Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Menyalahkan Diri


__ADS_3

Suara berisik dari beberapa orang yang tengah asyik mengobrol ringan di ruangan itu mengusik indra pendengarannya membuat kedua netra cokelat bak kacang kenari yang tersembunyi dibalik kelopak itu perlahan terbuka. Samar-samar ia melihat kedua orang tuanya duduk di sofa bersama kakak kandungnya dan juga kakak iparnya.


Ya, untuk kedua kalinya, Adrian mengabari mereka bahwasanya Andin kembali tak sadarkan diri lagi. Dengan segera mereka pun pergi ke rumah sakit. Tak lupa ia juga mengabari Rissa serta meminta istrinya itu untuk membawakannya pakaian ganti karena sejak semalam ia masih mengenakan pakaian yang sama.


“Mami ...,” lirihnya pelan.


Mira yang mendengar pun segera beranjak menghampiri putrinya disusul oleh Rudi, Adrian dan Rissa di belakangnya.


“Ya, Sayang,” sahut Mira.


“Andin. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?” tambah Rudi yang berdiri di samping istrinya. Pria paruh baya itu mengelus rambut putrinya sembari sesekali mencium keningnya dengan sayang.


Andin diam tak menjawab. Mata sendunya menatap kosong ke langit-langit ruangan itu. Sesaat kemudian ia menangis tersedu-sedu membuat orang-orang yang berada di sana tersentak kaget.


“Andin, kamu kenapa, Nak?” tanya Rudi panik. Ia melirik ke arah Adrian. “Yan, panggilkan dokter. Cepat!”


Adrian mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruangan.


“Andin, katakan, Sayang. Jangan buat kami bingung seperti ini. Apa yang sedang kamu rasakan?” tanya Mira lagi.


“Mami ... Papi ... Reza ninggalin Andin ...,” sahut Andin di sela tangisannya. “Dia meninggal karena kesalahan Andin." Ia memukul dadanya sendiri.


"Sayang, ini murni bukan kesalahanmu. Lagi pula—."


"Andin pembunuh, Mami! Andin pembunuh yang sesungguhnya!" teriak Andin histeris.


“Andin! Dengarkan Mami dulu!" sentak Mira dengan nada tak kalah tinggi. Andin menurut, ia pun menghentikan gerakan tangannya serta tangisannya. "Reza tidak meninggal!”


Andin terbelalak. “Be-benarkah? Dia tidak meninggal?”


Mira mengangguk. “Iya, Sayang. Reza hanya mengalami henti jantung sesaat selama beberapa menit. Setelahnya, jantungnya kembali berdetak walau dengan ritme di bawah normal,” jelasnya.


“Lalu, di mana dia sekarang?” tanya Andin.


“ICU. Dia koma.”


Andin semakin terkesiap mendengarnya. Ia melirik papinya.


“Papi, tolong antarkan Andin menemui Reza. Andin ingin melihatnya.” Ia bangkit dan berusaha turun dari ranjangnya tapi dengan cepat Rissa dan Rudi mencegahnya.


“Andin! Kamu tenang dulu. Sabar. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat. Agar kamu lekas membaik,” kata Rissa, “kamu tidak bisa menemui Reza jika kondisimu masih seperti ini!”


Wanita itu sangat memahami perasaan adik iparnya tapi ia juga tidak bisa membiarkannya begitu saja apalagi kondisi psikisnya masih belum stabil sepenuhnya.


“Aku tidak peduli, Kak! Aku mau melihat Reza sekarang! Aku ingin melihat temanku! Aku ingin memastikan sendiri kondisinya.” Masih terus berusaha turun.


“Benar apa kata Rissa, Sayang. Papi mohon tenangkan dirimu dulu.” Rudi ikut-ikutan menenangkan putrinya.


“Bagaimana Andin bisa tenang, Pi! Andin yang menyebabkan Reza mengalami hal buruk seperti itu.”


