Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Feeling Seorang Ibu


__ADS_3

Bersama Jumi, Andin pergi ke swalayan yang tak jauh dari kawasan komplek perumahan. Di sana, Jumi kembali dibuat tertegun ketika melihat tumpukan barang belanjaan di dalam trolley. Barang yang sangat-sangat dihindari sang majikannya itu. Karena memiliki alergi.


“Ini buat siapa, Bu?” Jumi mengalihkan pandangannya pada beberapa makanan ringan dari berbagai jenis ukuran dan merk.


“Buat saya.” Tanpa melihat lawan bicaranya, Andin terus saja memasukan barang tersebut ke dalam trolley. “Tapi kalau Mbak mau, ya silakan ambil.”


“Bukannya Ibu memiliki alergi? Snack ini ‘kan, penyedap rasanya lumayan banyak. Biasanya Ibu akan gatal-gatal setelah memakan ini.”


“Nggak! Saya sudah test drive kemarin. Alhamdulillah, tubuh saya nggak ada bercak merah atau pun sakit di tenggorokan.”


Meskipun Andin sudah menyangkal tentang kehamilannya. Tak serta merta Jumi yakin begitu saja. Bisa saja bercak darah atau plek yang keluar dari tubuh Andin itu hanya tanda. Memang tidak semua wanita mengalami hal itu, akan tetapi sebagian kecil pasti ada. Tergantung hormon dan kondisi rahim yang dimiliki si empunya raga.


Bahkan tadi, di tengah perjalanan menuju swalayan pun Jumi sempat menyarankan wanita itu pergi ke dokter obgyn untuk sekedar memastikan dugaannya. Namun saran itu hanya dianggap angin lalu bagi wanita yang ada di hadapannya. Selain yakin ia sedang datang bulan, ia juga takut kecewa akan hasil pemeriksaannya kelak.


“Ibu yakin?”


Andin mengangguk. “Nggak tahu, nih. Tiba-tiba pengen makan yang beginian.”


Pada akhirnya Jumi diam dengan terus saja mendorong trolley seraya mengikuti kemana langkah Andin bergerak. Setelah beranjak dari rak makanan ringan mereka beralih pada rak yang menyimpan berbagai minuman dingin. Andin mengambil beberapa yogurt kemasan pounch dengan varian rasa yang berbeda.


“Mbak, kayaknya satu trolley nggak muat, deh. Malah yang jadi tujuan kita kemari aja belum masuk.” Bisa minta tolong ambil satu lagi di depan.”


“Baik Bu,” sahut Jumi kemudian melangkah pergi meninggalkan majikannya yang kembali sibuk memilih barang.


Sampai akhirnya ponsel yang manggantung di lehernya, berdering. Ia tersenyum kala melihat poto profil pria kesayangannya muncul di layar.


“Sayang, gimana keadaanmu? Masih sakit? Sudah makan? Sudah minum obat?” Pria itu langsung mencecar pertanyaan sesaat setelah panggilan terhubung. “Apa mbak Jumi merawatmu dengan benar?”


Senyum di wajah Andin semakin lebar mendengar suara panik yang ada di seberang sana. Hanya dengan perhatian kecil seperti ini saja sudah membuat hatinya menghangat.


“Sayang, kamu masih disana? Kamu dengerin aku, nggak?”


Baru saja ia ingin menjawab, pria itu sudah mengalihkan mode panggilan suara ke panggilan video.


“Hai Bee ….” Sembari melambaikan tangan, ia menyapa sang suami. Wajahnya terlihat semringah, jauh berbeda sebelum pria itu pergi bekerja.


“Kamu lagi dimana? Sama siapa? Ngapain kelayapan? Bukannya kamu sedang sakit?”


Lagi, Reza kembali mencecar pertanyaan saat netranya meneliti suasana yang ada di sekitar istrinya itu. Seperti bukan di rumah. Padahal ia yakin tadi pagi wanita itu terlihat lemas tak berdaya. Lalu kenapa istrinya itu pindah


“Aku lagi di swalayan,” jawab Andin. “Ada yang pengen aku beli.”


“Beli apa? Kan kamu bisa minta tolong sama mbak Jumi. Atau pesan lewat aplikasi, biar kamu cukup duduk manis saja di rumah. Ingat! Kamu itu sakit, Yank. Malah kelayapan!”


“Aku udah sehat, Bee. Coba lihat wajahku, udah nggak pucat lagi.” Andin mendekatkan wajahnya pada layar ponsel sembari menyentuh pipinya secara bergantian. “Cantik nggak? Cantik nggak? Cantik lah, masa enggak!”


Emosi Reza mereda seiring dengan terbitnya senyum diwajah rupawannya itu. Ah rasanya ia ingin sekali menangkap wanita itu dari layar ponselnya dan menciuminya sampai kehabisan oksigen. Bila sudah begini, mana bisa ia tahan berlama-lama berjauhan dari istri imutnya itu.

__ADS_1


“Kamu beli apa, sih?” tanyanya.


“Ini!”


Mulut Reza menganga disertai dengan mata yang terbelalak. Layar ponselnya menampilkan barang belanjaan istrinya.


“Kamu beli chiki?”


“Iya!” Wajah Andin kembali memenuhi layar. Polos tanpa dosa. “Aku lagi pengen.”


“Kembalikan ke rak!”


“Kenapa?”


“Kamu punya alergi.”


“Tapi aku punya obat anti alergi di rumah.”


Reza berdesis menahan geram.


“Jangan marah. Aku yakin nggak akan terjadi apa-apa, percayalah.” Andin mencoba bernegosiasi.


