
Kesibukan terjadi di ruang IGD. Beberapa dokter dan tenaga medis dengan sigap memberikan pertolongan pada pria yang baru saja mengalami luka tembak cukup serius di area pinggang kirinya.
Beberapa kabel dan selang sudah menempel erat ditubuhnya. Tampak jelas dari layar EKG, tekanan darah, detak jantung maupun kadar oksigennya perlahan mulai menurun.
Sedangkan Ditmar, pria itu tewas di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Kini, tubuhnya sudah berada di kamar jenazah menunggu keluarganya datang menjemput untuk di kebumikan secara layak.
Sementara di luar, Adrian sibuk menenangkan Andin yang masih menangis tersedu-sedu sembari menyalahkan diri.
“Jika terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku, Bang!”
“Shhh ... sudah, tenanglah. Berhenti menyalahkan diri. Ini semua di luar kendali kita,” balas Adrian.
“Tapi karena aku, dia mengalami hal buruk seperti ini,” kata Andin lagi, disela-sela isakannya.
“Reza pria yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa padanya.”
Adrian menarik Andin ke dalam pelukannya kemudian kembali memberi beberapa kalimat menenangkan. Ia sendiri berusaha tegar padahal hatinya pun ketar ketir memikirkan keadaan Reza di dalam sana. Tapi jika bukan dia, siapa yang akan menenangkannya adiknya?
“Diminum dulu, Ndin. Biar kamu tenang. ” Entah dari mana asalnya, tiba-tiba Rendy muncul dengan membawa dua botol air mineral dan menyodorkan salah satunya pada Andin.
Adrian melepaskan pelukannya. Ia meraih botol air mineral itu dan membuka segelnya kemudian memberikannya pada Andin.
“Apa kamu sudah menghubungi keluarga Reza?” tanya Adrian pada Rendy.
Rendy mengangguk. “Sudah,” ucapnya seraya duduk di samping Adrian. “Mungkin mereka sedang dalam perjalanan kemari.”
Tak lama, suara decitan pintu kaca yang dibuka mengalihkan perhatian Andin dan Adrian. Andin segera menghapus air matanya. Dengan segera ia bangkit dan mendekat ke arah pria bersnelli putih yang keluar dari ruang IGD disusul Rendy dan Adrian di samping kiri dan kanannya.
“Siapa—.”
“Bagaimana keadaan teman saya, Dokter?” pangkas Andin cepat. Ia menatap ke belakang punggung dokter tersebut untuk melihat Reza dari sini.
Dokter terdiam dengan raut wajah cemas membuat Adrian mengernyit heran.
“Ada apa dokter? Katakan apa yang terjadi padanya?” tanya Adrian.
“Siapa keluarga dari pasien Reza?” Dokter kembali mengucapkan pertanyaan yang sempat terpotong oleh Andin tadi.
“Kami Dokter!”
Empat orang yang berdiri di depan pintu IGD itu menoleh ke asal suara. Ada Ahmad dan istrinya yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
“Kami keluarganya.” Ulang Ahmad mengenalkan diri ketika sampai di depan sang dokter. “Ada apa dengan putra kami?” tanyanya kemudian.
“Pasien kritis. Dia kehilangan banyak darah dan ....” Dokter menghentikan sejenak kalimatnya untuk menarik nafas, “peluru tersebut bersarang dan mengenai ginjalnya. Dengan berat hati kami harus mengangkatnya. Tapi sebelum itu terjadi, kami perlu meminta persetujuan dari pihak keluarga.”
Bagai tersambar petir di siang bolong, seketika Andin dan Hesti merasa lemas di bagian lutut. Sesaat kemudian keduanya limbung namun dengan cepat di tahan oleh Adrian dan Ahmad agar tidak terbentur lantai.
“Pak, Echa ...,” lirih Hesti pelan. Ia tak menyangka putra kebanggaannya akan bernasib malang seperti itu. Tangisannya pecah seketika.
