Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Terjebak Friendzone


__ADS_3

Andin menatap cincin di hadapannya kemudian ganti menatap Reza yang menunggu jawabannya. Ia menyentuh kotak itu dan berkata,


“Reza ... Kamu serius? Kamu nggak lagi ngeprank aku, 'kan?"


"Apa saat ini aku terlihat sedang bercanda?"


Suara Reza tegas bertanya membuat Andin menelisik jauh ke dalam manik teduh berwarna hitam kecoklatan itu dengan seksama untuk mencari celah kebohongan di sana, namun nihil. Reza benar-benar serius!


"Aku serius mencintai kamu," kata Reza.


"Maafkan aku, Reza.” Andin menutup kotak berbentuk hati berlapis beludru warna navy itu kemudian menggesernya ke arah Reza. “Aku tidak bisa menerima lamaran kamu.”


Seketika jantung Reza berdetak begitu cepat sesaat setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Andin. Ia langsung memalingkan wajah ke arah mana saja untuk menjauhi tatapan wanita itu sembari menegarkan hati.


Sebenarnya ia sudah menduga jawaban ini sebelumnya. Namun, pria itu terlalu percaya diri hingga memaksakan kehendaknya. Reza tidak ikhlas dan tidak rela bila Andin dimiliki pria manapun selain dirinya.


Teringat jelas peristiwa malam itu, peristiwa di mana Ditmar hampir saja memperkosa Andin dan menyebabkan ia harus kehilangan salah satu organ vitalnya. Sebab itulah, timbul hasrat ingin memiliki dan melindungi wanita itu begitu besar.


Andin menggenggam tangan kiri Reza membuat si pemilik tangan itu kembali menatapnya. “Reza—.”


“Apa? Apa yang membuatmu menolakku, Andin? Apa aku tidak pantas untukmu? Apa aku tidak cukup baik di matamu?” pangkas Reza dengan nada sedikit bergetar menahan sebuah kesedihan di sana.


“Kamu pria baik, Reza. Bahkan lebih baik dari pria-pria asing yang pernah kutemui sebelum kamu. Alasan aku menolakmu, karena kamu adalah sahabat aku," jawab Andin.


“Itu bukan sebuah alasan yang masuk akal, Andin.” Reza menarik tangannya dan menyandarkan punggungnya di kursi. “Seandainya aku bukan sahabatmu. Apa kamu akan menerima cintaku dan juga lamaranku?”


Andin kembali terdiam berusaha mencari kalimat terbaik agar Reza mengerti posisinya. Hal inilah yang paling dikhawatirkannya. Kehadiran sebuah rasa yang 'berbeda' pasti akan menganggu di dalam hubungan persahabatan.


Wanita itu paling anti bila menjalin kasih dengan teman sendiri. Iya kalau berhasil, kalau tidak? Ia akan kehilangan keduanya. Kekasih sekaligus teman terbaik.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu begitu mencintaiku?” tanya Andin.


“Kamu baik, rendah hati, mau menerima kekuranganku. Begitu juga sebaliknya. Dan cintaku tumbuh berkali-kali lipat ketika kamu merawatku saat terbaring lemah di rumah sakit. Dari situ aku semakin yakin kamulah orang yang tepat untukku nikahi,” tutur Reza panjang lebar.


Andin tersenyum tipis. “Sepertinya kamu salah paham, Reza. Aku melakukan itu, karena aku berhutang nyawa padamu. Tidakkah kamu ingat, akulah orang yang menyebabkanmu kehilangan satu ginjalmu.”


“Walaupun aku harus kehilangan keduanya, aku tak masalah. Yang aku tahu, cinta ini sungguh besar untukmu."


Andin menghela napas. Kemudian mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruangan itu. Hanya ada beberapa pelanggan yang tersisa malam ini di lantai tersebut hingga perdebatan mereka tak menyita perhatian orang-orang di sana.


“Kamu, ‘kan tahu prinsipku? Tidak melibatkan perasaan dalam sebuah ikatan persahabatan. Dan aku nyaman berada di dekatmu dengan status seperti itu."


“Iya aku tahu. Tapi rasa ini hadir begitu saja tanpa bisa aku cegah. Bukankah hubungan kita jauh lebih unggul dari pasangan lain. Kita sudah bersahabat cukup lama. Saling mengerti dan memahami satu sama lain. Tahu bagaimana baik buruknya sifat masing-masing. Lalu apalagi yang membuatmu ragu padaku?”


