Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Menyusulmu Untuk Bahagia


__ADS_3

Pagi itu, cahaya mentari bersinar cukup cerah. Berpadu indah dengan gumpalan mega yang menggantung di langit Desa Sukaraya. Embusan angin yang menyapu ke sana kemari, terasa sejuk kala menyentuh permukaan kulit pria yang tengah duduk di atas sadel sepeda mini. Iris hitam miliknya tak sedikitpun lepas memandangi hamparan bunga-bunga yang ada di depannya itu.


Sejenak, ia memejamkan mata. Meresapi harum bunga yang menyeruak masuk ke indera penciumannya sembari tersenyum puas karena kini, ia telah mampu membuktikan diri sebagai pria sukses dan mandiri dengan menekuni bisnis budidaya bunga dan buah yang menjadi komoditi ekspor ke berbagai mancanegara.


Ya, sesaat setelah kepindahannya ke kampung halaman. Pria itu memutuskan untuk mengelola lahan perkebunan milik keluarganya. Tak mudah memang untuk terjun di bisnis ini. Mengingat pengalaman dalam ilmu bercocok taman terbilang sangat minim. Hingga kegagalan demi kegagalan, pernah ia alami di tahun pertamanya mengembangkan bisnis ini. Namun, berbekal tekad dan ilmu dari beberapa kelompok tani yang ia ikuti dan juga pengalamannya bekerja di perusahaan besar membuatnya layak disejajarkan dengan para pengusaha sukses lainnya.


Getaran ponsel yang berada dalam saku celana, menjadi pemutus lamunannya itu.


"Cha, kamu dimana, Nak?" Terdengar suara di seberang sana ketika ia baru saja menempelkan benda itu di daun telinga.


"Ehm ... Di kebun. Ada apa, Bu?"


"Loh, kok ada apa. Hari ini, 'kan hari penting kamu. Kenapa kamu malah kelayapan?" omel wanita paruh baya yang tak lain adalah Hesti—ibu Reza. "Ayo pulang, kamu harus segera bersiap-siap," titahnya kemudian.


Reza tersenyum masam. "Iya iya, Bu. Echa pulang sekarang."


"Jangan iya iya aja. Buruan. Yang lain udah pada nungguin, nih."


"Iya ibu sayang, iya. Habis ini pulang." Ada sedikit nada kesal tersemat di dalam sahutannya. Sepertinya sang ibu tak sabar menantikan dirinya. Padahal jarak rumah dan dari tempatnya berpijak saat ini hanya beberapa ratus meter saja.


"Ya sudah ibu tutup teleponnya."


Helaan napas pasrah serta putus asa, menguar di udara saat sambungan itu terputus. Reza tahu betul apa yang membuat ibunya begitu tergesa mencari keberadaannya. Semua itu dikarenakan hari ini adalah hari dimana ia akan melangsungkan pertunangannya dengan Farah.


Bila harus jujur. Sebenarnya Reza belum sepenuhnya bisa menerima keputusan orang tuanya yang mendesaknya untuk segera menikah. Namun keadaan begitu memaksa. Selain karena usia yang sudah tergolong cukup bahkan terkesan sangat terlambat untuk membina rumah tangga, yaitu tiga puluh tiga tahun. Ia juga menarik mundur waktu berdasarkan pengalamannya berurusan dengan makhluk bernama wanita, selalu saja gagal. Dan hal itulah yang membuatnya mau tak mau memasrahkan jodohnya di tangan orang tuanya.


Dengan gerakan gontai, Reza mulai mengayuh sepedanya menuju rumah. Tak ada senyum atau bahkan euporia yang menemani perjalanannya tersebut. Padahal hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuknya. Bahagia? Entahlah pria itu masih ragu menafsirkan perasaannya sendiri. Karena sampai detik ini belum ada yang mampu menggetarkan hatinya kembali setelah ia meninggalkan pemiliknya tiga tahun yang lalu demi penyembuhan luka. Namun Reza sudah berjanji pada dirinya sendiri, siapapun yang menjadi istrinya kelak. Ia akan belajar membuka hati dan mencoba mencintainya sepenuh hati.


