
Rencana menginap hanya satu malam, Andin urungkan menjadi beberapa malam. Sebab, Farah memintanya untuk tetap tinggal lebih lama di sana sampai akhir pekan berakhir sekaligus wanita itu juga ingin memperlihatkan secara langsung tempat-tempat wisata yang ada di desanya tersebut.
Meski penolakan sempat Andin layangkan karena tak ingin keberadaannya akan merepotkan sang tuan rumah, namun Farah mampu meyakinkannya bahwa semua itu tak akan menjadi masalah. Terlebih lagi kedua orang tua wanita itupun sangat menyukai sosok Andin yang menurutnya sangat low profile dan supel.
"Kalian mau kemana? Rapi banget!" tegur Halimah—ibu Farah—saat mendapati dua wanita muda sedang berjalan ke arah meja makan.
"Mau ngajak Andin ke danau buatan yang ada di desa sebelah, Bu. Besok, 'kan dia pulang," sahut Farah yang diangguki oleh Andin sembari tersenyum di sampingnya.
"Iyakah! Sini duduk dulu, sekalian sarapan."
"Iya, Bu."
Secara serentak Andin dan Farah menarik kursi dibalik meja makan sebelum akhirnya mendaratkan tubuh disana. Pun mereka mulai mengambil nasi beserta lauk ke piring masing-masing.
"Beneran, besok kamu pulang, Nak Andin?" tanya Halimah. Ada rasa tak rela dalam benaknya mengetahui Andin akan segera kembali ke Bandung.
Andin mengangguk. "Iya, Bu. Dan terima kasih sudah menampung saya selama beberapa hari di sini. Maaf bila kehadiran saya merepotkan Ibu, Bapak dan juga Farah." Matanya mengabsen satu persatu orang-orang yang ada di meja.
"Jangan sungkan, Nak. Justru kami senang. Karena kehadiranmu membuat rumah ini tampak lebih ramai. Ya nggak, Pak?"
Mendengar ujung kalimat istrinya, Ridwan lekas menjauh bibirnya dari tepian cangkir yang baru saja disesapnya. "Iya ... Kenapa harus buru-buru pulang? Tinggallah disini beberapa hari lagi."
"Pak! Ibu juga berpikir seperti itu. Tapi kita tidak boleh egois. Andin ini, 'kan bukan pengangguran. Dia ini bos, loh. Bos di perusahaan gede." Halimah merentangkan setengah tangannya seolah-olah sedang menggambarkan bentuk perusahaan wanita yang terkekeh di depannya itu.
"Ibu ini terlalu berlebihan," bantah Andin. "Insha Allah bila ada waktu senggang. Saya akan main lagi kesini."
"Bener, ya? Awas bohong!" sela Farah seraya mengacungkan jari telunjuknya memberi ketegasan pada Andin. "Oh, iya. Akhir bulan depan, aku akan menikah. Aku mau, kamu jadi tamu istimewa di pernikahanku kelak."
Tubuh Andin menegang. Susah payah wanita itu menelan salivanya. Bagaimana mungkin ia akan menjadi yang teristimewa? Justru sebaliknya, ia akan menjadi tamu paling terpuruk. Dengan ragu ia menjawab, "semoga aku bisa, ya."
"Bisa! Harus bisa. Aku tidak terima penolakan!" tegas Farah.
"Sudah-sudah. Ayo habiskan lagi sarapannya. Keburu siang. Panas—."
“Assalamualaikum.”
Sebuah salam diiringi ketukan dari balik pintu ruang tamu menghentikan percakapan mereka. Farah langsung meletakan sendok dan garpunya di atas piring kemudian menghampiri tamunya.
"Waalaikumsalam." Farah terpaku menatap pria berkaos oblong berwarna putih dilapisi kemeja lengan panjang dengan kancing yang sengaja dibiarkan terbuka secara keseluruhan di bagian dada.
"Farah!" sentak pria itu sembari melambaikan tangan di depan wajah Farah. Menyadarkan wanita itu dari lamunannya. "Apa aku boleh masuk?"
"Hah?"
__ADS_1
Kening Farah tiba-tiba mengkerut. Bahkan sangat dalam saat mendengar pria yang biasanya selalu menolak ajakannya untuk bertandang ke rumahnya itu memintanya dengan penuh harap.
"Apa aku boleh masuk?"
"Ah iya, ma-af. Mari silakan masuk, A."
"Nak Reza! Sini sini, duduk. Ayo sarapan bareng," ajak Halimah kemudian mengalihkan perhatian pada Farah yang berdiri di samping pria yang tak lepas memandang wanita yang sibuk menyantap makanannya. "Rah, ambilin piring satu lagi buat Nak Reza."
“Nggak usah, Rah.” Reza mencekal bahu Farah yang hendak melangkah ke dapur. “Aku sudah sarapan.”
“Kalau nggak sarapan. Sini, minum kopi saja.” Ridwan melambaikan tangan. Meminta calon menantunya tersebut untuk duduk.
“Iya A’, sana duduk. Biar aku buatkan kopimu dulu.”
Mau tak mau Reza pun mengangguk. Ia maju dan menarik kursi tepat di seberang Andin yang mulai risih dengan kehadirannya di sana.
"Ini A'. Kopinya, silakan diminum."
Farah meletakkan cangkir kopi di meja sebelum akhirnya ia kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. Masih dengan kening berkerut.
"Terima kasih," jawab Reza singkat.
"Oh iya, A'. Tumben kamu kesini, ada apa?" Pertanyaan yang mampu meleburkan rasa penasaran yang sedari tadi mengumpul di kepalanya.
