Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Memilikimu Seutuhnya


__ADS_3

Malam semakin larut. Dentuman suara musik sayup-sayup mulai menyatu dengan deburan ombak yang bergulung-gulung di bibir pantai. Memberikan suasana syahdu dalam kamar yang dihuni oleh pengantin baru tersebut.


"Sayang! Buruan, aku sudah nggak kuat, nih!" Berulang kali Reza mengetuk pintu kamar mandi yang sudah sangat lama tertutup di depannya itu. "Kamu lagi ngapain, sih! Lama banget di dalam?"


"I-iya, sebentar!" sahut Andin. Wajahnya panik. Bulir-bulir keringat sudah bercucuran di keningnya. Ia menatapi pantulan dirinya yang sudah mengenakan dress tipis sebatas paha bertali spaghetti—atas saran Rissa dan Avry beberapa waktu lalu—melalui cermin.


Bisa! Aku harus bisa. Bagaimanapun juga aku adalah seorang istri sekarang. Melayani suami adalah kewajibanku.


Andin mengangguk. Ia tarik napasnya dalam-dalam sesaat sebelum ia merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.


"Ayolah Sayang ... aku mohon keluarlah. Ini sudah benar-benar nggak bisa di tahan lagi. Aku mau—."


Pintu terbuka, spontan menghentikan kalimat Reza. Matanya menyapu secara keseluruhan menatapi tampilan wanita yang sedang menundukkan kepalanya. Sungguh menggoda iman! Namun sesaat kemudian, ia tersadar ada sesuatu hal yang harus dituntaskan sesegera mungkin.


"Permisi Sayang. Aku mau pakai kamar mandinya. Perutku sakit banget!" Sambil memegangi perut, Reza menepis lembut tubuh Andin dan melewatinya begitu saja. Tentu saja hal itu membuatnya terperangah. Ia pikir Reza mengetuk pintu seperti orang kesetanan, karena ingin cepat-cepat melakukan itu. Ah sial! Otaknya mendadak travelling.


Wanita itu menghela napas panjang dan memutuskan pergi menuju balkon sembari mengurai pikiran-pikiran liarnya. Dari kejauhan, ia bisa melihat masih ada beberapa orang yang berlalu lalang di pinggir pantai meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.12. Malam ini bulan bersinar begitu terang, memantulkan cahayanya ke permukaan air sehingga menimbulkan kilauan-kilauan indah di atasnya.


Cukup lama ia disana hingga tak sadar ada seseorang yang baru saja datang dan berdiri persis di belakangnya. Dalam sekejap, ia terkejut ketika merasakan ada dua lengan kokoh melingkar tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa berdiri disini?" bisik Reza lirih. “Apa kamu nggak kedinginan?”


"Ah ... Eng-nggak, kok," jawab Andin gugup. Terlebih ketika tak sengaja sikunya menyentuh dada Reza yang telanjang. “Pe-perutmu sudah enakan?”


Reza tak memberikan jawaban, ia justru sibuk memberikan sentuhan-sentuhan hangat di leher jenjang istrinya hingga membuat sekujur tubuh wanita itu meremang dengan sensasi yang baru saja ia dapatkan.


“Bee ….”


Reza melepaskan ciumannya. Ia merengkuh tubuh Andin, membuat tubuh itu menghadapnya. Sejenak, dua manik mata itu saling bersilang pandang untuk beberapa saat.


“Aku sangat mencintaimu, Sayang.”


Tepat disaat Andin akan menjawab pernyataan itu, Reza sudah membungkam bibir merah muda itu. Membuat pemilik bibir, serta merta menegang. Awalnya hanya sekadar kecupan hangat. Namun lambat laun, kecupan itu berubah menjadi kecupan penuh gairah. Apakah ini sudah saatnya? Akankah ini menjadi pengalaman pertama yang mengerikan? Benarkah rasanya akan menyakitkan?


