
Terdengar suara derap langkah kaki yang terbungkus sepatu heels itu menggema disepanjang koridor lantai dua belas di sebuah gedung apartemen. Seulas senyum bahagia terpancar jelas di wajahnya yang cantik. Jemari lentiknya pun terlihat sibuk menenteng sebuah paper bag, berisi hadiah untuk ia berikan pada kekasihnya tersebut dalam rangka anniversary tahun pertama hubungan mereka.
Wanita itu adalah Andin. Siang itu di hari sabtu, ia sengaja datang ke Semarang tanpa memberitahukan ihwal kedatangannya terlebih dahulu pada Ditmar karena ingin memberikan sedikit kejutan pada pria yang sudah dipacarinya selama setahun terakhir.
Dan dalam kurun waktu tersebut, Andin sangat memahami kebiasaan Ditmar. Bila diakhir pekan seperti ini, biasanya Ditmar selalu menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan saja di dalam apartemennya sambil menonton tv atau bermain game online melalui ponselnya.
Andin dan Ditmar menjalani hubungan pacaran jarak jauh karena perbedaan kota yang menghalangi keduanya untuk saling bertemu tatap sesering mungkin. Walau pun sewaktu-waktu bila ada kesempatan, keduanya saling mengunjungi satu sama lain secara bergantian namun tetap saja rasanya akan berbeda bila dibandingkan dengan mereka berada di dalam satu kota yang sama. Awal pertemuan mereka terjadi saat keduanya sama-sama mewakili perusahaan masing-masing untuk menghadiri event tahunan yang diadakan di Bali. Bisa dibilang keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama hingga hubungan itupun berlanjut hingga kini.
Satu fakta yang cukup menggelitik untuk diketahui, selama ini mereka menjalani hubungan backstreet alias diam-diam layaknya ABG labil. Bukan tanpa alasan Andin melakukannya. Ini semua karena Ditmar yang memintanya entah apa maksud dari laki-laki itu. Tanpa menaruh curiga, Andin pun menyanggupinya.
Andin menghentikan langkahnya persis di depan pintu apartemen Ditmar. Sejenak, wanita itu mengatur napasnya yang masih memburu efek kegugupannya. Entah kenapa setiap kali akan bertemu Ditmar, hatinya selau berdebar-debar tak karuan.
"Semoga kamu suka dengan kejutan yang kuberikan ini, Mas?" Andin melirik sebentar pada tentengan yang dibawanya sebelum akhirnya ia menekan beberapa tombol password yang menempel di sisi pintu. Ia menarik salah satu sudut bibirnya, ternyata setahun ini, Ditmar sama sekali tidak pernah mengganti kode passwordnya yang mana password tersebut ialah tanggal hubungan mereka diresmikan.
"Surprise!" ucapnya diiringi dengan gerakan tangannya mendorong pintu ke arah dalam.
DEG
Jantung Andin berhenti berdetak diikuti oleh mata yang membola sempurna melihat adegan di depannya. Ia melihat sepasang manusia sedang berasyik masyuk di atas sofa panjang dengan pakaian yang nyaris terlepas dari tubuh mereka. Maksud hati ingin memberikan kejutan, malah ia sendiri yang mendapat kejutan tersebut.
"A-ndin!" Ditmar pun tak kalah terkejutnya. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari wanita itu dan berjalan menghampiri Andin yang masih bergeming di ambang pintu. Sedangkan wanita tadi, beringsut untuk membenarkan posisi duduknya seraya menampilkan senyum remehnya pada Andin.
"A-Andin? A-apa yang kamu lakukan disini?" Ditmar terbata. Ia tak menyangka bahwa Andin akan datang ke apartemennya tanpa memberi kabar padanya. Dan lebih tidak menyangka lagi, Andin memergokinya tengah bercumbu mesra dengan seorang wanita.
