Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Honeymoon Travel


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang rapat, Andin menarik tangan Reza dan membawanya masuk ke dalam ruangannya. Sambil bersedekap, ia menatap tajam pada pria tinggi di depannya itu.


“Katakan? Apa yang kalian rencanakan di belakangku?”


“Rencana? Rencana apa maksudmu? Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraanmu."


“Jangan berpura-pura bodoh. Kalian, ‘kan yang merencanakan masalah model untuk katalog itu?”


“Nggak!” bantah Reza cepat. “Kamu lihat sendiri, aku saja baru masuk kerja hari ini. Bagaimana mungkin aku bisa merencanakan hal itu? Bila kamu tak percaya, tanyakan saja pada Adrian."


Andin terdiam berusaha membenarkan kalimat Reza namun tetap ada sesuatu yang janggal menurutnya.


“Benaran. Sumpah! Aku nggak bohong, Andin. Kamu juga dengar sendiri, ‘kan, apa kata kakakmu tadi. Tidak ada pasangan yang lebih cocok selain kita berdua.” Reza mengulum senyum sembari memainkan jari telunjuk ke arah dirinya dan Andin secara bergantian. “Sepertinya aku sudah masuk katagori adik ipar impiannya.”


“Jangan ngelunjak. Hubungan kita tidak sejauh itu,” tegas Andin menyudahi khayalan liar Reza.


“Ya sudah. Di jauh-jauhin aja. Susah amat!”


Mendengar celetukan itu, seketika Andin merasa kesal.Ia mendorong tubuh Reza agar keluar dari ruangannya. “Keluar keluar. Makin lama di sini otakmu semakin kacau.”


"Andin! Aku belum selesai bicara!" Reza menggedor pintu yang sudah ditutup oleh Andin.


"Aku banyak pekerjaan!" sahut Andin tak kalah keras.


“Huft ... yang narik siapa, yang ngusir siapa. Dasar aneh!”


Reza menyerah, ia menarik dirinya masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruangannya dan bersiap menemui klien selanjutnya.


***


Sinar mentari pagi ini cukup cerah. Membiaskan cahayanya masuk ke dalam kamar pria yang kini tengah sibuk menyapukan pomade ke seluruh bagian rambutnya dan menyisirnya dengan jari.


Sayup-sayup telinganya mendengar suara deru mesin mobil mendekat. Sesaat kemudian ia melihat dari jendela, sebuah mobil MVP hitam dari brand ternama itu sudah berhenti tepat di depan pagar rumahnya.


Ia mengulas senyum hingga menampakkan deretan giginya yang putih ketika melihat ibunya sangat antusias menyambut sang tamu, Andin. Walau wanita itu menolak lamarannya, tak membuat Hesti dan Ahmad membencinya. Justru mereka sangat menghormati keputusan Andin.


Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Semua orang berhak memilih pada siapa hatinya akan berlabuh, tak terkecuali dia.


Begitulah kalimat yang di lontarkan Ahmad beberapa waktu lalu saat Reza memberitahukan bahwa ia gagal menjadikan Andin istrinya.


“Kak! Kak!” Teriakan Rania disertai suara pintu yang dibuka, memaksa Reza untuk melepaskan lamunannya.


“Kak, itu loh kak Andin sudah datang," ujar Rania sesaat setelah ia masuk ke dalam kamar kakaknya.

__ADS_1


“Iya sebentar." Reza kembali memantulkan dirinya di depan kaca, memastikan penampilannya kini tak ada yang terlupa. "Ayo!" ajaknya kemudian.


“Aneh!" cetus Rania, membuat langkah Reza terhenti di dua anak tangga terakhir. Ia menatap Rania.


“Aneh apa?" Reza menatap dirinya. "Baju Kakak jelek ya?"


“Bukan, Kakakku selalu keren dan tampan paripurna. Aku hanya heran. Biasanya, ‘kan cowok yang jemput cewek. Kok, ini malah sebaliknya?”


Reza tersenyum. “Ancol, kan melewati rumah kita. Kalau Kakak jemput dia, putar baliknya jauh. Apa salahnya ambil yang praktis."


"Ah iya. Aku lupa. Kakak mau jadi model dadakan, ya?" Rania tergelak dengan kalimatnya sendiri. Reza hanya mendengkus kesal kemudian melanjutkan lagi langkahnya.


Sesampainya di teras. Reza dan Andin pamit pada seluruh menghuni rumah tersebut sebelum kemudian mereka mengangsurkan tubuh, masuk ke kursi penumpang bagian tengah.


"Apa kita akan seharian di sana?" tanya Andin saat mobil yang di kendarai oleh Tody—sopir kantor— itu sudah melaju dengan kecepatan standart.


"Entahlah. Ini pertama kalinya aku menjadi model." Sembari tersenyum, pikiran Reza berkeliaran membayangkan pose-pose seperti apa yang akan dilakukannya bersama Andin.


"Apa yang kamu bayangkan?" sarkas Andin.


"Ti-tidak ada."


"Awas saja kamu berpikir yang macam-macam," ancam Andin menegaskan kalimatnya.


"Apa!"


Tanpa merespon ucapan Andin, Reza langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela membuat Tody terkikik geli melihatnya melalui kaca spion yang tergantung di tengah. Pria yang usianya hampir menginjak empat puluh tahun itu tak sekali mendengar dan melihat kedua bosnya itu saling adu argumen. Benar-benar pasangan unik!