Sedangkan Andin, ia langsung tak sadarkan diri dan langsung di bawa masuk ke IGD untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
__ADS_1
Ahmad menatap dokter. “Lakukan Dokter. Lakukan yang terbaik bagi putra kami! Asalkan putra kami bisa selamat.”
“Baik, Pak. Kami akan segera mempersiapkan semua prosedurnya,” kata dokter.
***
Andin mengerjap berkali-kali mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam bola mata indahnya. Ia menelisik tiap inci ruangan yang di dominasi dengan warna putih itu sembari mengingat-ingat apa yang menjadi sebab ia terbaring di sini.
“Kamu sudah sadar, Nak?”
Pertanyaan dari seseorang yang ia kenali, mengharuskannya menoleh ke samping. Ada Mira yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ya, setelah ia mendapat kabar dari Adrian mengenai penculikan Andin dan insiden penembakan Reza, sontak ia terkejut. Sesaat kemudian ia dan suaminya menyusul ke rumah sakit untuk melihat keadaan putrinya.
“Ma-Mami?” Andin melirik ke belakang maminya, ada pria paruh baya tertidur dengan posisi menyandar di sofa, Rudi.
“Apa yang kamu rasakan, Nak? Mana yang sakit?” tanya Mira khawatir.
Andin menggeleng lemah. “Andin nggak apa, Mi.”
"Minum dulu, Sayang." Mira menyodorkan segelas air putih lengkap dengan sebuah sedotan di dalamnya untuk memudahkan Andin menyesapnya.
“Apa yang sudah penculik itu lakukan padamu, Nak? Apa dia sempat melecehkanmu?"
Mendengar kata ‘penculik’, Andin teringat seseorang. Ia langsung menjauhkan bibirnya dari sedotan dan duduk tanpa memedulikan lagi jarum infusnya yang mengeluarkan darah karena gerakan spontannya itu.
Seketika ia diselimuti perasaan bersalah, takut, khawatir, cemas, panik, sedih, bercampur jadi satu di dalam benaknya.
“Reza masih berada di kamar operasi, Sayang.”
Andin segera melepas infusnya dan turun dari tempat tidur.
“Kamu mau ke mana, Sayang? Kamu belum pulih benar!” Mira kelabakan melihat Andin keluar begitu saja dari ruangan itu.
Rudi yang terusik dengan teriakan istrinya pun langsung membuka matanya. “Ada apa, Mi?”
“Ayo, Pi. Susul anakmu yang keras kepala itu!” Mira menarik tangan suaminya. Dalam kondisi belum sadar sempurna, Rudi mengekor di belakang istrinya.
Kursi panjang berbahan stainlees di depan kamar operasi itu terisi penuh oleh, Adrian, Rendy, Ahmad dan Hesti. Terlihat jelas di wajah mereka menyiratkan kecemasan.
Andin berjalan mendekat ke arah pasangan suami istri yang duduk dengan kepala menunduk sembari melafazkan doa-doa untuk keselamatan putra mereka.
“Andin!” panggil Adrian. Ia berdiri hendak meraih tangan adiknya. Andin segera menepisnya. Tanpa kata, ia melengos begitu saja melewati Adrian.
Suara benturan antara ubin rumah sakit beradu dengan sepasang lutut seorang wanita yang tengah menangis itu seketika membuat orang-orang yang duduk di sana terkejut.
“Astagfirullah!” pekik Hesti dan Ahmad kompak.
“Andin!” Adrian, Rendy, serta orang tuanya tak kalah kompak memanggil namanya.
__ADS_1
Adrian berjongkok dan meraih pundak adiknya untuk membantunya berdiri. Namun lagi-lagi Andin menepisnya.
Mira dan Rudi segera menghampiri putrinya. Mereka bingung dengan apa yang dilakukan Andin.
