Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Perhatian Reza


__ADS_3

Andin tiba di kantor, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 14.17. Dengan langkah tergesa ia menapaki ubin lantai dua puluh empat menuju ruangan Reza. Seperti biasa, bila hati dan pikirannya sedang dirundung masalah, Reza lah tempat yang tepat untuknya berkeluh kesah.


"Reza ada di dalam?" tanya Andin ketika melihat seorang pria berkacamata keluar dari ruangan Reza sesaat setelah mengantarkan beberapa dokumen disana.


"Pak Reza belum kembali dari acara makan siangnya, Bu."


"Makan siang di mana dia, Sal?"


"Saya tidak tahu, Bu. Tadi Beliau pergi bersama Pak Adrian dan Pak Rendy," jawab Faisal.


"Ya sudah. Jika dia datang, katakan padanya temui—."


"Ada apa kamu mencariku?"


Suara dari seseorang yang ia cari, memangkas kalimatnya. Andin menolehkan kepalanya kepada pemilik suara yang sedang berjalan cepat ke arahnya.


"Kangen, yaaaa?" tanya Reza lagi dengan nada menggoda ketika tubuhnya sudah berjarak beberapa centi di depan Andin. Tak lupa, pria itu mengembangkan senyum selebar mungkin.


"Saya permisi, Bu, Pak," pamit Faisal untuk kembali ke meja kerjanya.


Andin dan Reza mengangguk.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Andin menjawab pertanyaan Reza sebelumnya. Kali ini wajah Andin tampak serius membuat Reza perlahan menyurutkan senyum di wajahnya.


"Tentang apa?" Reza menatap bingung pada Andin.


"Ayo kita masuk dulu ke dalam." Andin menarik paksa tangan Reza untuk menuntunnya masuk ke dalam ruangan kemudian menutup pintu serapat mungkin.


"Tuh, benarkan feeling aku. Mereka berdua pasti memiliki hubungan spesial," bisik salah satu karyawan pada rekannya sambil menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.


"Ya biarin aja kenapa, sih, Na," sahut rekannya yang bernama, Mega. "Menurutku mereka serasi, yang satu cantik dan yang satu ganteng. Couple goal gitu lah."


"Memang, sih, mereka cocok. Cuma kurang semangat aja kerjanya, karena stok cowok ganteng yang single di kantor ini mulai menipis," jelas Nana.


"Hadeh ... Nih, depan mata cowok ganteng. Single, setia, baik lagi," celetuk seorang pria yang di duduk beseberangan dengan meja kerja Mega dan Nana, membanggakan diri.


Mega mencebikkan bibirnya kemudian menolehkan kepalanya menatap Nana. "Kamu ada kantong plastik, Na?"

__ADS_1


Nana menggeleng," nggak ada lah. Kan bumi kita lagi gencar-gencarnya mengkampanyekan go green," jelas Nana. Memangnya untuk apa?" tanyanya.


"Aku mau muntah mendengar Bagas memuji dirinya sendiri."


"Sial!" umpat Bagas dengan kesal dan tentu saja membuat Nana dan Mega tertawa terpingkal-pingkal.


"Hei ... Kerja kerja kerja!" sergah Faisal yang baru saja duduk di balik mejanya. "Ghibah aja dibanyakin."


Ya seperti itulah keadaannya. Kedekatan Andin dan Reza memang selalu menjadi buah bibir para penghuni Dinata Group yang mereka sangka keduanya memiliki hubungan khusus terutama di lantai ini.


"Apaaa!" Teriakan Reza menggema di ruangannya. Ia terkejut setelah mendengar cerita dari Andin tentang pertemuannya tadi dengan Ditmar.


Reza beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri Andin yang berdiri menghadap ke arah luar melalui kaca ribben di depannya.


"Apa dia menyakitimu?" Reza memegang kedua bahu Andin dan memutar tubuh wanita yang ia cintai itu agar menghadap padanya.


Andin menggeleng.


"Apa dia mengancammu?" tanya Reza lagi, membuat Andin kembali menggelengkan kepalanya.


Reza menatap manik hitam milik Andin. Dari sana, Reza dapat melihat dengan jelas bahwa wanita itu sedang khawatir. Reza menarik tubuh Andin ke dalam pelukannya. Andin tak menolak, bahkan ia membalas pelukan itu dengan sangat erat.


"Jangan takut. Ada aku yang selalu di sampingmu," ucap Reza menenangkan Andin seraya tangannya tergerak untuk membelai rambut wanita yang kini mulai terisak di dadanya.


"Aku menyesal pernah mengenalnya. Aku menyesal pernah mencintainya." Tangis Andin pecah seketika.