"Kamu masih bisa bertanya, apa yang aku lakukan disini?" Suara Andin terdengar parau, sepertinya ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Andin, aku bisa jelaskan?" Andin menepis kasar tangan Ditmar yang berusaha menyentuh lengannya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Mas. Mataku masih berfungsi dengan baik! Dengan kalian begini, sudah bisa menjelaskan semuanya!"
"Andin—." Andin memperlihatkan satu telapak tangannya untuk menyudahi kalimat Ditmar.
__ADS_1
"Jadi ini alasanmu merahasiakan hubungan kita? Dan ini juga yang menjadikanmu tidak datang menemuiku di Jakarta? Apa yang sebenarnya kamu incar dariku?" Andin menatap Ditmar kemudian berganti menatap wanita yang berjalan di belakang Ditmar.
"Jelaskan semuanya, Sayang. Biar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kalian." Wanita itu memeluk pinggang Ditmar dengan begitu mesranya. Membuat Andin semakin jijik melihatnya.
"Ehm … dia ini ...." Ditmar menggantungkan kalimatnya, terselip keraguan untuk meneruskan.
"Perkenalkan, aku Silvie. Kekasih Ditmar yang sesungguhnya," sambung Silvie menegaskan keraguan Ditmar untuk berkata yang sejujurnya sembari mengulurkan tangannya di hadapan Andin, namun tak lama ia menarik kembali tangannya karena tak mendapat balasan dari wanita yang masih menatapnya dingin.
"Kami sudah berpacaran jauh sebelum Ditmar mengenalmu. Aku tahu hubunganmu dengan Ditmar. Dan aku juga tahu bahwa Ditmar tidak pernah menganggapmu serius." Silvie bersedekap. Netranya menatap liar tubuh Andin dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. "Apa asyiknya berpacaran jarak jauh?"
Andin kembali menatap Ditmar yang terdiam dengan kepala menunduk ke bawah, sepertinya lelaki itu membenarkan ucapan Silvie. Air mata yang susah payah ia tahan sedari tadi akhirnya tumpah ruah membanjiri wajahnya yang pucat. Ia bukan menangisi Ditmar yang telah mengkhianatinya melainkan menangisi dirinya sendiri karena bodoh, yang biarkan semua ini mempermainkannya.
Tak lama, Ditmar pun mengangkat dagunya untuk menatap Andin, "Andin, maafkan aku. Disini aku yang salah. Tapi aku tidak bermaksud—."
"Terima kasih atas kejutannya. Dan terima kasih juga, telah menjadikanku orang ketiga di antara kalian. Semoga kalian bahagia," pangkas Andin cepat. Ia langsung berbalik dan beranjak meninggalkan apartemen Ditmar.
"Andin!"
"Sudahlah sayang, tidak ada gunanya lagi kamu mengharapkannya. Toh, selama kamu dekat dengannya tidak berpengaruh apa-apa bagi perusahaanmu. Ingat, dia hanya karyawan bukan pemilik Dinata Group," ucap Silvie dengan nada manja yang dibuat-buat. "Sekarang hanya tinggal kita. Lebih baik kita fokus saja pada pernikahan kita yang sebentar lagi akan dilaksanakan."
Bagai terhipnotis, Ditmar pun menuruti kata-kata Silvie. Ia kembali masuk ke dalam apartemennya bersama Silvie disampingnya.
Sejak awal, Ditmar mendekati Andin hanya karena wanita itu bekerja di perusahaan terbesar di Negara ini dengan posisi strategis yaitu Direktur Umum kala itu. Dengan begitu, Ditmar akan mudah memperalat Andin untuk mendapatkan berbagai tender dari Dinata Group. Karena menurutnya, jika perusahaannya mendapatkan satu saja tender proyek, akan mudah memancing beberapa tender dari perusahaan lain ke perusahaannya. Namun Ditmar salah, Andin bukanlah wanita yang mudah diperdaya bila menyangkut perusahaan. Dinata Group selalu profesional dalam memilih mitra untuk bisa diajak kerjasama, bukan berdasarkan pilihan orang dalam.
