
Tubuh Andin sedikit terguncang, wanita itu terkejut. Seketika wajahnya berubah bingung. Ia lekas menundukkan kepalanya menatap rerumputan yang ia pijak saat ini bersama kakak iparnya tersebut. Rissa yang melihat hanya mengulum senyum. Dari sana, ia dapat menyimpulkan jawaban dari pertanyaannya.
“Ke-napa ber-tanya se-perti itu, Kak?" tanya Andin setelah beberapa saat membisu. Pandangan matanya masih bergeming.
Rissa menggenggam tangan Andin yang sejak tadi bertaut. Sedikit lembab karena keringat. Padahal cuaca sore ini terkesan sejuk.
"Andin ...," panggilnya hingga mengalihkan pandangan si pemilik nama. "Reza sangat mencintaimu. Apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya?"
"Tidak! Aku tidak mencintainya. Aku justru sangat membencinya,” tampik Andin cepat.
Benci? Tunggu! Bila ia membenci Reza. Kenapa selama beberapa hari ini, pikirannya selalu tertuju pada pria itu. Ia selalu menyalahkan diri karena tak memberikan kesempatan pria pemilik senyum khas itu untuk menjelaskan. Dan bila ia membenci, seharusnya Andin mengabaikan bukan malah menangisi keadaan.
Apakah tanpa disadarinya ia sudah jatuh cinta? Hah? Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. Mungkinkah ini efek keterbiasaan karena kehadiran Reza yang selalu ada untuknya? Tapi bila ini cinta, kenapa begitu terlambat ia menyadari setelah Reza tak lagi di sampingnya?
Lalu, bagaimana dengan prinsipnya? Bukankah ia paling anti menjalin hubungan dengan teman sendiri. Karena itu akan merusak tali persahabatan mereka. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Andin.
"Andin … Kamu mungkin saja bisa berbohong. Tapi orang-orang di sekitarmu bisa dengan mudah menilai gesturemu yang seperti ini."
Andin terdiam masih berusaha mencerna kata per kata dari wanita yang tengah hamil lima bulan tersebut. Rissa melepaskan genggaman tangannya seraya memiringkan tubuh menghadap Andin dengan siku menumpu di sandaran kursi taman itu.
"Begini Andin ... Maaf bila ucapan Kakak akan menyinggungmu. Tapi semenjak Reza pergi dari perusahaan terutama dari sisimu. Kamu terlihat banyak melamun, makan tak selera tidur pun tak teratur. Apalagi namanya kalau bukan cinta?"
Bingo!
Terjawab sudah semua dari pertanyaan yang membingungkan dirinya selama ini. Andin terpaku dengan tubuh menegang. Memang benar setelah kepergian Reza, ia terlihat lebih banyak melamun, menangis dan bahkan suka menyendiri.
Berkali-kali Mira dan Rudi membujuk putrinya itu untuk menceritakan apa yang terjadi. Namun lagi-lagi Andin berhasil menyangkalnya. Hingga akhirnya, kedua orang tuanya pun angkat tangan. Tak ingin melihat kondisi psikis putrinya terganggu, keduanya memutuskan untuk meminta bantuan putra atau menantunya terlebih dahulu sebelum psikiater yang menangani. Mungkin saja dengan kehadiran mereka, Andin bisa lebih terbuka dengan masalahnya. Itulah alasan mengapa Rissa saat ini ada di rumah itu.
"Tapi aku dan Reza hanya berteman, Kak. Tidak lebih. Bagaimana mungkin kami—."
"Tapi dia mencintaimu, Andin," pangkas Rissa cepat, "bila rasanya sedikit saja tersambut oleh rasamu maka semuanya akan perlahan menjadi mungkin. Pernahkah kamu sadari, apa yang telah dilakukannya padamu? Dia pernah bertaruh nyawa untukmu. Kamu ingat itu? Itu sudah membuktikan bahwa ia sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin, Andin. Bila hati sudah memilih. Logika pun tak mampu untuk mengendalikan itu, "lanjut Rissa. Sejenak, wanita itu menghentikan kalimatnya. Ia tarik kedua tangan Andin dan menggenggamnya lagi. "Kita mungkin bisa menyangkalnya dengan mulut namun tidak dengan hati. Untuk itu, ikuti kata hatimu sebelum kamu menyesalinya dikemudian hari.”
Suasana kembali hening. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hanya suara gemericik air yang berasal dari kolam ikan, sebagai pengisi suasana di sana.
"Sayang?"
