
Matahari belum terlalu condong ke arah barat. Suasana mal terlihat semakin ramai oleh para pengunjung. Mengingat hari ini adalah Sabtu, suatu hal wajar dari sepersekian persen penduduk kota ingin menghabiskan malam minggu sekaligus membuang jenuh disana.
Namun berbeda halnya dengan Reza dan Andin yang terpaksa harus menyudahi kesenangan mereka. Ah tidak, lebih tepatnya Reza yang memaksa wanita tersebut untuk kembali ke rumah. Sebab pria yang sedari tadi tak lepas memindai wajah sang istri yang sedang duduk bersila di atas sofa sembari menikmati camilan itu terlihat begitu khawatir.
Bagaimana tidak, usai mendengar kalimat wanita berprofesi sebagai cleaning service beberapa saat lalu. Tak henti-hentinya ia menawarkan Andin pergi ke dokter untuk sekadar memastikan dugaan tersebut. Akan tetapi, ia harus memupuk kesabaran lebih. Sebab Andin tetap kokoh pada keputusannya yang tak ingin diperiksa.
Takut kecewa dan sedih.
Itu alasan kuat bagi Andin untuk tidak mengikuti ajakan sang suami. Dulu, di tahun pertama pernikahannya, ia pun pernah mengalami hal serupa. Dengan semangat menggebu, keduanya pergi ke dokter obgyn terbaik di kota itu.
"Ibu Andin hanya kelelahan dan sedikit stres karena tekanan pekerjaan. Bisa jadi mual dan muntah yang Anda alami dipicu oleh dua hal tersebut. Terlebih, Anda juga sering melewatkan jam makan."
Tiap untaian kata yang terlontar dari bibir sang dokter membuat Andin merasa insecure dengan keadaannya kini. Bukan perkara mudah. Butuh waktu berminggu-minggu serta support dari orang-orang sekelilingnya agar ia bisa lepas dari rasa kecewa itu. Tetapi tetap saja sebagai wanita normal, ia pun teramat ingin memiliki anak untuk meneruskan garis keturunannya.
"Baiklah, Sayang. Kalau kamu nggak mau. Aku nggak akan memaksa," kata Reza.
Wanita itu tersenyum tipis. Sorot mata sendunya menangkap jelas manik mata penuh harap milik Reza. Ia menyadari, suaminya begitu ingin seorang anak hadir diantara mereka.
"Kita masih punya banyak waktu untuk berusaha dan berdoa," imbuhnya lagi dan Andin mengangguk.
Hening tercipta sesaat. Keduanya sibuk menyelami pikiran masing-masing. Sampai akhirnya adzan maghrib membuat keduanya lekas membersihkan diri dan bersiap menunaikan ibadah wajib di tempat berbeda. Andin di rumah, sementara Reza pergi ke mesjid.
***
"Bee!" panggil Andin seraya merangkak naik ke atas ranjang dan duduk di samping suaminya yang lekas meletakkan kembali ponsel di atas nakas.
"Apa, Sayang?"
"Ehm ...." Ragu Andin untuk meneruskan kalimatnya. Khawatir bila ia mengutarakan maksud, suaminya tak akan mengabulkan.
"Ada apa?" Tangan Reza terulur mengambil ujung rambut Andin dan menyelipkan di belakang telinga. "Katakan saja."
"Apa aku boleh pergi ke Jakarta?"
Alis Reza bertaut diiringi dengan tatapan penuh selidik menghunus bingung pada istrinya yang tiba-tiba meminta izin untuk pergi ke kota kelahiran istrinya.
"Kalau nggak boleh, nggak apa, deh. Lain kali saja," kata Andin lagi. Ia bergerak untuk merebahkan dirinya namun segera dicegah oleh Reza.
"Bukan begitu, Sayang. Aku cuma aneh saja. Kenapa tiba-tiba kamu mau kesana? Ada apa?"
"Aku lagi kangen sama mami dan papi."
"Oh ... Ya sudah besok kita ke sana," ucap Reza enteng.
"Tapi aku mau nginap disana, loh."
"Ya sudah, aku ikut nginap. Beres, 'kan?"
__ADS_1
"Rencananya aku agak lama disana, Bee."
Reza kembali mengerutkan dahinya. "Kok gitu? Berapa lama? Lalu pekerjaanmu bagaimana?"
"Aku sudah ambil cuti. Dan mungkin sekitar seminggu aku disana."
"Yah, aku bobok sendirian, dong." Wajah Reza memelas. Dan itu membuat Andin menerbitkan senyum gelinya. Jujur saja, dalam dua tahun pernikahannya, baru kali ini mereka terpisah jarak dan waktu. "Apa aku harus ikut cuti juga? Biar bisa menemanimu disana."
"Nggak usah, lah, Bee. Seminggu nggak lama. Dan katanya pekerjaan kamu lagi banyak."
"Iya juga, sih! Baiklah ratuku. Hamba akan mengantarmu ke negeri seberang." Reza mengecup bibir Andin sekilas. "Ayo kita tidur. Apa kamu mau tiduri aku lagi?"
Blush
Seketika wajah Andin merah merona, menahan malu. Masih teringat jelas di kepalanya tentang kejadian semalam. Tentang kegilaannya menari-nari di atas tubuh Reza. Bahkan pria itu sampai kewalahan mengimbangi permainan tersebut.
"Oke! Kalau begitu aku saja yang memulainya!"
"Bee!"