“Tante, Om. Maafkan saya.” Andin mengatupkan dua tangannya di depan mulutnya. Air matanya mengalir tanpa diminta. Semakin terkejut orang tua Reza melihatnya.
Hesti ikut berlutut dan meraih kedua tangan Andin yang menyatu. “Bangunlah, Nak. Apa yang sedang kamu lakukan?”
Andin menahan tubuhnya. “Maafkan saya. Karena menyelamatkan saya, dia jadi begini. Seharusnya saya yang mengalami ini bukan dia. Seharusnya saya yang ada di sana bukan dia. Seharusnya saya yang celaka bukan dia. Se-se ....” Andin tak kuasa meneruskan kalimatnya. Dadanya terasa sesak.
Ahmad ikut berlutut. “Nak, sudah, Nak. Ayo bangun. Ini semua bukan salahmu. Sudah nasibnya Reza begini,” ucapnya menenangkan. Tapi tetap tak mampu menghentikan tangisannya.
“Nak ....” Hesti memeluk Andin. “Kita doakan saja, ya? Semoga Reza diberi kekuatan di dalam sana.”
Andin mengangguk. Hesti melerai pelukannya. Ia menarik tangan Andin dan menuntun sahabat putranya itu duduk di sebelahnya.
***
Panorama jingga dilangit kota Jakarta pagi ini cukup indah. Mentari masih malu-malu memancarkan sinarnya. Padahal hari sudah berganti dengan hari yang baru. Namun begitu, tim dokter belum juga menghentikan tugasnya di dalam kamar operasi tersebut. Seharusnya untuk pengangkatan sebuah proyektil peluru, biasanya dokter hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Tapi karena proyektil tersebut tepat mengenai organ vital Reza, dokter membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya.
Saat ini, kursi panjang itu telihat kosong di beberapa sisinya sesaat setelah di tinggal oleh penghuninya. Tepat sebelum adzan subuh berkumandang, Mira dan Rudi pulang atas paksaan Adrian dan orang tua Reza, mau tak mau mereka harus kembali ke rumah dengan diantar Rendy.
Adrian berdiri dan berjalan mendekat pada Andin yang duduk agak jauh darinya. “Andin ... Lebih baik kamu kembali ke kamarmu. Istirahat.”
“Nggak, Bang. Aku masih mau di sini,” ujar Andin. Ia bersikukuh untuk tetap menunggu.
Adrian hanya menghela nafas. “Ya sudah, Abang ke keluar sebentar.” Ia melirik ke arah Ahmad dan Hesti. “Saya permisi dulu, Om, Tante.”
“Ya, Nak. Silakan,” sahut keduanya.
Belum juga kaki Adrian melangkah, pintu kamar operasi terbuka. Menghadirkan sosok seorang pria berpakaian O.K berwarna hijau lengkap dengan masker di wajahnya. Semua yang melihat segera mendekat ke arahnya.
“Dokter, bagaimana operasinya? Apakah berhasil? Bagaimana keadaan putra kami?” cecar Ahmad tak sabarnya.
“Dokter, Apakah dia baik-baik saja? Apa saya bisa melihatnya?” tambah Andin.
Dokter bernama Herman itu membuka maskernya. Raut wajah bersalah tampak jelas di sana. "Maaf saya harus memberitahukan ini. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkendak lain."
"Apa maksud, Dokter? Katakan dengan jelas! Jangan bertele-tele!"
"Andin!" tegur Adrian.
Dokter Herman menatap satu persatu wajah orang-orang yang berdiri di depannya.
"Pasien tidak bisa diselamatkan." Dokter melirihkan kalimat terakhirnya namun semua bisa jelas mendengarnya. Kemudian, ia menunduk dengan segudang penyesalan, merasa gagal dengan tugasnya.
Seketika langit berubah gelap diluar sana menandakan hujan akan kembali turun bersamaan dengan datangnya berita duka ini. Untuk sekian kalinya, dua wanita berbeda generasi itu tumbang.
__ADS_1