Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Cinta ... Aku Menyerah


__ADS_3

Malam itu menjadi malam panjang bagi Reza dan keluarganya. Bagaimana tidak, keputusan Reza yang hendak meninggalkan ibukota begitu mengejutkan di telinga mereka. Baik Rania maupun kedua orang tuanya sangat menyayangkan keputusan itu. Ada rasa tak rela dalam benak mereka. Bukankah saat ini ia sedang berada di puncak karir? Bukankah pekerjaannya yang sekarang adalah impian dari sebagian orang yang ingin bekerja di perusahaan bonafit sekelas Dinata Group? Mengapa ia ingin melepaskan itu semua dan tinggal di tempat di mana ia dilahirkan?


Mencari suasana baru.


Hanya itu jawaban dari semua pertanyaan yang disodorkan untuknya. Sorot mata penuh keyakinan serta kuatnya tekad, membuat mereka mau tak mau harus menerima keputusan itu.


Hal itulah menjadi alasan Reza, mengapa pria itu sekarang menapakkan kakinya di lantai dua puluh menuju sebuah ruangan dengan pintu bertuliskan ‘Presiden Direktur’.


Ia menekuk jemarinya lalu menempelkannya berulang kali hingga terdengar sebuah sahutan dari dalam.


“Masuk!”


Pria yang mengapit sebuah map berwarna hijau daun di sela-sela jarinya itu pun segera mengangsurkan tubuhnya ke dalam.


“Eh, Za … Ada apa?” Adrian mengalihkan pandangannya dari layar MacBook. Sedikit terkejut mengetahui orang yang datang adalah Reza. Suatu hal yang jarang sekali terjadi. “Tumben kesini.”


“Ada yang ingin aku berikan padamu,” terang Reza. Nada suaranya terdengar serius hingga mampu membuat kening Adrian berkerut dalam.


“Duduklah dulu di sana,” titah Adrian sembari menunjuk sofa tak jauh dari tempat Reza berdiri.


Reza mengangguk. Pun ia membalik badan dan mendekat ke arah sofa disusul oleh Adrian. Kini posisi mereka saling berhadapan-hadapan dengan meja kaca, menyekat diantara keduanya. Atmosfir di ruangan itu seketika mencekam, hanya terdengar suara napas yang saling bersahutan untuk mencari udara segar di sekitar mereka.


“Apa yang ingin kamu berikan?” Adrian membuka suara sesaat setelah keheningan membelenggu keduanya. Iris cokelat itu memandang lurus ke depan dengan tajam.


Reza meletakkan map yang sedari tadi berada dalam genggamannya di atas meja kemudian menggeser benda tersebut menggunakan jari ke arah Adrian. “Aku hanya ingin memberikan ini.”


“Apa ini?”


“Buka saja.”


Adrian meraih dan membuka map tersebut. Sepersekian detik kemudian, ia membeliakkan matanya bahkan bola matanya nyaris meloncat keluar dari rongganya.


“Resign? Kamu serius, Za?" Gendang telinga Reza terasa ingin meledak mendengar Adrian menaikkan satu tingkat nada suaranya. Pria itu tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


“Apa aku terlihat sedang mengerjaimu?”

__ADS_1


Suara Reza tegas bertanya membuat Adrian menelisik jauh ke dalam manik berwarna nyaris serupa dengannya itu dengan seksama untuk mencari celah kebohongan di sana, namun nihil. Reza benar-benar serius!


“Tunggu tunggu tunggu.” Adrian melemparkan map itu secara kasar di atas meja. “Katakan padaku! Apa yang menjadi alasanmu ingin resign dari sini, Za? Apa perkerjaanmu terlalu menekanmu? Apa gajimu tak sesuai dengan harapanmu? Kalau memang itu alasannya, aku bisa mempertimbangkannya."


"Bukan itu alasannya," sergah Reza. "Aku bersyukur bekerja di sini. Posisi dan gaji yang kamu berikan pun sudah lebih dari cukup."


"Lantas apa yang membuatmu memilih resign?"


“Aku hanya ingin mencari suasana baru, Yan."


“Suasana baru?” Adrian mengerutkan kening untuk kesekian kalinya. Masih meyakinkan diri bahwa apa yang ia dengar barusan memang tidak salah.


Reza hanya mengangguk.


"Oke!" Adrian menjentikkan jarinya. "Bila kamu ingin suasana baru. Itu mudah. Aku akan memindah tugaskanmu ke kota lain. Sebut saja, mau di kota mana dan gaji berapa. Asalkan kamu tidak resign dari perusahaan ini,” tawarnya kemudian. Jujur saja, ia masih enggan berpisah dengan sahabat, rekan sekaligus karyawan yang sangat potensial yang memiliki dedikasi tinggi terhadap perusahaan seperti Reza.


“Terima kasih, Yan. Tapi itu semua tidak perlu,” tolak Reza diiringi dengan gelengan cepat di kepalanya. “Selain aku ingin mencari suasana baru, aku ingin mandiri. Membuka usaha sesuai dengan kemampuan yang kumiliki selama bekerja di sini."


"Sepertinya aku tidak yakin kalau hanya itu yang menjadi alasanmu untuk resign dari sini."


"Apa ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman bekerja di sini?"