"Shh ... sudah, jangan katakan lagi. Kita bisa lalui ini bersama-sama," kata Reza. "Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik."


***


Semburat jingga muncul ketika matahari lamat-lamat tenggelam di ufuk barat. Namun hal itu tak membuat seorang wanita yang masih asyik berkutat dengan berbagai dokumen di mejanya beranjak dari sana. Padahal jam kantor sudah usai dari dua jam yang lalu.


Ceklek


Pintu yang semula tertutup rapat itu terbuka, menarik perhatiannya menatap pria yang mengangsurkan tubuh masuk ke dalam ruangannya.


"Belum selesai?" tanya pria tersebut.

__ADS_1


"Sudah, Za. Ini tinggal merapikan saja." Andin kembali menyusun dokumen ke sisi kanan mejanya. "Kamu belum pulang?" tanyanya kemudian.


"Aku akan mengantarmu pulang," cetus Reza.


"Tidak perlu, Reza. Aku bisa pulang sendiri," tolak Andin.


Reza menempelkan kedua telapak tangannya di atas meja sembari membungkukkan tubuhnya di depan Andin. "Aku mengkhawatirkanmu, Andin. Apa kamu lupa siapa yang kamu temui tadi siang?"


Andin terdiam, pikiran dan hatinya membenarkan kalimat Reza. Ia hampir saja melupakan keberadaan Ditmar di Jakarta yang mungkin saja akan membahayakan dirinya, mengingat seambisius apa pria itu. Ia beranjak dari duduknya setelah memastikan perkerjaan selesai. Kemudian mendekat pada Reza yang sudah menegakkan tubuhnya kembali.


"Beneran, kamu mau mengantarku pulang? Apa aku tidak merepotkanmu?" tanya Andin.


"Tidak ada yang perlu direpotkan. Aku senang melakukannya," jawab Reza. "Kedepannya, aku akan mengantar dan jemputmu setiap hari."


"Hah!" Andin terkejut. "Jangan berlebihan seperti itu. Aku tidak mau menjadi beban untukmu."


"Bagiku, keselamatanmu lebih penting."


Andin mengembangkan senyumnya. "Aku beruntung memiliki teman sebaik dirimu, Reza. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa. Karena ucapan terima kasih saja rasanya tidak cukup untuk mengganti semua kepedulianmu padaku."


"Mudah saja untuk membalas semuanya," balas Reza.


"Apa, Za? Katakan saja," kata Andin, "bila aku sanggup, aku akan memenuhinya. Setidaknya kita bisa impas."


Reza maju beberapa langkah lebih dekat pada Andin hingga tak ada jarak diantara keduanya.


"Reza, jarakmu terlalu dekat. Membuatku kesulitan bernapas," keluh Andin sembari kedua tangannya mendorong pelan dada Reza. Bukannya menjauh, Reza malah menahan gerakan tangan Andin yang menempel di dadanya.


"Baiklah aku akan mengatakannya sebagai balasan rasa terima kasihmu padaku," lirih Reza, matanya tertuju pada bibir Andin yang terbuka sedikit dan bergetar. Sepertinya wanita itu sedang di landa kegugupan. Ingin sekali rasanya Reza ******* habis bibir itu untuk mereguk rasa manisnya. Namun pikiran warasnya masih menyatu dengan otaknya. Ia tak mau terlalu jauh menambah beban pikiran Andin. Untuk menyatakan cinta saja, Reza masih harus bersabar. Mungkin ia harus menunggu sampai Andin benar-benar tenang dari pria bernama Ditmar itu. Tapi sampai kapan? Berapa lama waktu yang diperlukan untuknya menunggu?


"Traktir aku main sepuasnya di taman hiburan, di akhir pekan ini," cetus Reza sesaat setelah keheningan membungkus keduanya.


Kemudian, Reza segera menjauhkan tubuhnya dari Andin dan melangkah pergi mendahului wanita yang mematung dengan mata menyorot punggung lebar Reza yang mulai menghilang di balik pintu ruangannya. Dan untuk kesekian kalinya, Andin dibuat tercengang dengan tingkah Reza.


"Apa kamu mau makan dulu? Ini sudah waktunya makan malam," tawar Reza saat keduanya sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah Andin.


"Tidak," tolak Andin cepat. "Aku sudah lelah, Za. Antar aku pulang saja. Aku ingin istirahat."

__ADS_1


"Baiklah," ucap Reza diiringi anggukan kepala.


Tanpa mereka sadari, dua pria berpakaian serba hitam yang duduk berboncengan diatas motor RX-King mengikuti mobil Reza dari belakang.


__ADS_2