“Anda sudah sadar rupanya?”

__ADS_1


Suara dari wanita yang baru masuk, menyita perhatian semuanya. Ada dokter yang datang bersama Adrian, hendak memeriksa kondisi Andin.


“Ya, Dokter. Dia baru saja sadar.” Rudi dan Mira menggeser tubuh mereka, memberikan ruang pada dokter tersebut mendekat pada putrinya.


Rissa menatap Adrian dan mengajak lelaki itu duduk di sofa.


“Melihat Andin, aku seperti dejavu loh, Mas,” ujar Rissa tanpa mengalihkan pandangannya pada wanita yang tengah di periksa oleh dokter.


“Dejavu? Maksudnya?” Adrian menautkan kedua alisnya, bingung.


Rissa melirik suaminya seraya tersenyum.


“Kejadian ini sama persis seperti apa yang aku alami ketika kamu dinyatakan kritis dan kecil kemungkinan bagimu untuk hidup kembali.” Rissa mengerjap-ngerjapkan matanya mengingat seberapa frustrasinya ia beberapa tahun lalu. “Tak henti-hentinya aku menyalahkan diri. Untungnya ada Reza yang selalu menenangkanku,” lanjutnya kemudian.


“Tapi Mas sangat bersyukur dengan kejadian itu,” ucap Adrian enteng sembari tersenyum.


“Kenapa begitu? Aku hampir gila melihatmu tak berdaya dengan banyaknya alat-alat medis yang menempel ditubuhmu.”


Adrian merangkul pundak Rissa. “Kalau tidak begitu, Mas tidak akan mendapatkanmu.”


“Nggak kayak gitu juga kali,” bantah Rissa tak terima ucapan Adrian.


“Loh, memang gitu faktanya, kok. Hayo mau bantah apalagi?” tantang Adrian tak mau kalah.


Rissa mencebikkan bibirnya. Adrian yang gemas langsung menarik istrinya ke dalam dekapannya serta memberikan beberapa ciuman ujung kepala wanita itu.


“Tapi jauh sebelum kejadian itu. Mas sudah mencintaimu. Hanya saja Mas masih ragu padamu.”


“Kamunya galak banget. Ketus pula kalau ngomong.”


Merasa tersindir, Rissa mendaratkan telapak tangannya di paha suaminya. Bukannya kesakitan Adrian malah tergelak melihat ekspresi istrinya yang cemberut.


“Sana sana jauh jauh," usir Rissa sembari mendorong tubuh suaminya.


“Tuh, kan, mode galaknya keluar. Gimana mau jauh, orang cintanya makin nambah gini,” goda Adrian seraya mencolek dagu Rissa.


“Oh, jadi kamu suka aku yang galak?”


“Ya nggak gitu, Sayang. Mas suka semua yang ada di kamu. Serius.”


Rissa hanya memutar bola matanya malas. Hal itu sukses membuat Adrian kembali menariknya ke dalam pelukannya.


Tiba-tiba Rudi berdehem membuyarkan pelukan keduanya. Lalu dengan santainya ia duduk di sofa yang terpisah dari putra dan menantunya.


“Tidak bertemu sehari saja sudah seperti ini. Bagaimana kalau lama?” goda Rudi dengan nada menyindir.


Adrian hanya tersenyum kikuk sedangkan Rissa, menundukkan kepalanya menahan malu.


“Iyan keluar dulu, Pi. Mau cari angin segar,” ujar Adrian mengalihkan kecanggungannya. Sambil berdiri ia menurunkan ujung kemejanya.


“Aku ikut, Mas.” Rissa pun ikut berdiri. “Kami permisi dulu, Pi,” pamit Rissa pada Rudi.

__ADS_1


Kemudian mereka pun keluar setelah mendapat ijin dari Rudi.


Sementara di ruangan lain, seorang pria yang biasanya tampak segar bugar di kesehariannya itu terlihat lemah tak berdaya di atas tempat tidur dengan tubuh berhiaskan alat-alat medis yang menempel erat di sana.