Napas Reza terhela panjang. Akhirnya ia hanya bisa memasrahkan diri. Berharap apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.


“Ya, aku nggak marah. Ya sudah, aku tutup dulu, Sayang. Mau lanjut lagi, biar cepat kelar cepat pulang.”


“Iya, Bee. Hati-hati, ya.”


“Love you too.”


Sambungan pun terputus. Reza lekas memasukkan ponselnya dalam saku celana dan meneruskan aktifitasnya.


“Seneng banget kayaknya.”


Suara wanita dari arah belakang, begitu mengejutkan. Ia berbalik, ada Farah yang berusaha mensejajari langkahnya.


“Kenapa disini? Mr. Gerald kamu tinggal?”


“Itu dia!” Reza mengikuti arah pandang Farah pada pria matang bertubuh tinggi yang tengah membungkuk, menciumi aroma bunga mawar putih yang ada di depannya. “Udah beres.”


“Sebelum pulang ke Bandung, aku mau mampir dulu tempat ibu.”


“Iya, aku juga. Udah kangen sama bapak dan ibu,” ujar Farah. Bersama Reza, kakinya melangkah mendekat ke arah pria asing berwajah oriental yang masih bergeming beberapa meter dari mereka. “Oh iya A’, nanti kamu pulang sendiri aja, ya. Aku mau tinggal disini beberapa hari.”


“Oke oke, no problem.”


Usai berbincang sedikit dengan klien, mereka pun berpisah. Dengan diantar sopir kantor, Farah pergi mengunjungi orang tuanya. Begitu juga dengan Reza. Langit di sore itu nampak cerah meski mentari perlahan beranjak menuju peraduan hingga kilauan jingga lamat-lamat terlihat.

__ADS_1


“Assalamualaikum!”


“Waalaikumsalam.” Terdengar sahutan dari dalam. Reza segera melepaskan sepatu dan meletakkannya di sisi kanan pintu rumah itu.


“Cha!” Wanita paruh baya mengenakan hijab instan berwarna pink nude itu terkejut. Kepalanya melongok, menatap di balik punggung putranya tersebut. “Mantu Ibu yang cantik itu mana?”


“Dia di rumah, Bu,” jawab Reza kemudian mencium tangan ibunya. “Lagi sakit.”


“Loh, istri sakit kenapa di tinggal?!” Hesti terkejut. “Tega benar jadi laki!”


Tangan dengan sedikit guratan keriput itu langsung menjambak rambut putranya secara brutal. Sungguh sambutan yang tidak terbanyangkan sebelumnya oleh Reza.


“Arrrggghhhh! Sakit, Bu! Jahat banget, anaknya dijambak,” keluh Reza yang langsung melesatkan tubuhnya masuk ke dalam rumah.


“Biar otakmu bisa mikir! Istri sakit itu dirawat bukan di tinggal.”


“Echa kesini karena ada urusan, Bu. Lagian Echa cuma mau nengok bapak dan ibu sekalian istirahat sebentar sebelum pulang.”


“Jadi nggak nginap?” Tiba-tiba Ahmad datang dan duduk beralasan karpet permadani di samping putranya yang sudah merebahkan tubuh di depan tv.


“Nggak, Pak.”


“Baguslah kalau nggak nginap!”


Kening Reza berkerut. Menatap tak percaya pada ibunya. “Dih, kok gitu! Udah nggak sayang lagi, ya, sama Echa? Sampai nggak dibolehin nginap disini?”


“Bukan gitu! Kamu susah payah mengejar cinta Andin. Setelah dapat, kamu abaikan dia sendirian di rumah, sedang sakit. Apa kamu mau jadi suami yang tidak bertanggungjawab?


“Dia nggak sakit seperti yang Ibu bayangkan. Dia cuma masuk angin. Terus tadi juga udah telpon dia, memastikan keadaannya. Eh, dia malah asyik jalan-jalan sama mbak Jumi.”


“Masuk angin?” Pertanyaan Ahmad hanya dijawab anggukan oleh Reza. “Palingan itu juga karena sering diajak begadang sama kamu.”


Reza hanya terkekeh. Namun tak lama, ia terdiam ketika sesuatu mengusik pikirannya. Ia bangkit dan mendudukkan dirinya diantara orang tuanya.


“Bu! Maaf ni, ya. Echa mau tanya. Tapi jangan marah, kalau pertanyaan Echa sedikit membuat Ibu tersinggung.”


“Kenapa?”


“Apa semua wanita haid itu, meresahkan?”


“Maksudnya?”


“Jadi begini ….” Reza mulai menceritakan keanehan yang dialami istrinya. Mulai dari kejadian ia dan Andin berdebat hingga berujung pisah kamar. Di pagi buta, istrinya sudah mengkonsumsi makanan berat dengan takaran sambal yang tak biasa. Setelah itu, kondisnya berubah drastis. Wanita itu terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah pucat, tubuh lesu, letih, lunglai. Sesaat kemudian ia dibuat tercengang saat beberapa menit yang lalu ia menelepon wanita tersebut tengah berada di swalayan, membeli makanan yang sangat dihindarinya karena memiliki alergi. “ …. Memang begitu ya, Bu?”


Sejenak, Hesti dan Ahmad saling pandang. Sorot mata itu sama-sama menyiratkan sesuatu. Keduanya pun tersenyum.


“Kenapa Bapak dan Ibu senyum-senyum?” tanya Reza.

__ADS_1


“Kalau feeling Ibu nggak salah. Insya Allah, sebentar lagi kami akan mendapatkan cucu dari kamu.”


“Cucu?”


__ADS_2