Suara Adrian memecah keterdiaman dua wanita yang kesayangannya itu. Keduanya menoleh pada laki-laki yang mendekat ke arah mereka.
"Ada apa, Mas?" tanya Rissa.
"Itu, ada Rendy dan keluarganya di depan.”
“Oh iya.” Rissa melirik Andin. “Ayo Andin kita masuk,” ajaknya kemudian seraya bangkit dari duduknya. Tangannya menggantung di udara, bermaksud untuk membantu Andin berdiri.
“Kalian duluan saja. Aku akan menyusul nanti,” tolak Andin. “Aku masih ingin disini sebentar saja.”
Rissa dan Adrian saling melempar pandangan. Sesaat kemudian pria itu menggelengkan kepala, mengisyaratkan pada istrinya untuk tidak memaksa adiknya itu. Rissa yang mengerti pun hanya mengangguk.
“Ya, Bang.”
Sepeninggal Adrian dan Rissa. Andin menghembuskan napasnya di udara seraya memegangi dadanya. Entah mengapa ada aliran yang menyentak di sana, menimbulkan getaran-getaran aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
***
Roda dari sedan putih milik wanita berbulu mata lentik itu berhenti di halaman rumah sederhana namun sedap dipandang mata itu. Ia langsung mengedarkan pandangannya menatap sekitar sesaat setelah turun dari mobil. Rumah tersebut nampak sepi, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Ya, setelah semalam Andin berpikir keras mengenai nasehat yang diberikan Rissa serta meyakinkan diri bahwa hatinya telah jatuh, sejatuh jatuhnya pada Reza. Hari ini, dengan melepaskan seluruh gengsi serta prinsip yang selama ini melekat. Ia memberanikan diri untuk datang kemari. Harapannya hanya satu, memperbaiki hubungan untuk lebih baik ke depannya.
“Cari siapa, Kak?”
Sebuah teguran dari seseorang, mengalihkan perhatian Andin. Seorang gadis berhijab instan bewarna pastel dengan satu tangan menenteng sebuah goody bag itu mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Cari pemilik rumah ini, Dek,” sahut Andin.
“Oh, mereka sudah pindah, Kak.”
“Hah? Pindah?” Andin terkesiap mendengarnya. Dari keterangan Adrian, Reza hanya mengundurkan diri karena ingin membuka usaha sendiri. Namun pria itu tak memberitahukan bahwa ia akan pindah dari kota ini. “Sejak kapan? Kemana?”
Wanita itu mengerutkan kening sembari berpikir. “Ehm … Ada mungkin sekitar empat atau lima hari yang lalu. Mereka pulang ke kampung halaman."
Jantung Andin berdetak lebih kencang bahkan nyaris melompat dari rongga dadanya mendengar penuturan gadis bernama Ema tersebut. Disaat bersamaan manik matanya mulai mengabur manandakan ada cairan yang menganak sungai di sana. Andin buru-buru mengusap ekor matanya berupaya menjernihkan pandangannya.
"Pu-pulang kampung?” ulang Andin mengkonfirmasi keterangan itu. “Apa mereka pulang ke Sukabumi?” tanyanya kemudian.
Gadis itu menggeleng. “Kalau itu saya kurang tahu kak. Sebab saya orang baru di sini."
Andin memalingkan wajahnya menatap sekitar berusaha mencari warga yang mungkin bisa dimintai keterangan lebih lanjut. Namun nihil, yang ada hanya dirinya dan gadis itu. Rupanya ia datang di waktu yang salah. Terlalu pagi dan bisa jadi warga setempat sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Reza dan keluarganya asli Sukabumi. Tidak mungkin mereka pindah ke tempat lain kecuali ke sana.
"Kak!" panggil Ema.
"Ya?"
"Saya permisi dulu," pamitnya.
"Ah iya. Terima kasih ya informasinya."
"Sama-sama, Kak." Ema melanjutkan langkahnya bersamaan dengan Andin yang juga melangkah masuk ke mobilnya.
Setelah berhasil mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi. Andin tak lantas menyalakan mesin mobilnya. Wanita itu melayangkan pandang ke arah rumah yang ada di depannya itu dengan tatapan nanar.
"Bodoh ... bodoh! Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Dasar bodoh ... kamu bodoh Andin." Andin menoyor kepalanya sendiri untuk meluapkan kekesalannya di sana. Puas melakukan itu, ia menelusupkan kepalanya di atas kemudi mobil dengan kedua lengan sebagai tumpuannya. Air mata yang kembali menggenang kini terlihat menetes membasahi pipinya.
__ADS_1