
Dengan wajah serius. Farah menatap Andin lekat-lekat sembari bertanya, "apa kamu masih mencintainya?"
Bagai tersengat listrik ribuan volt, tubuh Andin mendadak tegang. Begitu terkejut mendapati pertanyaan yang menurutnya tak masuk akal.
"Aku? Mencintai suamimu? Bagaimana bisa kamu bertanya hal absurd seperti itu Farah?"
"Karena dia bukan suamiku," jawab Farah dengan santainya.
"Apa?" Semakin terkesiap Andin mendengarnya. "Kamu nggak lagi bercanda, 'kan? Bukankah kalian berencana menikah akhir bulan lalu?"
Tak ada jawaban dari Farah. Wanita itu justru berdiri menghampiri sebuah lemari kaca yang berisi beberapa plakat dan thropy penghargaan baik dalam skala nasional maupun asia.
Sejenak Farah melirik bayangan Andin lewat pantulan kaca sembari membuat panggilan pada seseorang melalui ponsel yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Ia tersenyum kala panggilan tersebut terhubung.
"Ya hal—." Suara pria diseberang sana seketika terputus kala mendengar suara yang teramat familiar.
"Farah katakan padaku, apa alasanmu menuduhku kalau aku mencintai pak Reza?" tanya Andin dengan sorot mata penuh tuntutan.
Farah membalikkan tubuhnya dan menyeringai "Berhentilah membohongiku terutama membohongi dirimu sendiri, Andin. Kamu pikir aku tidak tahu kalau selama ini kalian saling mencintai."
Skakmat!
“Da-dari mana kamu tahu?” Sungguh, Andin sangat membenci suaranya yang terdengar bergetar seperti ini. Ia palingkan wajahnya ke mana saja asal bukan ke arah Farah sembari menyembunyikan pandangannya yang mulai mengabur oleh air mata.
"Tidak penting aku tahu darimana,” sahut Farah yang kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. “Namun yang pasti aku sudah mengetahui semuanya. Termasuk hubungan persahabatanmu dengannya yang berakhir karena kesalahpahaman.”
"Maafkan aku, Farah. Bila saja aku tidak hadir ditengah-tengah kalian, mungkin saat ini kalian sudah menikah." Andin menarik satu tangan Farah yang bebas lalu menggenggamnya. "Tapi sungguh, aku sudah berusaha menghindarinya untuk menjaga perasaanmu."
"Hei ... Untuk apa meminta maaf. Justru aku sangat berterima kasih padamu. Apa kamu bisa bayangkan, bagaimana pernikahan kami bila salah satunya tidak terpanggil untuk mencintai?"
Isakan Andin semakin kencang membuat pria yang masih menempelkan ponsel di daun telinganya itu terenyuh mendengarnya. Andai saat ini ia berada disana. Ingin sekali ia menarik tubuh itu dan menenangkannya.
"Sekarang katakan padaku. Apa kamu masih mencintainya?" imbuh Farah dengan mengulang pertanyaan dan itu mengalihkan perhatian pria di ujung sana menjadi tegang, menunggu jawaban.
"Aku ... aku ...." Andin meneruskan kalimatnya dengan sebuah anggukan lemah.
“Katakan dengan jelas dan tegas Andin!” Farah menyempatkan diri melirik ponselnya masih terhubung. Nada suaranya sedikit meninggi. “Iya atau tidak?”
__ADS_1
Andin menarik napasnya dalam. “Aku—.”
"Shit!" umpat pria itu kesal. Bukan pada Andin melainkan pada ponselnya yang tiba-tiba mati karena kehabisan daya. Saking kesalnya ia reflek menendang angin. Sontak hal itu berhasil menyita perhatian orang-orang yang ada disekitarnya.
“Ada apa Pak Reza?” tanya salah seorang pengawas perkebunan yang heran melihat tingkah anehnya itu.
“Tidak ada! Kamu lanjutkan dulu. Saya akan menunggu di mobil sembari mengisi daya ponsel sebentar." Tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya itu, Reza segera berlari dari area perkebunan bunga mawar menuju mobil yang terparkir agak jauh dari posisinya saat ini. Sesaat sesudah mengisi daya, ia lantas menghubungi Farah. Namun sayang, nomor tersebut sedang berada di luar jangkauan.
“Duh! Kemana sih ni cewek?” Reza mulai frustrasi. Sebenarnya jarinya sudah gatal ingin menekan nomor Andin dan menanyakan hal itu secara langsung. Akan tetapi, logikanya memintanya untuk menahan diri sembari menunggu kabar baik dari Farah.
Akhirnya Reza memutuskan untuk kembali mencoba menghubungi Farah. Entah itu mau tersambung atau tidak, ia akan terus mencoba. Sampai malam menjelang dan sudah berada dirumah, pria itu masih saja tak melepaskan ponsel dari genggamannya bahkan panggilan dari Hesti yang memintanya untuk makan malam, ia abaikan begitu saja.
