Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Pernikahan Anti Mainstream


__ADS_3

Mengusung konsep tepi pantai. Salah satu venue yang berada di Ancol, kini terlihat berbeda dengan sentuhan dari berbagai dekorasi cantik nan elegan. Atmosfer natural modern begitu kental terasa ketika embusan angin berpadu-padan dengan suara deburan ombak, membelai lembut menyapa orang-orang di sekitar. Tak terkecuali pria yang saat ini sedang duduk di depan penghulu serta calon ayah mertua di meja akad, lalu di samping kiri dan kanannya duduk pula dua orang saksi untuk pernikahannya.


“Sudah siap? Apa perlu kita latihan dulu?” tanya sang penghulu pada pria tersebut demi memastikan kesiapannya untuk mengucapkan kalimat kabul.


Ia menggeleng tegas. “Tidak perlu, Pak. Insya Allah, saya sudah hafal.”


Semua yang mendengar, hanya tersenyum. Sungguh, pria itu sudah benar-benar mantap dalam mengarungi biduk rumah tangganya kelak. Sesaat kemudian sang penghulu meminta Rudi menjabat calon menantunya untuk segera memulai acara.


“Ananda Fahreza Al Hussein bin Ahmad Husaini, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Andinia Maura Dinata binti Rudi Adinata dengan mas kawin perkebunan bunga seluas 42 hektar dan satu unit rumah, tuuunai!” Rudi mengguncang tangan Reza.


“Saya terima nikah dan kawinnya Andinia Maura Dinata binti Rudi Adinata dengan mas kawinnya tersebut, tuuunai!”


Lantang dan tanpa kesalahan sedikitpun, Reza mengikrarkan janjinya dalam satu kali tarikan napas.


Rudi menolehkan kepalanya pada saksi. “Sah?”


“Saaaaahhh,” sahut saksi serempak diikuti oleh para sanak saudara yang menyaksikan akad tersebut.


"Alhamdulillah."


Doa pun terpanjat. Reza memejamkan matanya sejenak seraya menghembuskan napas leganya. Ia benar-benar bersyukur sudah memiliki Andin seutuhnya. Sementara wanita yang masih berada di dalam ruang ganti itu menitikkan air mata sembari menatap tak percaya pada layar LED yang terhubung dengan suasana di luar sana.


Tanpa sadar, kilasan-kilasan peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam seketika hadir di memorinya. Pertemuan perdana mereka di sebuah mini market, yang memberikan kesan buruk kemudian berlanjut pada pertengkaran yang menjadi santapan setiap hari di kantor hingga berujung persahabatan. Namun siapa yang menyangka hubungan tersebut menjadi belenggu takdir bagi keduanya kini.


"Selamat ya, Sayang. Kamu sudah menjadi seorang istri." Mira memeluk putrinya. "Jadilah istri yang baik dan penurut. Karena sekarang, surgamu ada padanya."


"Iya, Mami."


Mira melepas pelukannya ketika salah seorang WO masuk dan meminta mereka untuk keluar menemui mempelai pria.


***


Riuh tepuk tangan serta bunyi suara tombol camera yang di tekan secara berulang menjadi musik penggiring wanita yang berjalan di atas bentangan karpet rosepetal berwarna merah muda itu menuju meja akad.


Reza terpana menatapnya, bahkan untuk berkedip saja ia teramat enggan. Wanita yang diapit oleh ibu dan ibu mertuanya itu seakan mampu menghipnotisnya. Meski polesan make up dan tatanan rambut wanita itu tak terlalu berlebihan tetapi di matanya, Andin begitu mempesona. Sampai akhirnya sebuah tepukan lembut mendarat dipundak, menyadarkannya dari lamunan. Reza menatap Rudi.


"Papi serahkan Andin padamu. Jaga dan cintai dia sepenuh hati seperti kami memperlakukannya selama ini. Bila kelak, kamu sudah tidak lagi mencintainya. Tolong jangan sakiti dia. Cukup kamu beritahu kami dan kami akan datang untuk menjemputnya." Satu titik cairan bening jatuh di wajah pria paruh baya itu. Suaranya terdengar memberat. Putri kecilnya yang kini sudah menjelma menjadi seorang istri itu sudah bukan miliknya lagi.

__ADS_1


Dengan teramat sengaja, Reza mengalihkan tatapannya pada Andin dan tersenyum sebelum akhirnya ia kembali menatap Rudi.


"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, Pi. Namun saya bisa memastikan apapun itu untuk selalu membuatnya bahagia. Mohon terus doakan pernikahan kami agar selalu dalam lindungan-Nya."


"Itu pasti, Nak."


Mereka pun kembali duduk untuk melakukan penyematan cincin pernikahan di jari masing-masing. Andin mencium tangan Reza dan dibalas ciuman pria itu di keningnya.


Usai penandatangan beberapa dokumen dan ritual sungkeman pada orang tua, keduanya lantas pergi menghampiri para tamu yang sudah bersedia menyempatkan diri untuk datang dan memberikan restu.


Aneh? Ya, Reza dan Andin sepakat mengadakan konsep pernikahan tanpa menggunakan pelaminan. Pengantin lebih memprioritaskan kebebasan untuk menjamu para tamu dengan mingle atau berbaur. Pemilihan konsep ini tentu bukannya tanpa pertimbangan, membangun keakraban dengan para tamu menjadi kebutuhan utamanya.


