
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.40 ketika Andin baru saja keluar dari kamarnya. Rencananya, wanita yang mengenakan pakaian olah raga lengkap dengan sepatu sneakers itu akan melakukan jogging di seputaran komplek perumahannya tersebut.
“Mbak Jumi! Saya mau jogging dulu, ya?” pamit Andin pada ARTnya yang saat itu tengah sibuk menyapu di teras. “Oh iya, hari ini Mbak masak saja buat dibawa pulang lagi. Karena ini weekend, saya mau pergi bersama Gita.”
Wanita yang lebih tua lima tahun dari majikannya itu pun mengangguk. “Baik Bu.”
Andin berbalik untuk meneruskan langkahnya. Namun sepersekian detik kemudian, ia mengernyit saat pandangannya kini terisi penuh oleh sebuah jeep berwarna hitam yang terparkir apik di sisi luar halaman rumahnya.
“Mbak, itu mobil sejak kapan di sana?” tanya Andin sembari menegaskan jari telunjuknya pada mobil tersebut.
“Kurang tahu, Bu. Saya datang, mobil itu sudah di sana?”
“Jam berapa Mbak datang?”
“Seperti biasa, Bu. Sekitar jam enam,” jawab Jumi. “Tadi saya sempat mau negur, supaya parkirnya jangan di sana. Eh, tapi orangnya lagi tidur di dalam.”
Andin hanya mengangguk-anggukan kepala dengan mata tak lepas memandangi mobil yang sangat familiar diingatannya. Bila ia tak salah menduga, mobil tersebut pernah membawanya bersama Gita ke sebuah perkebunan melon beberapa waktu lalu saat di desa Sukaraya.
“Apa Ibu mengenal siapa pemiliknya?”
“Sepertinya.”
Tanpa menunggu respon Jumi, Andin mendekat ke arah mobil untuk memastikan dugaannya. Ketika sampai di sisi pintu, ia menelusupkan pandangannya ke arah dalam kaca jendela.
“Ngapain sih, ni orang pagi buta udah nangkring disini.”
Itu Reza. Sesaat setelah menceritakan tentang siapa wanita yang akan ia nikahi pada orang tuanya. Pria itu memutuskan pergi ke Bandung pada malam itu juga untuk menemui sang pemilik hatinya. Mulanya aksinya itu sempat dicegah oleh Hesti dan Ahmad, karena khawatir akan keselamatan putranya itu. Namun dasarnya keras kepala, ia nekat meski harus menempuh jarak yang cukup jauh. Yah, begitulah cinta. Sebuah rasa yang terkadang mampu membuat pelakunya terlihat bodoh hingga lupa bagaimana caranya berpikir jernih.
Andin menekuk jemarinya lalu menempelkannya berulang kali di kaca pintu hingga membuat pria berparas tampan itu seketika terjaga dan lekas membuka pintu untuk keluar dari sana.
“Hai Sayang … Assalamualaikum," sapanya ramah. Tak lupa ia menyematkan senyumnya yang paling sempurna di pagi ini.
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Ngapain kamu kesini?” tanya Andin ketus padahal hati senangnya bukan main saat Reza memanggilnya 'sayang’. Bersamaan dengan itu pula, ia merasa ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan di sekitar perutnya. Jangan lupakan wajahnya yang merona karena menahan malu. Hingga ia terpaksa menjauhi tatapan penuh cinta dari pria yang ada di depannya itu.
Meski Farah sudah mengibarkan bendera putih dalam hubungan ini, namun rasa bersalah itu mungkin masih ada dalam benak Andin. Hingga ia bingung disertai kecanggungan untuk mengekspresikan dirinya saat ini.
“Ya ketemu kamulah. Masa’ iya ketemu tetanggamu.” Reza melirik tubuh Andin dari atas hingga ke bawah dan kembali lagi ke atas. “Kamu mau kemana, Sayang?” tanya Reza.
“Ngeronda!”
“Ih kok ketus gitu sih. Neng, liat Aa’ dong. Kok lihatnya kesana?” goda Reza sambil mencolek dagu Andin dan itu berhasil mengembalikan pandangan wanita itu ke arahnya dengan mengerutkan dahi kala mendengar ia menyebut dirinya sendiri sebagai ‘Aa’. “Aa’ tampan disini bukan disana.”