Beberapa jam yang lalu, dokter Herman memang sempat memvonisnya meninggal tapi nasib baik memang masih berpihak padanya. Pria itu hanya mengalami sudden cardiac death. Hal ini pun sontak membuat keluarganya tak henti-hentinya mengucap syukur karena ada secercah harapan bagi pria itu untuk bertahan.


Ahmad berdiri di dekat jendela kaca yang mengarah ke dalam ruangan putranya. Dokter masih melarang siapa pun untuk masuk karena pria itu masih dalam pengawasan intensif. Sementara istri dan putrinya Rania, duduk di jejeran kursi stainlees tepat di depan ruang ICU. Hesti masih tampak lemah meskipun begitu, ia tetap menolak untuk dirawat sesaat setelah sadar dari pingsannya.


Rania berdiri menghampiri Ahmad. “Pak, sebaiknya Bapak dan Ibu pulang saja. Biar Nia yang menjaga kakak di sini,” anjurnya.


“Ibu mau di sini saja sampai kakakmu pulih.” Tiba-tiba Hesti bangkit berdiri dan menolak usulan putrinya.


“Bu, kesehatan Ibu dan Bapak juga lebih penting. Terlebih Ibu yang berkali-kali pingsan. Kalau di rumah, Ibu bisa istirahat dengan tenang," kata Rania.


“Bagaimana Ibu bisa tenang, kalau pikiran Ibu masih di sini,” bantah Hesti.


“Benar apa kata Nia, Bu,” ujar Ahmad, “Kita juga harus memperhatikan kesehatan. “Nanti setelah magrib kita pulang,” putusnya kemudian.


“Om, Tante, Nia.” Adrian mengabsen orang-orang yang berdiri di tak jauh darinya.


Merasa terpanggil mereka pun menoleh ke sumber suara. Adrian dan Rissa berjalan menghampiri ketiganya.


“Bagaimana keadaan Reza saat ini?” tanya Adrian ketika sampai di depan ruang ICU.


“Ayo kita duduk dulu di sana.” Ahmad menunjuk kursi yang sebelumnya di duduki oleh Hesti dan Rania.


Adrian dan Rissa mengangguk kemudian mereka duduk. Kini jejeran kursi itu terlihat penuh.


“Keadaan Reza masih sama.” Ahmad menjawab pertanyaan Adrian tadi.


“Lalu, bagaimana keadaan adikmu?” tanya Hesti.


“Dia sudah siuman, Tante. Dia sempat histeris dan memaksa ingin melihat Reza. Tapi kami melarangnya, karena kondisinya masih belum stabil,” tutur Adrian.


“Pasti dia masih menyalahkan diri,” tebak Ahmad.


“Iya, Om.” Adrian tersenyum tak enak.


Tak lama kemudian, dokter dan perawat keluar dari ruang ICU dengan wajah berbinar. Ahmad dan istrinya segera mendekat.


"Selamat, Pak, Bu. Pasien telah melewati masa kritisnya dan saat ini dia sudah sadar."


"Alhamdulillah," ucap semuanya kompak.


"Dokter, apa kami boleh menjenguknya sekarang?" tanya Ahmad.


Dokter Herman mengangguk sembari tersenyum. "Iya, Pak. Tapi bergantian, ya? Tidak boleh sekaligus masuk karena kondisi pasien masih lemah."


"Iya, Dokter." Ahmad tersenyum senang.


"Saya permisi dulu, mau periksa pasien yang lain," pamit Dokter Herman meninggalkan beberapa orang yang berdiri di depan ruangan tersebut.

__ADS_1


Selepas kepergian dokter, Ahmad dan Hesti masuk terlebih dahulu menemui putranya. Sedangkan Adrian dan Rissa pamit kembali ke ruang rawat Andin untuk mengabarkan kalau Reza sudah sadar.


__ADS_2