Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

“Menikah?”


Pertanyaan Andin membuat pria di depannya itu mengangguk. Semburat senyum penuh makna tampak jelas di wajahnya yang tampan.


Andin buru-buru menyingkirkan nampan ke atas nakas kemudian menatap Reza dengan tatapan mengintimidasi.


“Serius kamu ingin menikah?”


“Iya Andin. Aku ingin sekali menikah! Menurutmu, apalagi yang aku cari di usiaku yang sudah menginjak angka tiga ini, kalau bukan seorang istri.”


“Katakan padaku! Sejak kapan kamu memiliki kekasih? Kenapa bisa aku tidak mengetahuinya? Dasar curang! Kamu sengaja ingin membalasku, ya?”


“Hah?”


“Iya. Kamu menyembunyikan hubunganmu padaku seperti aku menyembunyikan hubunganku dengan ... Ah, sudahlah! Aku tidak mau menyebut namanya lagi.”


Reza yang mendengar hanya tercengang. Bagaimana bisa Andin membuat kesimpulan seperti itu.


“Bukan seperti itu. Ak—.”


“Aku begitu bersyukur akhirnya dirimu menemukan seseorang yang tepat untuk kamu nikahi,” potong Andin, “katakan, seperti apa dia? Apa yang membuat sahabatku ini bisa jatuh cinta padanya?”


Antusiasnya Andin membuat Reza kelimpungan. Pria itu memalingkan wajah ke mana saja asal bukan ke arah Andin sambil menggambarkan sosok wanita yang selama ini berhasil menduduki singgasana hatinya.


“Ehm ... dia cantik, baik, rendah hati. Terkadang dia jutek sekaligus nyebelin, sih, kalau lagi moody.” Reza kembali menatap lekat-lekat tepat di manik hitam milik Andin. “Tapi terlepas dari itu semua, dia adalah sosok wanita yang sangat istimewa bagiku.”


“Apa kamu mencintainya?” Sambil tersenyum ia menaikturunkan alisnya.


Reza menganggukkan kepalanya lagi dengan cepat. “Aku sangat mencintainya. Bahkan rasa ini sungguh berbeda sekali ketika aku mendekati wanita-wanita yang kusukai sebelum dia.”


“Woah, beruntung sekali dia.” Andin bertepuk tangan, menandakan bahwa ia sangat bahagia memiliki sahabat seperti Reza. Kemudian ia menghentikan tepukannya dan mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan dengan kedua tangan menumpuk di tepi tepat tidur. “Memangnya siapa nama wanita itu?”


“Andin!”


Sebuah panggilan mengalihkan perhatian keduanya. Ada Adrian, Rendy beserta istri mereka datang berkunjung ke ruangan itu.


“Apa kami mengganggu waktu kalian?” tanya Rissa.


“Ah, tidak,” sahut Andin.


“Bandel, ya. Ditinggal sebentar malah kelayapan. Kamu tuh, harus banyak istirahat!” Adrian mengomel ketika sampai di depan Andin.


Bagaimana tidak, saat ia kembali dari bagian Administrasi untuk mengurus kepulangan Andin, ia tak mendapati keberadaan adiknya itu di dalam ruangannya.


“Kelayapan apa sih, Bang? Aku sudah sehat! Buktinya dokter juga sudah mengizinkanku pulang.” Andin bangkit dari duduknya.


“Meskipun begitu, kamu tetap harus memperhatikan kesehatanmu.”

__ADS_1


“Mas!”


Rissa memberi isyarat melalui matanya, menyadarkan suaminya kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Ia terlihat tak nyaman ketika Reza menatap mereka, khawatir pria itu akan tersinggung dengan sikap suaminya.


“Abang nyebelin.” Andin menarik tangan Dina dan Rissa sekaligus untuk mengikuti langkahnya menuju sofa. Menjauhi tatapan Adrian yang mengerikan. Terlalu over protektif, menurutnya.


“Kenapa dia menjelma menjadi monster mengerikan seperti itu sih, Kak? Lebay banget!” bisik Andin.


“Hush! Begitu-begitu dia suamiku, loh,” ujar Rissa sembari memukul pelan lengan adik iparnya itu. “Tapi dia memang seperti itu, sih. Ingat nggak, waktu Kakak dirawat di sini? Sebenarnya waktu itu, dokter sudah mengizinkan Kakak pulang seminggu pasca operasi. Tapi karena Abangmu begitu, Kakak malah terpenjara hampir dua bulan lamanya.”


“Aku saja bahkan tak diperbolehkan untuk menjenguknya dengan alasan dia harus bedrest atau apalah itu,” imbuh Dina.


Mendengar dirinya menjadi bahan gunjingan, Adrian memutar tubuhnya ke belakang.  


“Ekhem!”


Deheman Adrian yang disertai lirikan yang tajam membuat ketiga wanita itu terdiam dan saling melempar tatapan dengan salah tingkah.


“Bagaimana keadaanmu hari ini, Za?” tanya Rendy mengambil alih situasi.


