Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Menentukan Sikap Part 1


__ADS_3

Bunyi suara pintu yang diketuk berulang kali dan disertai beberapa panggilan dari sang Mami, terdengar begitu berisik di telinga Andin. Membuat dua bola mata indah yang tersembunyi dibalik pelupuk mata itu perlahan-lahan terbuka. Ia memicing, menatap jam digital yang berada di atas nakas itu sudah menunjukkan pukul 07.10 Sepersekian detik kemudian, ia refleks menarik tubuhnya dan duduk.


“Astaga! Aku bangun terlambat!”


“Andin … sayang … kamu sudah bangun belum?”


Andin buru-buru mendekat ke arah pintu kala suara Mira kembali menguar di udara, memanggil namanya. Ia mengangkat tangannya kemudian membuka pintu tersebut.


“Iya Mami. Andin sudah bangun, kok.”


“Kamu begadang?” duga Mira. “Nggak biasanya kamu bangun terlambat.”


“Semalam Andin nggak bisa tidur, Mi,” aku Andin. Wanita itu membalikkan tubuhnya berniat hendak masuk ke kamar mandi. Sementara Mira mengekor di belakang putrinya kemudian menyibak tirai tipis yang semula menutupi kaca jendela, agar sinar sang surya bebas menerobos masuk ke kamar bernuansa girly tersebut.


“Kenapa? Karena Reza?”


Tebakan Mira sukses menghentikan gerakan tangan Andin yang hendak memutar handle pintu kamar mandi. Ia kembali menatap maminya.


“Bu-bukan, bukan dia.” Andin menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai tampikan atas tuduhan Mira barusan. Namun wanita paruh baya itu tak lantas dibuat percaya begitu saja akan pembelaan Andin. Apalagi setelah mendengar ada nada kegugupan yang terselip dalam kalimatnya. Ia menyeringai sembari bersedekap.


Kamu tidak pandai berbohong, Nak. Kalian pasti ada masalah.


“Akhir-akhir banyak sekali pekerjaan yang harus Andin selesaikan sebelum pergantian tahun,” imbuh Andin kemudian, “dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Lagipula, kenapa Mami pagi-pagi sudah membahas dia, sih! Bikin badmood aja.”


Tanpa menunggu respon dari Mira, Andin melanjutkan lagi niatnya yang sempat tertunda beberapa saat lalu. Sepertinya wanita itu tidak sadar dengan ucapannya tadi justru membuat maminya semakin yakin kalau ia dan Reza memang ada masalah. Namun ia tak mau dan tak punya hak untuk mencampuri urusan itu. Mira menarik langkahnya mendekat ke arah pintu kamar mandi.


“Cepat mandi dan bersiap. Mami tunggu di meja makan.”


“Iya!” sahut Andin dari dalam.


***


“Kamu nggak sarapan?” tanya Mira ketika Andin mencium punggung tangannya untuk berpamitan.


“Nggak sempat, Mi.” Andin mengangkat lengannya yang dilingkari oleh jam tangan bermaterial stainless steel case. “Udah telat banget, nih.”

__ADS_1


“Kalau tidak mau sarapan. Duduk dulu, minum susunya. Mubazir kalau tidak diminum,” titah Rudi sembari menunjuk sebuah gelas berisi cairan putih yang kini menjadi pusat perhatian Andin.


“Iya, Pi.” Tanpa dua kali diperintah, Andin segera menarik kursi di samping Mira kemudian mendaratkan tubuhnya di sana.


“Kata Mami, kamu semalam tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan pekerjaan. Apa Papi harus meminta pada Iyan untuk tidak memberimu beban pekerjaan yang mungkin akan membuatmu stress?"


Seketika Andin tersedak mendengar perkataan Rudi. Ia menarik tissue untuk membersihkan mulutnya dari jejak-jejak cairan di sana.


"Untuk apa Papi mengadukan hal itu pada bang Iyan? Apa Papi mengira Andin ini tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri? Bagaimana Andin bisa berkembang kalau begitu caranya? Andin bukan anak kecil, Pi. Yang harus selalu Papi mudahkan segala urusannya.


Rudi hanya terkekeh. Sekarang pria paruh baya itu yakin bahwa putri kecilnya yang dulu sangat manja kini sudah menjelma menjadi sosok dewasa dan mandiri.


"Kok, Papi ketawa?" Andin menatap Rudi dengan raut wajah kebingungan.


"Apa tadi kamu bilang? Kamu 'bukan anak kecil'."


Andin mengangguk. "Kan, Papi bisa melihat sendiri. Andin sudah dewasa, dengan usia dua puluh tujuh tahun," tegasnya kemudian.