Sok imut … narsis pula.
“Cieee … pipinya merah. Malu ni yeee ….” Pipi yang masih terlihat memerah seperti tomat itu, tak luput dari kejahilan Reza yang menusuk-nusukkan jarinya di sana.”
“Apasih!” Andin menepis tangan Reza. “Sudah ah! Aku mau lanjut jogging. Keburu siang, panas!” Andin menarik diri dan menjauh dari pria yang mulai gelagapan mengejarnya.
“Sayang! Tungguin Aa' dong."
“Sayang, kamu tega ninggalin aku. Aku itu baru bangun tidur, loh. Nyawaku aja belum ngumpul semua tapi sudah harus lari ngejar kamu sampai sini.” Sembari menggerutu, Reza mendudukkan dirinya di kursi taman persis di samping Andin yang sedang melakukan pendinginan dengan cara Neck Stretch—menghadapkan kepala ke kanan, kiri, atas bawah dan juga berputar searah jarum jam dan sebaliknya.
“Yang nyuruh lari ngejar aku itu, siapa?”
Tak ada jawaban dari Reza, pria itu justru sibuk mengatur napasnya yang terasa menghimpit di dadanya. Melihat itu, Andin merasa bersalah. Ia menghentikan gerakannya kemudian ikut duduk di samping Reza.
"Ini! Diminum dulu." Menyodorkan tumblr miliknya yang sengaja ia bawa dari rumah.
"Terima kasih, Sayang." Reza menerima lalu menenggak isinya hingga menyisakan setengah bagian di dalamnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" Sebuah pertanyaan yang mungkin akan membelah rasa penasaran Andin mengenai keberadaan pria itu secara tiba-tiba tanpa memberinya kabar terlebih dahulu.
"Kangen!" Masih dengan gaya khasnya yang mana membuat Andin lekas memberikan lirikan sinis.
__ADS_1
"Aku serius!"
"Ini serius, Sayang. Kamu mau seserius apalagi?"
Sepertinya Andin harus memupuk kesabaran ekstra untuk menghadapi tingkah Reza yang mulai menyebalkan. Sifat yang sebenarnya ia rindukan dari sosok itu. Reza beringsut. Memberanikan diri menautkan jemarinya pada jemari Andin sambil menatap lekat wanita itu.
"Aku kemari hanya untuk meyakinkan diriku. Bahwa apa yang aku dengar adalah sebuah kebenaran."
"Maksudnya?" Kening Andin berkerut, terlalu bingung untuknya mencerna kata demi kata yang baru saja Reza lontarkan.
"Apa kita bisa memulai semuanya dari awal?" Kali ini suara Reza terdengar serius hingga nyaris membekukan tubuh Andin. "Menyempurnakan kisah ini dengan cinta yang kita miliki."
Tanpa disadari oleh Andin, ada setetes cairan bening yang dihasilkan oleh kelenjar lakrimalis jatuh membasahi pipinya. Namun segera dihapus oleh Reza.
"Bagaimana Sayang. Apa kamu mau?" tanya Reza setelah keheningan memeluk keduanya untuk beberapa saat.
Sejenak Andin menghembuskan napasnya sebelum kemudian ia mengangguk yakin. "Iya, aku—." Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Reza sudah lebih dulu menarik tubuhnya dan mendekapnya erat.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia. Karena aku yakin akan satu hal, semesta memang mengirimmu untukku. Aku mencintaimu. Sungguh sangat mencintaimu." Berulang kali, Reza membenamkan bibirnya di pucuk kepala wanita yang tak kuasa menahan tangisnya itu. Tentu saja itu adalah tangisan kebahagiaan.
Bahkan aksinya itu tak luput dari beberapa pasang mata yang ada di sekitar. Menatap mereka dengan penuh sindiran. Tapi namanya Reza, ia masa bodoh. Hal terpenting baginya adalah bagaimana caranya ia bisa mengekspresikan rasa bahagia yang kini sedang membelenggunya.
Cinta tahu kemana akan berlabuh. Hanya saja perlu waktu dan rasa yang tepat agar semuanya berakhir menjadi sebuah kebahagiaan.
...End .......
***
Enda deng.. masih lama. bucin belom, nikah belom.
Ya Kaleeee..
__ADS_1