***
Andin duduk termenung disebuah kursi yang berada di ruang tunggu bandara. Ia memutuskan untuk kembali ke kotanya. Karena tak ada alasan lagi baginya untuk tetap bertahan disini. Mata yang sembab, menatap nanar ke arah kaca bening yang menampilkan aktivitas beberapa aircraft maintenance engineer tengah sibuk mengontrol kelayakan terbang ke tujuan berikutnya. Sesekali tangannya tergerak untuk menghapus kristal bening yang masih terlihat mengalir disudut matanya.
"Bodoh ... bodoh ... kenapa aku menangisinya. Sungguh bodoh. Seharusnya aku bersyukur, Tuhan menunjukkan
kebenarannya sekarang. Daripada aku terlalu larut dalam cinta yang semu. Dasar bodoh," gumam Andin sembari menoyor kepalanya sendiri. Hingga tanpa sadar, banyak mata memusat padanya.
__ADS_1
"Ambil ini." Tiba-tiba saja seorang pria mendaratkan tubuhnya di samping Andin seraya menyodorkan kacamata hitam miliknya yang semula tergantung di kerah kaos oblongnya.
Andin tersentak lalu menolehkan kepalanya menghadap ke samping. Ia pun mengernyit heran, "tidak, terima kasih."
"Sudah, pakai saja. Apa kamu tidak malu menjadi tontonan mereka." Andin mengikuti arah pandang pria itu. Dan benar saja, banyak mata yang melihat ke arahnya. "Setidaknya ini bisa menutupi matamu yang bengkak."
"Terima kasih." Andin mengambil kacamata tersebut lalu memakainya.
Andin diam, pria itu pun diam. Suasana hening sesaat.
"Reza ... kenapa kamu bisa ada disini? Kamu mengikutiku?" Wanita itu memecah keheningan.
“Oh, jadi pria tengil itu yang membuatmu tampak bodoh seperti ini? Menangis di tempat umum.” Tanpa menjawab pertanyaan Andin, Reza malah melontarkan kalimat sarkasmenya.
Andin terdiam lagi dengan mata memandang ke arah lantai, karena tak ada alasan baginya untuk membela diri. Apa yang diucapkan Reza memang benar adanya.
"Maaf, jika ucapanku membuatmu tersinggung. Aku hanya khawatir padamu."
“Reza … terima kasih kamu datang disaat yang tepat.” Memeluk tubuh Reza dan kembali meluapkan
kesedihannya. Tubuh pria itu menegang seketika mendapat serangan mendadak. Yang hanya bisa ia lakukan adalah mengusap pelan punggung Andin untuk memberi ketenangan.
Selain karena khawatir, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Aku bersyukur kamu mengetahui kebusukannya lebih cepat sebelum dia benar-benar tahu siapa dirimu dan memanfaatkanmu, batin Reza.
Sama halnya seperti Adrian dulu. Walau Andin adalah putri dari pemilik salah satu perusahaan terbesar di Asia dan Mancanegara, tidak serta merta membuatnya berbangga hati atau menyombongkan diri. Bila berhadapan dengan orang baru, ia mengenalkan dirinya sebagai karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Andin tidak sepenuhnya berbohong, karena pada kenyataannya ia adalah seorang karyawan berstatus wakil presdir. Terdengar klise. Namun demikian, itulah cara mereka untuk dapat mengetahui sifat asli seseorang. Mana yang tulus, mana yang modus.
“Sudah, jangan menangis. Apa kamu tidak malu menjadi pusat perhatian mereka.”
Andin melepaskan tautan tangannya di pinggang Reza. Ia mengangkat sedikit kacamata hitamnya untuk menghapus air matanya.
“Ayo, kita pulang,” ajak Reza setelah mendengar pengumuman dari maskapai penerbangannya untuk segera masuk ke dalam pesawat. Pria itu mengulurkan tangannya pada Andin untuk mengikuti langkahnya menuju Garbarata.
__ADS_1