“Ah bodohnya aku. Kenapa aku tidak menghubungi Arfan. Dia, ‘kan bersama Farah.” Reza menoyor kepalanya sendiri kemudian menekan nomor Arfan.
Lagi-lagi ia mendesah. Nomor Arfan ternyata juga tidak aktif!
“Haissshhhh!" Baru saja ia hendak melempar ponselnya di atas tempat tidur, sebuah deringan yang terdengar berisik menghentikan aksinya itu. Ia menurunkan tangannya yang menggantung di udara untuk melihat id pemanggil di layar ponselnya tersebut.
"Kamu dari mana saja?" Suara Reza terasa meledak di telinga Farah yang saat itu sedang asyik menikmati makan malamnya di sebuah restoran mewah bersama Arfan. "Aku meneleponmu sejak tadi, tapi kenapa baru sekarang kamu angkat!"
"Aku sedang menikmati bonus yang kamu berikan," jawab Farah. "Mumpung di sini juga. Ya nggak, Fan?" tanya Farah pada Arfan yang duduk di depannya.
"Aku tidak pernah memberikannya! Dia yang merampokku!" Reza merasa geram dengan dua manusia yang sangat menyebalkan itu hingga tak ada lagi bahasa formal yang terselip dalam kalimatnya.
"Ada apa menelponku, A'?" Kali ini suara Farah yang mengambil alih situasi.
"Aku ingin menanyakan mengenai perasaan Andin padaku?" tanya Reza.
"Apa tadi kamu tidak mendengarnya?" Farah balik bertanya disertai kebingungan di wajahnya. Wajar, karena wanita itu tidak menyadari kalau panggilannya sudah terputus.
"Aku tidak sempat mendengarnya secara utuh karena ponselku sudah lebih dulu mati karena kehabisan daya."
Decakan lidah Farah terdengar menggelitik di telinga Reza. Wanita itu berdiri dan menjauh dari mejanya menuju teras restoran.
"Farah Farah! Kamu masih disana, 'kan?"
"Iya bentar. Aku lagi jalan ke teras ini. Di dalam berisik!"
__ADS_1
"Udah?"
"Iya!
"Apa yang Andin katakan padamu tadi? Apa dia masih mencintaiku? Apa dia mau bila aku melamarnya menjadi istriku? Oh iya, bagaimana dengan pria itu?"
Farah tersenyum getir mendengar beberapa pertanyaan yang begitu menuntut dari mulut Reza. Seperti inikah rupa pria yang pernah ia cintai sedang bahagia? Namun Farah bersyukur, bahwa apa yang ia lakukan saat ini adalah tepat. Menyatukan dua insan yang saling mencintai.
"Dia masih mencintaimu, A. Masih sangat mencintaimu." Farah menekankan kalimatnya membuat Reza segera menerbitkan senyumnya. "Untuk masalah Denis, dia bukan calon suaminya."
"Benarkah?" Bukan tidak percaya, hanya saja ia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidaklah salah.
"Iya dan sekarang tugasku untuk membantumu sudah cukup sampai disini. Selanjutnya, aku alihkan padamu untuk menyelesaikannya."
"Terima kasih, Farah. Terima kasih banget!"
"Iya. Selamat berjuang, A'."
Sambungan pun terputus. Reza lantas mengepalkan tangannya di udara sembari berteriak layaknya orang tidak waras. "Yes! Yes! Yes! Aku nggak jomblo lagi woy."
Dan teriakannya itu terdengar hingga ke lantai bawah. Dimana Halimah dan Ahmad sedang duduk bersantai di ruang keluarga.
"Anakmu kenapa, Pak? Apa karena gagal menikah dia menjadi tidak waras seperti itu?" Halimah menatap lantai atas dengan dahi berkerut.
"Hush, kalau ngomong suka asal," tegur Ahmad. "Mending ibu naik dan lihat dia."
Hesti mengangguk. Saat ia hendak beranjak, terdengar suara derap langkah kaki mendekat disertai teriakan lagi.
"Bapak! Ibu!"
"Ada apa, Cha? Kamu kenapa? Sakit?" tanya Halimah yang terlihat panik, ia mendekat kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Reza untuk memeriksa suhu tubuh pria tersebut
"Echa nggak lagi sakit, Bu," bantah Reza seraya menurunkan tangan sang ibu.
"Lantas apa? Kenapa kamu teriak seperti orang stres?" sergah Ahmad yang mana hal itu membuat Reza mengembangkan senyumnya. "Nah, iya Bu. Stres ini bocah!" celetuknya kemudian.
"Sini sini, duduk dulu." Reza menarik tangan ibunya dan kembali mendudukkannya itu di samping bapaknya. Kemudian ia ikut duduk tepat di seberang kedua orang tuanya itu. "Dengerin, ya?"
__ADS_1
Reza berdehem untuk membuang gugupnya. Detik berikutnya dengan penuh rasa percaya diri ia berkata, "Echa sudah menemukan calon menantu yang tepat untuk Bapak dan Ibu. Dan sebentar lagi, Echa akan segera menikahinya."
"Hah?"