"Kenapa, sih, Pi? Aneh gitu pertanyaannya." Mira yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, pun kini menyela.


"Kalau kamu sudah merasa dewasa. Kapan kamu akan menikah?"


Tubuh Andin tiba-tiba menegang diikuti dengan tenggorokannya yang terasa tercekat. Sungguh ia tak menyangka kalimat yang terlontar di mulutnya tadi menjadi boomerang sendiri baginya.


Menikah? Menikah dengan siapa? Kekasih saja aku tidak punya. Bagaimana mau menikah? Lagipula, aku masih trauma menjalin hubungan kembali setelah perselingkuhan itu.


"Betul apa kata papimu? Mami juga tidak sabar ingin melihatmu segera menikah," timpal Mira.


Andin kembali menenggak cairan di dalam gelasnya yang masih tersisa setengah itu hingga tandas.


"Papi ... Mami ... Andin berangkat dulu." Ia beranjak dari duduknya sebelum kemudian ia mendaratkan bibirnya di pipi kedua orang tuanya secara bergantian. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kebiasaan! Bila membahas pernikahan, dia pasti menghindar." Rudi menggeleng. Matanya masih memperhatikan punggung Andin yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Bukannya Papi sudah menjodohkan Andin dengan putranya pak Dwi? Siapa itu namanya? Mami lupa, yang katanya satu kampus sama Andin dulu."


"Angga," jawab Rudi.


"Ah iya, Angga. Apa tidak jadi?"


"Waktu itu kami hanya bercanda. Mami, 'kan tau. Sejak kejadian Iyan dulu, Papi sudah kapok main jodoh-jodohan. Biarlah putri kita itu mencari sendiri sosok pria yang diinginkannya. Yang terpenting bagi Papi, dia adalah pria baik dan bertanggung jawab."


Usai meletakkan cangkir kopi yang baru saja disesapnya itu ke atas tatakan, Rudi melemaskan tubuhnya disandaran kursi. Wajahnya terlihat sangat gusar dan bingung akan pola pikir Andin. Entah berapa lama lagi ia harus bersabar, menunggu Andin mengenalkan sosok itu padanya? Tidak ada seorang pun pria yang pernah ia bawa ke rumah ini kecuali ... Reza.


Hanya pria itulah yang selalu ada di samping Andin dalam suka maupun dukanya. Rudi akui, Reza memang pria yang baik, sopan serta bertanggung jawab. Tapi bila menyinggung nama itu, putrinya selalu berkelit dan mengatakan 'kami hanya berteman, tidak lebih'.


***


Dengan langkah tergesa, Andin memasuki lobby perusahaan dan langsung menuju lift yang memang dikhususkan untuk para petinggi di sana. Getaran ponsel yang berada dalam genggamannya, seketika mengalihkan fokusnya. Sementara, kaki jenjang wanita itu terus saja melangkah.


Namun sejurus kemudian, tubuhnya menghantam punggung lebar seorang pria yang berdiri tepat di depannya tengah menunggu pintu lift terbuka. Dan hal itu, spontan membuat tubuh Andin nyaris terjungkal ke belakang bila saja pemilik punggung itu tak segera menangkapnya. Sejenak, mata mereka saling beradu pandang. Mengunci dengan posisi tak berjarak begitu juga tubuh mereka yang saling menempel satu sama lain.


"Mereka seperti pasangan di dalam drama korea yang kutonton semalam," cetus salah satu karyawan yang melihat adegan romantis didepannya itu.


"He'em ... so sweet. Aku mau dong, dipeluk pak ganteng kayak gitu," timpal wanita bername tag Yulia.


"Hush, ganjen. Aku mau juga kali."


"Yeee ... ngataian ganjen. Dia sendiri malah ganjen." Yulia memukul pundak Fatma dengan gemas. Sementara yang dipukul hanya terkikik geli hingga membuat kesadaran Andin kembali sepenuhnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, ada beberapa karyawan yang memperhatikan dirinya berada dalam pelukan seseorang. Seketika sorot matanya menajam, menatap pria di depannya itu dengan penuh kebencian.


"Lepaskan tanganmu dari tubuhku!"


Mendengar perintah, sang pria segera melepaskan tautan tangannya dari pinggang Andin. "Maaf."


Andin merapikan blazer serta rambut panjangnya yang terlihat sedikit berantakan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu.


"Bukan urusanmu!"

__ADS_1


Ketika pintu lift terbuka, Andin segera menarik dirinya masuk ke dalam sana.


__ADS_2