"Ehm ...." Reza melirik dan menendang pelan sebuah kaki jenjang yang ada di bawah meja. Membuat si pemilik itu segera mendongak dan menatapnya dengan menahan kesal. "Aku mau ngajak kamu ke danau."
"Iya, gitu juga bagus. Kalau ada laki-lakinya, 'kan aman. Ada yang bisa jaga kalian disana," sela Ridwan. "Meskipun desa sebelah jaraknya beberapa puluh kilo, tapi tetap saja Bapak merasa was-was."
Reza mengangguk dan tersenyum penuh maksud ke arah Andin yang mendengkus kesal. Usai menikmati sarapan, mereka pun segera bersiap-siap pergi ke danau.
"Kalian tunggu sebentar, ya. Ada sesuatu yang harus aku ambil di kamar," ucap Farah saat ketiganya sudah berada di depan teras.
"Aku ikut!" sergah Andin.
"Nggak usah. Aku cuma sebentar, kok. Kamu disini aja, temenin A' Reza."
Andin melirik Reza. Sementara yang dilirik hanya berdehem sembari berpura-pura sibuk membenarkan bajunya yang sebenarnya memang sudah rapi.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Andin sesaat setelah kepergian Farah.
"Loh ... memangnya salah kalau aku datang untuk menemui calon istriku?"
Andin terdiam. Hampir saja wanita itu melupakan status pria tersebut. Ada hak apa ia melarang Reza untuk datang kemari? Melihat keterdiaman Andin, Reza mendekat dan membungkukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku kemari untuk menemuimu, wahai calon istriku," bisiknya dengan nada menggoda yang mana membuat Andin seketika membesarkan netranya.
"Kamu jangan asal bicara, Reza!" Andin menolehkan kepalanya menatap pintu yang terbuka di belakangnya. Khawatir kalimat Reza akan menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam sana.
"Aku tidak pernah asal bicara, Sayang. Kamu hanya perlu menunggu sebentar saja. Bila waktunya tiba, akan kupastikan hanya ada namamu yang tertulis di buku nikah kita." Reza langsung melengos masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Andin yang tercengang di tempatnya.
***
Menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan hamparan bebatuan bercampur tanah disertai beberapa tanjakan landai menjadi kesan tersendiri bagi Andin. Bahkan dengan sengaja wanita itu membuka kaca pintu mobil, membiarkan angin dan hangatnya sinar mentari menjamah pori-pori kulit wajahnya.
Terlalu lama hidup di kota dan bergumul dengan polusi, membuat Andin sangat menikmati liburannya di desa pria yang sedari tadi sibuk mencuri-curi pandang melalui kaca spion yang menggantung di tengah.
"Sepertinya kamu sangat menikmati suasana disini!" Suara Farah seketika memenuhi indra pendengaran Andin yang mana membuat wanita itu segera melepaskan pandangannya dari jejeran pohon rindang yang tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan tersebut.
"He'em. Sejuk banget."
Farah hanya tersenyum menanggapi. Tak berselang lama, mereka pun sampai di area danau yang saat itu sedang ramai oleh pengunjung. Mengingat hari ini adalah hari sabtu dan merupakan hari terbaik menikmati liburan bersama orang-orang terkasih. Andin turun dari mobil, diikuti Farah yang langsung merangkul lengannya agar berjalan bersisian menuju tepian waduk yang memiliki luas wilayah kurang lebih tiga puluh dua hektare.
Waduk Sukarame, semula adalah telaga yang dibendung dan dijadikan waduk untuk mengairi sawah bagi penduduk sekelilingnya. Pembendungan ini ternyata menciptakan sebuah danau buatan dengan panorama yang indah, dikelilingi kerimbunan hutan yang asri. Danau buatan ini pun kemudian dikembangkan menjadi wahana wisata keluarga oleh pemerintah setempat.
Selain itu di sekeliling waduk juga terdapat gazebo, cafe dan warung, panggung hiburan, sepeda air, flyingfox, dan becak mini. Bagi pengunjung yang tertarik untuk bersantai dan menikmati keindahan alam, terdapat pula sebuah menara tempat pengunjung dapat melihat panorama sekeliling waduk secara lebih utuh.
“Kalian mau coba main itu?” Reza menunjuk sepeda air dengan berbagai bentuk dan ukuran.
“Iya aku mau, A’! Ayo Ndin kita coba. Seru loh.” Langkah Farah tertahan ketika merasakan tangannya di tarik oleh Andin. Ia menoleh seraya mengerutkan dahinya, melihat wanita di belakangnya itu menggeleng cepat. "Kenapa?"
“Kalian saja. Biar aku yang tunggu disini!”
Sejenak Farah dan Reza saling beradu pandang. Sebelum akhirnya Farah sudah lebih dulu memutus kontak mata tersebut dan memandang Andin. “Memangnya kenapa?”
“Aku—.”
“Andin!”
Sebuah panggilan dari arah barat, mengalihkan perhatian tiga orang tersebut. Seorang pria jangkung dengan kacamata yang setia bertengger di hidungnya, tergopoh-gopoh berlari menghampiri mereka.
“Mas Denis?”
“Hai Andin. Nggak nyangka ketemu kamu disini,” ujar Denis ketika tubuhnya sudah berjarak beberapa senti di depan Andin. “Kayaknya kita jodoh, deh," celetuknya kemudian.
Mendengar ujung kalimat Denis. Seketika rahang Reza mengeras diikuti dengan tangannya yang mengepal erat. Bila saja ia tak sadar berada di tempat umum. Mungkin ia sudah menghajar habis-habisan pria yang tersenyum lembut pada Andin
“Kalian saling kenal?” tanya Farah.
__ADS_1
Denis mengangguk. Disaat pria itu hendak membuka suara, sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lengannya.
“Ini Mas Denis. Dia ... calon suamiku!”