Dan yang lebih unik lagi. Yaitu pemilihan pakaian pada pengantin. Biasanya kedua mempelai menggunakan setelan jas dan gaun pengantin atau kebaya. Namun kali ini, mereka justru sebaliknya.


Reza tetap tampan menggunakan kemeja berlengan panjang polos berwarna silver dengan rompi hitam dipadukan dan bowler hat—topi charlie caplin, menutupi rambutnya. Dilengkapi dengan sneakers putih yang menutupi kaki jenjangnya.


Sementara Andin begitu anggun menggunakan dress putih 3/4 polos dari kain katun dipadukan juga dengan sneaker berwarna senada. Terlihat santai dan anti mainstream.


"Selamat ya, Andin." Dina menghamburkan tubuhnya sejenak di pelukan Andin kemudian cipika cipiki. "Semoga langgeng sampai maut memisahkan."


"Aamiin ...." sahut Andin dan Reza serempak. "Terima kasih, Kak Dina, Kak Rendy. Sudah menyempatkan hadir di pernikahanku."


"Ya iya dong. Masa' iya enggak," sambar Reza dengan merangkul pundak Andin disertai rasa bangga yang menggebu di dadanya.


"Aku bukan nanya kamu. Tapi dia!" protes Rendy sembari menunjuk Andin dengan dagunya.


"Ya, 'kan jawabannya sama saja, Kak!" sergah Andin.


Rendy mencebik. Membuat yang menatapnya nampak kebingungan.


"Kenapa, sih, Bang?"


"Masih ingat kejadian dulu waktu di kantor? Kakak ngomong apa dan kamu jawab apa?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Rendy justru malah memberikan lagi pertanyaannya pada Andin.


Wanita itu menggeleng.


"'Jangan selalu bertengkar dengannya, kalau dia jodohmu bagaimana?' Dan kamu dengan entengnya bilang, 'siapa juga yang mau dengan cowok sombong macam dia'." Rendy menirukan gaya bicara wanita yang sedang terkejut di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu beneran ngomong gitu, Sayang?" Respon Reza tak kalah sama terkejutnya seperti Andin. Ia menarik diri menatap tak percaya pada istrinya.


"Ah ... ehm ...." Bingung untuk menyanggah kalimat tersebut. "Ah sudahlah. Kenapa pakai dibahas, sih!" Andin mengalihkan tatapannya ke arah lain demi menutupi rona merah di pipinya. Merasa malu karena termakan ucapan sendiri.


"Bang! Sudah dong. Jangan buat Andin badmood di hari pernikahannya," tegur Dina yang mana hal itu membuat Rendy dan Reza kompak terkekeh.


"Namun terlepas dari itu semua. Aku sangat bersyukur. Berangkat dari doa dan aamiin yang sama, kami bisa sampai di titik ini." Reza melirik Andin dengan tatapan penuh cinta.


"Widihhhh! Mantap mantap!" Tiba-tiba Adrian dan istrinya muncul dari belakang. Reza mengernyit. Ada sepasang tamu yang teramat familiar di ingatannya datang bersama kakak iparnya tersebut.


"Angga ... Amalia."


"Selamat, Bro." Angga menepuk pundak Reza. "Akhirnya jadi juga."


"Alhamdulillah. Terima kasih, Ngga. Kalau bukan karenamu, mungkin saat ini aku masih tersesat dalam kebodohanku."


"Semoga kebahagiaan selalu memeluk kalian." Angga tersenyum kemudian mendekatkan mulutnya di telinga Reza. "Gas terus. Jangan kasih kendor."


Senyum Reza mengembang. Bahkan semakin lebar ketika mendapat petuah dari sang playboy insyaf yang memiliki beraneka ragam pengalaman di sampingnya itu. "Beres!" sahutnya seraya mengacungkan dua jempolnya.


"Enggak usah ngajarin yang aneh-aneh, Mas!" sentak Amalia.


"Loh, aneh-aneh gimana, Bund? Mas hanya memberi beberapa tips pada pengantin baru ini." Angga membela diri.


"Tips apa?" tanya Adrian. Dahinya berkerut.


"Tips bagaimana cara memperpanjang garis keturunan dengan cepat."


Deg


Jantung Andin kembali berdetak dengan irama yang tak bekesudahan, memikirkan bagaimana nasibnya malam ini. Terlebih, ketika ia menatap pria yang memperlihatkan puppy eyesnya. Menyiratkan sesuatu di sana. Dasar pria mesum!


"Sudahlah, mari kita nikmati makanannya," ajak Rissa mengurai kegelisahan Andin. Bagaimanapun juga ini adalah hal pertamanya menghadapi malam keramat yang penuh dengan berbagai tantangan. Diberi kalimat penenangan apapun takkan mampu menghilangkan rasa khawatirnya. Biarlah ia merasakannya sendiri. Toh ini hanya permulaan.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Andin pada Reza sesaat setelah kepergian tiga keluarga muda itu dari hadapannya.


"Kenapa memangnya? Salah kalau senyum? Kan ini moment bahagia kita. Nggak boleh cemberut, nanti dikira kita ini menikah karena terpaksa seperti di novel-novel yang kamu baca."

__ADS_1


Andin memutar bola matanya jengah. Tepat di saat ia hendak beranjak menemui tamu yang lain, Reza menahan tangannya dan berbisik manja.


"Kamu nggak lagi datang bulan, 'kan?"


__ADS_2