“Sudah lebih baik. Aku bahkan ingin segera keluar dari sini. Kan, kalian tahu aku paling benci suasana rumah sakit.”


“Sabar ... Dokter juga pasti tidak akan mengizinkanmu keluar secepat yang kamu mau. Mereka punya perhitungan sendiri." Rendy memberi pengertian.


Reza menghela napas berat. “Terlalu lama di sini, perkerjaanku menjadi terbengkalai,” keluhnya.


“Tenang saja. Aku tidak akan memotong gajimu atau bahkan memecatmu.” Adrian tergelak. Harus ia akui memang, bila menyangkut pekerjaan, Reza memiliki dedikasi yang tinggi.


“Sudahlah, kesehatanmu jauh lebih penting dari itu semua,” putus Adrian.


Lama mereka saling bertukar cerita dan bercanda hingga akhirnya kedatangan dokter yang hendak memeriksa kondisi Reza menjadi pemutus interaksi itu. Pun mereka undur diri agar Reza bisa beristirahat dengan baik.


***


Setelah memastikan kondisi Reza semakin membaik. Pun dokter mengizinkan pria itu untuk pulang ke rumah. Itu artinya hari ini adalah hari terakhir bagi Reza menjadi penghuni kamar VVIP tersebut.


Selama ia dirawat, tak pernah sekalipun Andin absen untuk menjenguknya. Bahkan dengan telaten wanita itu merawat serta mengajaknya jalan-jalan di taman rumah sakit untuk sekadar membunuh jenuh.


Penolakan, sempat dilayangkan Reza dan keluarganya pada Andin karena mereka khawatir akan merepotkan wanita itu. Namun dasarnya keras kepala, ia mengabaikan peringatan itu dan bersikukuh dengan kemauannya.


Reza sudah duduk di sofa sambil menikmati gerak-gerik wanita yang mengenakan kemeja motif garis dipadukan dengan celana jeans hitam, tengah sibuk membantu adiknya mengemasi beberapa barang miliknya untuk dibawa pulang.


“Nia, biar aku saja yang mengantar Kakakmu pulang. Lebih baik kamu kembali ke kampus,” cetus Andin tiba-tiba.


“Tidak perlu, Kak. Nanti malah merepotkan.”


“Tidak ada yang perlu direpotkan. Lagi pula, bukankah hari ini kamu ada jadwal mengajar?” Andin mengingatkan tanggung jawab Rania sebagai dosen muda.

__ADS_1


“Ehmm ....” Rania melirik Reza. Pria itu mengangguk sebagai tanda bahwa apa yang dikatakan Andin ada benarnya.


“Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih sebelumnya, ya, Kak?"


"Iya."


Setelah menyampirkan tasnya di bahu, Rania memberikan pelukan disertai cipika cipiki pada wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu. Kemudian ia menghampiri Reza dan mencium punggung tangan pria itu.


“Hati-hati di jalan.”


Kalimat Reza diangguki oleh Rania sebelum akhirnya ia menarik langkahnya keluar dari kamar itu.


“Sudah?”


“Nih." Tunjuk Andin pada sebuah tas yang siap dibawa.


“Ayo kita pulang!”


Tangan Reza tergerak untuk mengambil alih tas yang tergeletak di atas tempat tidur. Sementara satu tangannya lagi merangkul pundak Andin untuk menyetarakan langkahnya menuju area parkir.


“Kemarikan kuncinya. Biar aku aja yang nyetir." Reza menengadahkan tangannya, berharap wanita itu segera memberikan benda yang diminta.


“Nggak! Aku aja!”


“Sudah, kemarikan.” Reza merampas paksa kunci tersebut dari genggaman Andin dan segera menekan tombolnya untuk membuka pintu penumpang bagian depan. “Aku tidak mau kamu kelelahan.”


“Aku tidak lelah, Reza. Justru sebaliknya. Aku merasa sangat khawatir padamu.”


“Aku bukan pria lemah!” tegas Reza penuh penekanan. “Cepat masuk! Panas, nih!” keluhnya kemudian.


Helaan napas kesal menjadi tanda kekalahannya dalam berdebat. Dengan terpaksa ia masukkan tubuh langsingnya ke dalam sedan putih miliknya.


“Senyum ... Nanti hilang lho, cantiknya,” goda Reza ketika mobil sudah melaju meninggalkan rumah sakit.


“Bodo amat!”


Tak henti-hentinya Reza menggoda Andin namun wanita itu sama sekali tak menerbitkan senyumnya.


“Apa kamu mau kembali terbaring di rumah sakit?"


“Tidak!


“Makanya fokus!"


“Aku senang akhirnya bisa pulang. Aku sudah sangat merindukan kamarku, kantorku dan ....” Lirikan nakal sesekali ia tunjukkan pada Andin yang masih setia mendengar celotehnya.


"Siapa? Calon istrimu?” terka Andin. "Eh, iya. Tempo hari kamu belum memberitahuku namanya."

__ADS_1


"Besok! Besok aku akan mengenalkannya langsung padamu. Agar kamu bisa menilai sendiri bagaimana kepribadiannya."


 


__ADS_2