Jejeran dari berbagai jenis kendaraan sudah terparkir rapi di halaman rumah ketika Reza baru saja menghentikan sepedanya. Beberapa sepupu yang melihat, tergopoh-gopoh mendekatinya sembari menggoda.


“Ciee … calon pengantin kita dari mana aja, sih? Ditungguin lo, ‘A dari tadi juga. Grogi ya?” ucap salah satu adik sepupu Reza bernama Atika.


“Jelaslah grogi. Kan bentar lagi ganti status di KTP,” timpal Roman yang ikut memanaskan situasi.


“Dih … apaan, sih? Orang lagi cari angin segar, kok,” sahut Reza sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


“Cha!” Hesti mendekat. Wajahnya terlihat semringah. “Ayo buruan mandi. Bajunya udah ibu siapin di kamar kamu.”

__ADS_1


“Tapi Echa sudah mandi, Bu.”


“Kamu, ‘kan habis dari kebun. Terus ngayuh sepeda juga, apa nggak berkeringat badanmu?”


Reza terdiam.


“Malah bengong. Sudah sana, mandi lagi.” Hesti mendorong putranya itu agar beranjak dari sana.


Reza pergi ke kamar mengambil handuk dan pakaian dalamnya kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya itu. Ia tak lantas memakai baju yang telah disiapkan ibunya tersebut melainkan duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka laci meja belajarnya dan mengambil sesuatu di dalam sana. Sebuah kotak persegi berisi cincin bertahtakan berlian kini menjadi perhatiannya.


"Apa sekarang kamu sudah bahagia?" Layaknya orang tidak waras Reza berbicara sembari tersenyum pada cincin itu, seolah-olah ia sedang berbicara pada Andin.


"Bila kamu sudah bahagia. Aku akan melupakanmu. Karena aku ingin menyusulmu bahagia dengan pilihan orang tuaku."


Reza menutup rapat kotak itu dan mengembalikannya ke tempat semula saat suara ketukan terdengar menuntut dari balik pintu kamarnya.


"Kak! Sudah belum?" tanya Rania.


"Sebentar!" balas Reza seraya bergegas memakai pakaiannya.


"Buruan, kita-kita udah siap, nih!"


***


"Wih ... ganteng pisan euy," puji Hamid—paman Reza saat melihat keponakannya yang menggunakan baju batik dengan celana bahan berwarna gelap itu datang dan bergabung di ruang tengah bersama yang lain. "Beda banget."


"Iyalah ganteng. Kalau cantik, nanti malah bingung kamu, Kang?" sergah Ahmad yang sukses membuat Hamid mengerucutkan bibirnya. Pria paruh baya—kakak Ahmad—menarik pandangannya pada Reza.


"Kamu itu sebenarnya seneng nggak, sih mau jadi manten? Dari kapan hari, mukanya datar aja. Kaya triplek!"


Reza menipiskan bibirnya sedikit, nyaris tak terlihat sebagai respon dari pertanyaan pamannya tersebut. Ia menyadari memang, semenjak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya itu, rasanya ia sudah lupa bagaimana caranya tersenyum. Apalagi Reza bukan tipe pria yang suka dengan kepura-puraan yang harus berpura-pura bahagia di depan semua orang.


"Cha ... nikah tu, enak lo. Kamu belum aja ngerasainnya. Tapi Paman yakin, kamu bakal menyesal kalau menikah."


Reza menautkan dua alis tebalnya. Bingung dengan ucapan sang paman. "Menyesal?"


"Jangan ditakut-takutin gitu, Kang. Bisa-bisa ni bocah nggak jadi nikah," ujar Ahmad tak terima dengan kalimat Hamid yang saat ini tengah tergelak.