"Kenapa? Apa kamu belum siap melakukannya?" Senyum terpaksa menghiasi bibirnya. Begitu juga dengan suaranya yang terdengar memberat. Ada gejolak nafsu yang bersarang dan minta dilengserkan secepatnya. Apalagi ia tahu, bahwa sekarang Andin tidak sedang datang bulan.


“Bukan itu maksudku.” Andin menurunkan pandangannya menatap keadaan di bawah sana. Meski kamar mereka berada di lantai atas dan privat. Tetapi tetap saja tak membuatnya merasa nyaman. “Ini tempat terbuka dan ….” Andin menghentikan kalimatnya. Tampak malu untuk meneruskan. Bahkan untuk menatap suaminya pun ia segan.


Reza mengembangkan senyumnya dan meraih dagu Andin. Berusaha membuat wanita itu kembali menatapnya. “Kenapa nggak bilang?”

__ADS_1


Semangat Reza kembali berkobar. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Andin ala bridal stlye dan melangkah mantap ke arah ranjang yang bertaburan ratusan kelopak bunga mawar merah di atasnya. Khas ranjang pengantin.


“Bee!”


Reza tak memedulikan pekikan Andin. Ia hanya fokus pada satu tujuan. Secara perlahan ia membaringkan tubuh istrinya di tengah-tengah ranjang kemudian menindihnya dengan siku sebagai tumpuan agar tak terlalu menyakiti pemilik tubuh tersebut.


Sebelum melanjutkan aksinya, ia pandangi wajah wanita itu sejenak dan intens. Luar biasa pencapaiannya kali ini. Wanita yang sejak lama ia damba, wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati, wanita yang dulu hanya berstatus sahabat, kini menjelma menjadi istrinya. Dalam hati ia berjanji, tak akan pernah sedikitpun membuat wanita itu terluka walau seujung kuku.


“Kenapa memandangku seperti itu, Bee?” Andin menutupi mata Reza dengan tangannya. Tapi Reza lekas menarik dan melingkarkannya di leher.


“Malam ini, akan kujadikan kamu ratu yang sesungguhnya.” Ia sudah tak bisa menahan diri lagi. Perlahan tapi pasti, ia mendaratkan bibirnya di kening wanita itu dengan lembut kemudian merambat turun ke kedua kelopak mata, ujung hidung, pipi mulus dan berhenti di benda kenyal yang terasa sangat manis di indera pengecapnya.


Reza menyesap bibir itu secara bergantian. Memagutnya dengan lembut sembari menunggu tubuh Andin yang sedikit demi sedikit mulai rileks. Ia paham apa yang ditakutkan oleh istrinya. Untuk itu ia tak ingin terburu-buru. Bagaimanapun juga ini adalah malam keramat bagi keduanya, ia ingin memberikan kenyamanan dan sensasi yang berbeda melalui permainan bibirnya.


Lenguhan pun mulai terdengar ketika Andin sudah bisa membalas sesapan itu. Bahkan tak segan-segan wanita itu membuka mulutnya, memberikan ruang bagi suaminya itu mengekspole bagian dalam seolah ingin mengabsen apa yang ada di sana. Pertautan antar lidah serta pertukaran saliva, terjadi cukup lama. Bertaut dengan begitu nafsunya.


Tanpa sadar, Andin menjambak rambut Reza. Meminta suaminya itu melakukan hal yang lebih dan lebih lagi. Sepertinya akal sehat sudah terlepas seiring terbitnya gairah yang membumbung tinggi. Puas bermain dengan bibir, Reza melepaskan ciumannya dan berpindah ke leher jenjang Andin seraya memberikan kesempatan bagi istrinya tersebut untuk mendapatkan pasokan udara segar.


Di sana permainan Reza juga tak kalah hebat. Kecupan disertai gigitan kecil membuat pemiliknya susah payah menahan *******. Reza terlalu lihai. Sementara bibir itu masih sibuk bekerja, Reza menarik pelan dress satin yang dikenakan Andin hingga batas dada kemudian menyelipkan tangannya di balik punggung istrinya.

__ADS_1


***


TEXT SEBAGIAN DI HAPUS


__ADS_2