apakah aku bisa hamil atau tidak. Mengingat usiaku sudah memasuki kepala tiga dan lagi, sejak remaja siklus menstruasiku tidak teratur. Itu juga bisa menjadi pemicuku untuk tidak bisa memiliki anak.”


“Sayang … dengarkan aku. Jangan percayai apa yang menjadi ragumu. Selama kita masih punya doa dan harapan yang sama. Insha allah, semuanya akan menjadi mungkin.” Reza menjeda ucapannya kemudian membenamkan tubuh wanita yang terisak itu ke dalam pelukannya. “Seperti yang kukatakan barusan. Aku tidak akan menuntutmu, Sayang. Kumohon jangan jadikan hal itu membanimu terlalu dalam.”


Wanita itu hanya mengangguk di sela isakannya.


“Sekarang bersihkan dirimu. Aku akan menunggumu untuk sarapan. Setelahnya, kita akan menjelajahi pulau-pulau yang ada disini sepuas-puasnya,” terang Reza dan Andin kembali mengangguk.


***


Menggunakan speedboat yang disewa secara privat beserta guidenya, penjelajahan mereka dimulai dari Pulau Maratua dengan tujuan awal Goa Haji Mangku. Air lautnya berwarna hijau toska. Goa Haji Mangku dari Pulau Maratua, dapat ditempuh sekitar tujuh jam berjalan kaki atau naik speedboat selama lima belas menit. Goa Haji Mangku hanya bisa dijangkau saat air surut.


Goa Haji Mangku menyediakan atraksi utama danau biru dengan air sebening kaca yang terjebak dalam gua ketika air pasang dan surut. Meskipun menuju gua ini membutuhkan energi yang lumayan, namun hal itu tak jadi masalah bagi pasangan pengantin baru tersebut karena keindahannya sepadan dengan lelah. Rasa penat menguap begitu menikmati kesegaran dan suasana gua yang alami.


“Masya Allah, keren banget, sih!” puji Andin dengan mata mengedar ke segala penjuru goa. ”Emang ya, sesuatu yang indah itu pasti tersembunyi.”


“Life jacketnya, Mbak.” Seorang guide mengulurkan sebuah benda untuk meminimalisir kecelakaan.


“Terima kasih, Mas. Saya bisa berenang, kok,” tolak Andin.


“Pakai aja, Yank. Nanti kakimu kram lagi, loh,” sela Reza.

__ADS_1


“Nggak akan. Pakai itu cuma bikin aku nggak leluasa bergerak, Bee!”


“Ya sudah!”


Reza duduk di tepian speedboat dan kembali fokus menyetting kamera agar hasil tangkapannya memuaskan. Namun hal itu justru membuat Andin mengernyit.


“Kamu nggak ikut renang, Bee?” tanya Andin dan lekas mendapat gelengan dari Reza. “Kenapa?”


“Dingin! Aku disini saja sambil motoin kamu.”


“Ish, cemen! Nggak seru, kalau kamu nggak ikut masuk ke air.”


“Dingin banget, Sayang. Seriusan.”


Kening Andin semakin berkerut. Bila dingin, mana mungkin ada beberapa orang di sekitar mereka yang berenang, bahkan sangat menikmati. Akan tetapi, sebuah ide nakal terlintas di otaknya.


“Pinjam kameranya sebentar, Bee,” pinta Andin. “Ada yang mau aku lihat disana.”


Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Reza lekas memberikan kamera tersebut sesaat setelah melepaskan tali yang melingkar di lehernya.


“Tolong pegang kameranya sebentar, Mas!” titah Andin pada guidenya.


“Loh, kok—.”


Kalimat Reza terpangkas oleh sebuah dorongan kasar yang membuatnya serta merta terjatuh ke dalam air. Begitu jatuh, Andin segera menyusulnya.


“Yank!” pekik Reza.


“Dingin?”


Reza terdiam. Berusaha merasakan hawa air yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dingin, tetapi lebih cenderung segar di tubuh.


“Nggak sih! Malah segar.”


Andin mencebik kemudian mengalihkan perhatiannya pada pria satu-satunya yang masih tersisa di atas speedboat.


“Mas! Potoin kami, ya?”


“Beres, Mbak,” sahutnya dengan menempelkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran.


Cukup lama mereka menikmati sejuknya air laut Goa Haji Mangku. Sampai akhirnya, menjelang sore mereka meninggalkan lokasi tersebut dan beralih ke Sangalaki untuk melihat konservasi penyu. Pulau ini merupakan tempat penyu bermigrasi dan bertelur.


“Sumpah! Nggak nyesal aku kemari, Bee. Pulau ini indah banget!” lirih Andin. Kini keduanya sedang mengamati proses penyu sisik mengeluarkan puluhan telur di pasir yang digali oleh hewan itu sendiri. Penyu tersebut terlihat mengerang seperti menahan sakit melewati tiap prosesnya.


“Aku kok, ngerasa ikut nyeri plus ngeri ya, ngeliatnya. Kasihan!”

__ADS_1


“Apaan?”


“Itu!” Andin mengikuti jari telunjuk Reza yang mengarah pada penyu. “Nanti kalau kamu melahirkan bakal sakit seperti itu juga nggak, sih?”


__ADS_2