Hampir satu jam setengah menembus kemacetan ibukota, akhirnya mobil terhenti di pelataran parkir sebuah resort tak jauh dari garis pantai Ancol yang menawarkan segala keindahannya.


Andin dan Reza keluar dari mobil itu dan langsung disambut oleh Tika, ketua tim produksi dan beberapa crew dari Nemo's Studio yang telah lebih dulu sampai di lokasi.


"Bu Andin, Pak Reza sudah siap?" Tika memastikan kesiapan fisik dua bosnya tersebut. Karena ia tahu jarak perjalanan dari rumah ke Ancol cukup melelahkan.


"Ya, Lakukan saja sekarang agar semuanya selesai hari ini juga," sahut Andin sambil melangkah masuk ke dalam resort.


"Baik, bila seperti itu. Anda bisa berganti pakaian sekarang untuk menyesuaikan dengan tema kita." Tika kembali memandu keduanya menuju kamar diikuti oleh dua orang lelaki lemah gemulai yang akan menata penampilan mereka.


Karena temanya outdoor. Tak perlu waktu lama untuk merias wajah Andin begitupun Reza. Apalagi ditunjang dengan wajah mereka yang cantik dan tampan, menjadi nilai plus bagi penampilan keduanya. Reza memakai kemeja putih lengan pendek dengan kancing terbuka di bagian dada dan celana pendek hingga selutut ditambah sandal slipper membungkus telapak kakinya. Sangat cocok untuk nuansa pantai.


Sementara Andin, ia memakai dress polos putih tanpa lengan dengan rok juga selutut. Kakinya juga terbalut sandal model slipper.


Agustin, asisten MUA (Make Up Artist) itu mendekat pada bosnya untuk membantu merapikan pakaian dan peralatan make up. "Nemu di mana sih, model ginian?" bisiknya. "Pas bener."

__ADS_1


"Iya. Nggak kebayang anak mereka secakep apa ntar? Emak bapaknya aja begitu," sahut Susan. Ia merinding membayangkannya.


Reza tersenyum mendengarnya. Ia melirik wanita yang dimaksud kedua pria letoy tersebut, sedang berdiri di balkon menikmati hembusan angin yang menerjang tubuhnya.


"Sudah selesai, San?" Tiba-tiba Tika kembali muncul di sana membuat Andin melangkah meninggalkan balkon dan menghampirinya.


"Sudah, Bu," sahut Agustin dan Susan kompak.


"Mari Bu, Pak. Kita ke lokasi."


Sebuah jembatan bermaterial kayu yang membentang dari bibir pantai dan berkelok itu, kini menjadi lokasi pemotretan tersebut. Suara debur ombak begitu menarik di indra pendengaran.


Beberapa crew sudah mensterilkan area ketika asisten photografer mulai mengatur pose untuk Andin dan Reza.


"Jalan dari sana dan saling memandang ya Pak, Bu. Dibuat senatural mungkin agar terlihat candid," ucapnya kemudian berlari menjauh dari Andin dan Reza.


Walau kaku, mereka mencoba untuk mengikuti berbagai arahan yang diajarkan oleh photografer maupun asistennya hingga berganti-ganti pose dan lokasi.


Photografer dibuat takjub dengan chemistry mereka. Pasalnya, pasangan ini berbeda dengan pasangan-pasangan sebelumnya yang kaku dan sulit menyesuaikan diri. Jadi, untuk proses pengambilan gambar bisa memakan waktu berhari-hari agar bisa mendapatkan hasil yang bagus.


Tak terasa matahari mulai perlahan meninggalkan singgasananya. Sang photografer mengamati langit kemudian beralih pada sekitarnya.


"Viewnya bagus. Sunset. Sekali lagi ya," pintanya seraya mengangkat satu jarinya.


"Betul ya, sekali? Saya sudah lelah," keluh Andin.


"Iya saya juga lelah," imbuh Reza sambil mengayunkan tangannya mengusir kekakuan ototnya.


"Beres Pak, Bu." Ia menoleh pada asistennya. "Fay, arahkan Pak Reza dan Bu Andin. Pose seromantis mungkin."


"Oke Bos."


Fay kembali menghampiri Reza dan Andin. Ia meletakkan satu tangan Reza ke belakang pinggang Andin membuat tubuh wanita itu reflek menempel pada dada Reza. "Maaf Pak, Bu. Wajahnya agak di dekatkan seperti orang mau ciuman, ya."


Andin mendesah pasrah namun tetap mengikuti arahan tersebut. Ia menarik pandangannya menatap ke dalam manik teduh milik Reza. Dan seketika ...


DEG!


Jantung Andin berdetak begitu cepat ketika dua netra berbeda warna itu saling mengunci satu sama lain dengan posisi tak berjarak. Wanita itu juga dapat merasakan hembusan napas Reza yang begitu hangat, menerpa wajahnya.


"Perfect!"


Sebuah kata yang mampu menguraikan pandangan mereka. Reza melepaskan tangannya dan berlari kecil menghampri photografer untuk melihat hasil bidikannya. Sementara Andin masih mematung di tempatnya sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa aku berdebar seperti ini?


__ADS_2