Secepat kilat Reza membalik tubuhnya dan memposisikan diri di atas Andin. Secara perlahan tangannya mulai menjelajah di tempat-tempat persinggahan. Begitu juga dengan bibirnya yang juga mulai sibuk mengecap manis dan ranum benda kenyal milik istrinya.
"Beri aku doping untuk satu minggu ke depan, Sayang!" bisik Reza disela-sela ciumannya. Nada suaranya terdengar serak. Pertanda nafsu durjananya sudah merayap naik ke ubun-ubun. "Agar aku lebih semangat."
Dengan mata terpejam, Andin mengangguk pasrah. Bila sudah seperti ini, ia hanya bisa mengikuti alur. Permainan bibir dan tangan Reza mampu membuatnya terbuai. Bahkan tanpa disadarinya, Reza sudah melucuti pakaian hingga mereka kini sama-sama polos.
***
Setelah semalam mendengar keinginan Andin untuk menginap sementara waktu di Jakarta. Maka pagi ini, Reza sudah terlihat sibuk memasukkan beberapa barang dan sebuah koper berisi pakaian istrinya ke dalam bagasi mobil.
"Sudah nggak ada lagi yang tertinggal, Sayang?" tanya Reza ketika melihat Andin sudah sampai di hadapannya usai mengunci pintu utama.
"Ada!"
"Ya sudah, ambil. Biar aku tunggu kamu di mobil."
Andin bergeming membuat tangan Reza yang hendak membuka pintu mobil bagian kemudi itu urung. Ia menoleh dan menatap heran pada istrinya.
"Kok diem? Katanya ada yang ketinggalan."
"Yang ketinggalan itu hati aku ... ke kamu," jawab Andin seraya menjauhkan tubuhnya menuju pintu bagian lain dan lekas masuk ke dalam mobil diikuti Reza di sampingnya.
"Pinter gombal ya, sekarang."
"Gombal sama suami sendiri nggak apa, dong."
"Ya nggak apa. Boleh malahan."
__ADS_1
"Awas ya, selama aku nggak ada. Jangan macam-macam atau lirik cewek lain," ancam Andin. "Pesona pria yang sudah menikah itu sangat berbeda. Apalagi sekarang pelakor sudah semakin merajalela."
"Ah elah! Amit-amit, Yank. Kamu tenang saja. Hati aku, cinta aku, semua yang ada di aku itu sudah menjadi milikmu." Reza menurunkan sedikit kerah leher baju kaosnya. "Tuh, ada stempelnya."
Andin mengulum senyum. Tak ingin terlalu malu di hadapan Reza. Ia meminta pria itu segera melajukan kendaraannya dengan dalih takut terjebak macet.
Menempuh perjalanan hampir dua jam. Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Keduanya pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sesaat setelah mengucapkan salam.
"Mami ... Andin kangen."
Setengah berlari, wanita itu menghampiri Mira yang juga tengah menghampirinya dan lekas memberikan pelukan. "Ih, sudah nikah masih saja manja."
"Manja nggak ada hubungannya dengan status, Mami." Andin mengurai pelukannya. Memberi ruang pada Reza untuk mencium punggung tangan sang mertua.
"Mami sehat?" tanya Reza.
"Alhamdulillah Mami sehat. Kalian nginap, 'kan?"
"Andin saja yang menginap, Mi. Saya akan kembali nanti sore. Ada pekerjaan yang tidak bisa dialihkan pada orang lain," jawab Reza.
"Kalian tidak ada masalah, 'kan?" Sorot mata tua itu meneliti. Seolah mencari sebab mengapa hanya putrinya saja yang tinggal. Sementara menantunya tidak.
"Ish, Mami! Pikirannya nggak bagus banget. Dikata kangen, kok. Kami baik-baik saja, Mi."
"Wajar Mami curiga. Nggak biasanya kalian pisah kota begini."
"Karena memang waktunya lagi nggak bisa sinkron, Mi." Reza memberi penjelasan.
Mira mengangguk paham kemudian membimbing langkah Andin dan Reza menuju ruang keluarga.
"Papi mana?" Andin menyapukan pandangannya mencari sosok pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Papi ada di halaman belakang. Biasa lah. Ngurusin burungnya yang lagi ngambek."
"Hah! Burung? Burung yang bisa terbang?" Dengan wajah tak berdosa, Reza menimpali sembari memperagakan gaya burung terbang.
"Kamu kira burung apa yang nggak bisa terbang, Bee!"
Netra milik Andin membesar. Merasa jengah sebab Reza berucap tidak melihat sikon sama sekali. Padahal masih ada Mira di sekitar mereka. Wanita paruh baya itu hanya terkekeh pelan. Perdebatan ini tak sekali ia menyaksikan. Itulah uniknya menikah dengan sahabat sendiri. Hal sepele bisa berbab-bab bila dibahas. Terlihat bertengkar padahal tidak.
"Banyak! Burung pinguin, burung onta, burung kasuari. Pikiranmu aja yang ngeres." Reza melemahkan ujung kalimatnya namun sayang, Andin bisa mendengarnya.
"Apa kamu bilang! Aku—."
"Udah udah udah. Jangan berdebat! Kalian tunggu sini. Mami mau panggil papi dulu."
Mira lekas pergi ke halaman belakang dan kembali bersama Rudi. Cukup lama mereka berbincang. Menjelang petang, Reza pamit undur diri karena harus kembali ke Bandung.
__ADS_1