Pertanyaan yang mampu mengembalikan pandangan Reza ke posisi semula. "Tidak ada. Aku hanya ingin mandiri, Yan. Itu saja. Dan aku sangat berterima kasih padamu. Sudah memberikanku pekerjaan yang mampu membuatku dan keluargaku tak lagi dipandang sebelah mata karena status sosial kami."


“Kenapa bicara seperti itu? Seolah-olah kamu tidak pantas mendapatkan itu semua." Adrian menjeda kalimatnya sembari menyandarkan tubuhnya. "Tapi baiklah, bila itu alasanmu. Aku tak mungkin menahan dan memaksakan kehendakku padamu. Bagaimanapun juga, kamu punya hak dalam memilih mana yang terbaik dalam hidupmu. Dan aku harap, semoga kamu sukses dengan pilihanmu.”


“Aamiin … Terima kasih, Yan.” Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Adrian yang juga menghampirinya. Keduanya pun saling berpelukan seraya menepuk punggung sebagai tanda penyemangat di sana.


“Kalau sudah sukses, jangan lupakan aku,” pesan Adrian setelah melerai pelukannya.


“Kamu … adalah orang pertama yang akan mengetahui kesuksesanku nanti.” Reza tersenyum penuh keyakinan.


“Aku akan menantikan hari itu tiba.”


"Baiklah kalau begitu, aku pergi. Sampaikan salamku pada Rendy dan keluargamu." Adrian mengangguk. Ekor matanya mengantarkan kepergian Reza yang hendak keluar dari ruangannya. Belum sempat pria itu menyentuh handle pintu, ia teringat sesuatu.

__ADS_1


"Reza!"


Mendengar namanya dipanggil, Reza memutar tubuhnya menghadap Adrian. "Ya?"


"Andin ada di ruangannya. Apa tidak sebaiknya kamu menemuinya dan berpamitan secara langsung padanya? Bukankah kalian selama ini saling dekat?” usul pria yang sama sekali belum mengetahui masalah yang menimpa keduanya. Ia pikir, hubungan antara adik dan sahabatnya itu masih terlihat sama. “Aku khawatir dia akan sedih bila mendengar kabar kepergianmu dari orang lain.”


Reza terdiam, raut wajahnya terlihat datar. Sebenarnya ia ingin menemui Andin, namun ia tak yakin akan kuat berhadapan langsung dengan wanita itu. Bukankah kepergiannya ini sebagai salah satu pengobat lukanya?


“Za, kenapa kamu diam?” Tanpa Reza sadari, Adrian sudah berada tepat di sampingnya dengan sebuah tepukan halus di pundak untuk membuyarkan lamunannya. “Pergi dan temuilah adikku.”


"Ah ehm ... i-iya. Aku akan pergi menemuinya.” Tak perlu menunggu respon dari Adrian, pun Reza segera beranjak dari ruangan itu. Adrian yang melihat hanya tersenyum.


Bersamaan dengan Reza yang keluar dari ruangan Adrian, seorang wanita dengan rambut terkuncir bak ekor kuda itu pun terlihat keluar dari ruangannya yang terpaut beberapa meter di depan Reza. Sejenak netra mereka saling beradu pandang. Hingga akhirnya sang wanita sudah lebih dulu memutus kontak mata tersebut.


Dengan memupuk keberanian, Reza berjalan menghampirinya. Sejurus kemudian wanita itu justru menarik diri, kembali ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan keras. Namun tak membuat Reza menghentikan langkahnya. Ia menempelkan tubuhnya di daun pintu.


"Andin ... bisa buka pintunya sebentar," pinta Reza disela-sela ketukannya. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Pergi! Aku nggak mau ketemu kamu! Kamu jahat! Kamu brengsek! Kamu bukan temanku lagi!"


"Kumohon buka pintunya, Andin. Mari kita bicarakan ini baik-baik," ujar Reza.


"Pergi!"


"Andin ... Aku minta maaf. Mungkin selama berteman denganmu, aku banyak melakukan kesalahan hingga membuatmu sakit hati."


"Aku nggak butuh maaf darimu! Pergi kubilang! Aku benci kamu! Aku sangat membencimu!" Suara Andin terdengar bergetar, menandakan bahwa si pemiliknya sedang berusaha menahan tangis.


Mendengar Andin begitu sangat membencinya, hati Reza terasa tercabik-cabik. Spontan, mata pria itu mengembun. Mungkin, bila saja ia mengedipkan mata. Sudah dapat dipastikan cairan bening itu akan jatuh membasahi wajahnya yang sendu. Sementara Andin, wanita itu menyandarkan punggungnya di pintu dan merosotkannya begitu saja ke lantai dengan telapak tangan membungkam mulutnya, agar tangisannya tak terdengar oleh Reza.


"Andin ...."


Tidak ada sahutan dari dalam membuat Reza kembali melanjutkan ucapannya. "Aku kabulkan permintaanmu. Aku akan pergi dari sini. Jaga dirimu. Aku mohon berbahagialah tanpa diriku."


Reza menarik diri beberapa langkah ke belakang. Sembari menetralkan napasnya yang terasa terhimpit, ia pandangi pintu yang masih tertutup rapat di depannya itu.

__ADS_1


"Selamat tinggal cinta ... aku menyerah."


__ADS_2