"Aku sama sekali tidak meragukanmu." Andin mulai geram. "Hanya saja aku masih belum ingin menjalin sebuah hubungan kembali, Reza. Kumohon, jangan memaksaku."


“Kamu trauma?”


Pria beralis tebal bermata elang itu mencondongkan tubuhnya ke depan serta menumpuk kedua tangannya di atas meja.


“Apa yang kamu takutkan? Kamu tidak percaya padaku bahwa aku serius padamu. Aku sungguh sangat mencintaimu, Andin. Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya? Bahwa rasaku ini sangat berbeda sekali ketika aku mencoba menjalin hubungan dengan, Elsa, Genik, Ani, Rina, Tari, Mila, Rima.” Reza mengabsen nama-nama wanita yang pernah menolak cintanya. Bila Andin juga tak menerima cintanya, berarti Andin adalah wanita ke delapan. Bisa dipastikan, gelar presiden jomblo masih melekat pada dirinya hingga sekarang.


Pemilik tinggi badan 182 cm itupun bingung pada dirinya sendiri. Dari segi tampang, ia tak kalah tampan dari James Jirayu, aktor asal negeri gajah putih tersebut. Otak? Ia cerdas, bahkan Adrian mengakui itu. Buktinya, berkat ide brilian yang ia sumbangkan pada Dinata Group, mampu mengungguli perusahaan kompetitornya beberapa kali. Adrian sangat mengapresiasinya makanya setahun yang lalu ia resmi menduduki jabatan Direktur Umum. Namun entah kenapa, bila berurusan dengan masalah cinta, pria itu selalu saja gagal. Sungguh lucu.


Andin melongo mendengarnya. Ia kira hanya Rima saja, wanita yang menolak cinta dari pria berusia tiga puluh tahun itu saat keduanya sedang menikmati makan siang di dekat kantor Anggoro Group, beberapa tahun yang lalu.


"Itu orang semua?" tanya Andin. Ia berusaha mengalihkan topik agar Reza menyudahi pembahasan yang menurutnya tak berujung. Karena ia masih tetap teguh dengan keputusannya.


Reza berdecak kesal. Situasi serius seperti ini, bisa-bisanya Andin bertanya seperti itu. "Iyalah orang, kamu pikir mereka apa? Hantu?" ketusnya.

__ADS_1


"Kenapa mereka menolakmu?"


"Jangan mengalihkan topik!"


"Jawabanku tetap sama! Berteman lebih baik. Lagi pun, aku takut bila hubungan ini tidak berhasil. Kamu bisa bayangkan? Bila suatu hari kita berselisih paham kemudian salah satu dari kita tidak ada yang mengalah, apa kamu berani jamin hubungan itu akan langgeng?"


“Kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu? Kita bahkan belum memulainya. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu.” Reza meraih tangan Andin dan menatapnya lembut. “Tak bisakah kamu mempertimbangkan lagi keputusanmu itu? Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu.” Sekali lagi Reza mencoba meyakinkan Andin.


"Tapi aku tidak mencintaimu, Reza. Hubungan seperti apa yang akan kita jalani, jika salah satu dari kita tak terpanggil untuk mencintai?”


“Tapi aku yakin, cinta akan datang dengan sendirinya bila kita terus bersama dalam satu ikatan pernikahan."


“Sebaiknya kita sudahi pembahasan ini." Andin menarik tangannya dan berdiri. Ia mengantungkan tali tasnya di pundak. "Sudah larut, antar aku pulang sekarang."


Reza mengambil kotak cincin yang sudah tertutup rapat itu sebelum kemudian ia ikut berdiri mengikuti langkah Andin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.


"Aku harap setelah kejadian hari ini, kita tidak akan canggung satu sama lain," ujar Andin penuh harap. Karena bagaimanapun juga ia tak mau permasalahan tadi menjadi retaknya hubungan persahabatan yang susah payah mereka bina selama ini.


"Iya. Tenang saja. Aku diam aku baik aku kalem." Tingkah menyebalkan Reza mulai aktif membuat Andin tergelak mendengarnya.


"Bagus ... itu baru Fahreza Al Husein yang kukenal." Sembari tersenyum wanita itu menepuk pundak Reza berkali-kali memberikan sebuah semangat di sana.


Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, Andin. Akan kupastikan suatu hari nanti aku akan memenangkan hatimu. Tuhan tahu betapa aku sangat menyayangimu dan mencintaimu.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2