__ADS_1


"Ya, menyesal. Kenapa nikahnya nggak dari dulu aja kalau tau enak begini." Hamid semakin tertawa keras membuat Reza mendecakkan lidahnya.


Ahmad menggelengkan kepalanya. "Ada ada aja kamu, Kang."


"Biar nggak tegang, Mad. Lihat muka—."


"Ayo ayo buruan kita berangkat." Tiba-tiba Hesti datang diiringi beberapa kerabatnya yang telah siap membawa seserahan di tangan masing-masing. "Hari sudah semakin siang. Tidak enak kalau membuat tuan rumah terlalu lama menunggu."


Semuanya pun bergegas masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan tubuh mereka ke kediaman Farah. Dekorasi bertema vintage dengan backdrop nuansa putih dimana ada inisial R & F di sana, menyambut kehadiran Reza beserta rombongannya tersebut.


"Teteh ...." Halimah menghambur ke pelukan Hesti. Wanita paruh baya itu terlihat sangat antusias. "Aku nggak nyangka hari ini akan tiba."


"Iya, aku juga. Semoga tidak ada halangan untuk mereka menuju pernikahan, ya."


"Aamiin."


Reza sudah duduk bersila di salah satu alas yang disediakan khusus untuknya. Kepala pria itu sedikit menunduk membuat Hesti yang duduk di samping putranya itu terlihat bingung.


"Cha ... Kamu baik-baik saja, 'kan?" Sebuah tepukan halus mendarat di pundak, menyadarkan Reza dari keterdiamannya. Ia mendongak dan menolehkannya pada ibunya.


"Iya bu, Echa baik-baik aja. Aman."


Tak lama, seorang wanita cantik yang memakai kebaya modern dengan rambut tersanggul rapi muncul dari balik ruangan itu. Dua orang wanita paruh baya mendampinginya di sisi kanan dan kirinya.


Reza hanya menatap datar wanita itu. Tak ada senyum di wajahnya yang mengiringi langkah wanita itu sampai duduk di sisi kirinya. Berbanding terbalik dengan Farah yang sejak tadi sama sekali tak menyurutkan senyumnya.


Beberapa kata sambutan dari kedua belah pihak mulai terdengar. Begitu juga dengan doa yang terpanjat demi kelancaran rencana pernikahan mereka yang akan dilangsungkan dua bulan ke depan.


Mulanya, baik orang tua Reza maupun orang tua Farah menginginkan mereka menikah secepat mungkin. Kalau perlu seminggu setelah acara pertunangan tersebut. Namun Reza menolak dengan alasan bahwa pekerjaannya saat ini memang sedang padat-padatnya dan tidak bisa ditinggalkan. Begitu juga Farah yang notabene adalah asisten Reza di kantor, pun sangat setuju dengan usulan calon suaminya tersebut.


"Silakan pakaikan cincinnya, Nak Reza." Salah satu kerabat Halimah menyodorkan kotak berbentuk hati berisi sepasang cincin di sana.


Reza mengangguk. Ia meraih cincin berukuran kecil lalu menyematkan secara perlahan di jari manis Farah. Alis yang tegas kini terlihat nyaris menyatu kala ia merasakan tangan mungil itu bergetar. Sejenak, ia menarik pandangannya menatap si pemilik tangan yang menyembunyikan rona merah di pipinya. Entah kenapa saat ini keduanya dilanda kecanggungan. Berbeda sekali dengan keseharian mereka yang tampak begitu akrab apalagi saat sedang bekerja.


"Nah, sekarang gantian Nak Farah yang menyematkan cincin satunya lagi ke jari Nak Reza."


Farah pun mengangguk kemudian melakukan hal yang sama. Bersamaan dengan ia menyematkan cincin itu ke jari Reza, tampak seorang wanita nun jauh di sana tengah duduk menyandar di kursi kerjanya sambil memegangi dada.

__ADS_1


"Ada apa dengan diriku? Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan?"


__ADS_2