Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Dejavu


__ADS_3

Tremor mulai menyerang tangan Andin. Meski matanya berembun, ia masih berusaha tetap fokus menatap benda di hadapannya. Ada dua garis merah, tergambar dengan jelas.


"Po-positif! Ap-apa i-tu artinya aku hamil?" Lidah Andin mendadak kelu. Seakan ada sesuatu yang berat menimpa disana. Masih belum yakin, ia alihkan perhatian pada lima benda lainnya yang tergeletak di tepian wastafel. Hasilnya tetap sama. Positif!


Dalam sekejap tanggul air matanya pecah. Sementara satu tangannya yang bebas, reflek terangkat menutup mulutnya yang terbuka. Rasanya seperti mimpi bahwa kini di dalam perutnya sedang tumbuh sosok bernyawa. Makhluk kecil yang ia idam-idamkan selama ini. Buah cintanya bersama Reza.


Andin mengusap air mata harunya dan lekas keluar dari kamar mandi. Diraihnya ponsel yang tergelak di atas pembaringan. Ia berniat akan memberitahukan kabar ini pada Rissa terlebih dahulu. Namun sebelum ia menekan nomor kakak iparnya tersebut, sebuah panggilan masuk dari Reza, mengurungkan niat itu.


Sejenak, Andin mengatur napas dan berdehem. Agar Reza tidak terlalu curiga kalau ia baru saja menangis.


“Sayang! Bagaimana kabarmu hari ini? Apa tidurmu nyenyak? Apa makan mu teratur? Kapan pulang?"


Pertanyaan beruntun langsung terlempar pada Andin kala panggilan itu terhubung. Wanita itu tersenyum. Sejak hari pertama ia berada di rumah ini. Tak bosan Reza menanyakan hal yang sama yang sebenarnya ia juga sudah tahu jawabannya.


“Baru tiga hari. Kan, aku bilang satu minggu.”


Terdengar desahan napas Reza. Membuat Andin terkikik geli.


“Ya ampun, Yank. Apa kamu nggak rindu padaku? Aku udah nggak kuat lama-lama bobok sendiri, tiap malam selalu kedinginan.”


“Sabar, dong, Yanda!”


Suasana sesaat hening. Dapat Andin tebak, pria di ujung sana sedang terkejut mendengar ia memanggil dengan sebutan ‘Yanda’.


Ekor matanya melirik benda pipih yang sempat ia bawa dari kamar mandi. Disaat itu pula bibirnya mendadak gatal. Ingin rasanya Andin memberitahukan kabar tentang kehamilannya. Namun sekuat tenaga ia tahan sampai dokter benar-benar mengujinya secara klinis.


“Kamu panggil aku apa tadi?”


“Yanda! Salah emang? Apa hanya Gavin saja yang boleh memanggilmu itu, sementara aku enggak?”


Reza terkekeh. “Jadi mau ganti panggilan nih, ceritanya?” godanya. “Aku nggak masalah, Bunda.”


Kompak, mereka pun terkikik geli.


“Ya sudah, Bund. Aku harus siap-siap ke kantor.”


“Maaf ya, aku nggak disana dan menyiapkan segala keperluan kerjamu.”


“Nggak apalah. Aku bisa maklum, kok,” sahut Reza. “Kamu disana jangan capek-capek. Makan teratur, minum vitamin. Kurang-kurangin minum es, perbanyak minum air putih.”


“Iya Yanda. Aku nurut.”


“Ya sudah aku tutup dulu. I love you, Bunda.”


“Love you too, Yanda.”


Sambungan pun terputus. Membuatnya segera melakukan niat awal. Setelah panggilan tersambung pada Rissa, ia lekas menceritakan semua hasil dari test pack-nya. Wanita itu ikut senang sekaligus bahagia mendengarnya. Bertepatan dengan itu, Andin berpesan untuk tidak memberitahukan berita ini pada siapapun sebelum dokter menyatakan kebenarannya. Rissa pun setuju.


***


Hampir pukul sepuluh, Andin dan Rissa tiba di rumah sakit. Beruntung sebelum pergi, mereka telah melakukan pendaftaran secara online hingga tak terlalu lama menunggu antrian.


Duduk di kursi panjang barisan tengah, wajah Andin terlihat tegang. Kaki jenjang yang terbungkus flatshoes itu berulang kali mengetuk lantai demi membunuh gugup yang melandanya saat ini. Wajar ia seperti itu, ia takut sesuatu terjadi pada anaknya karena beberapa hari yang lalu ia sempat mengkonsumsi makanan tak sehat dan obat-obatan kimia ketika sakit.


"Jangan takut." Rissa berkata, mencoba meredam ketegangan Andin. Dengan teramat sengaja ia genggam tangan yang tampak lembab tersebut. Wanita itu tahu, apa yang sedang dikhawatirkan adik iparnya tersebut. Andin sudah menceritakan semuanya. "Semuanya pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


Andin hanya mengangguk. Sekilas matanya memperhatikan beberapa wanita hamil lainnya yang tampak antusias bersama pasangannya masing-masing .


"Kamu nggak mau hubungi Reza?" tanya Rissa yang berusaha menebak perasaan Andin ketika datang kemari tanpa seorang suami yang mendampingi.


"Nanti saja, Kak. Aku ingin memberinya kabar setelah ini."


"Ibu Andinia!"


Panggilan dari wanita yang berdiri di bibir pintu ruangan dokter, mengalihkan perhatian mereka. Dengan segera mereka beranjak dan masuk.


"Loh, Ibu Rissa?" Dokter wanita yang merupakan dokter langganan Rissa pada saat hamil dan melahirkan, itu terkejut. "Mari silakan duduk."


"Terima kasih dokter Ririn." Rissa tersenyum kemudian menarik tangan Andin. Untuk ikut duduk di sampingnya.


"Bagaimana? Apa ada kabar baik lagi? Atau datang kemari ingin program anak ketiga?"


Rissa tergelak. Rasanya belum terpikirkan untuk memiliki anak kembali. "Kali ini bukan saya, Dokter," jawabnya dan lekas melirik Andin. "Yang ingin diperiksa dia, adik saya."


Pandangan mata dokter Ririn beralih pada wanita yang mengangguk membenarkan. Sedikit berbincang mengenai keluhan dan menunjukkan beberapa test pack pada dokter tersebut. Akhirnya Andin dibimbing seorang asisten dokter untuk berbaring di atas ranjang pemeriksaan. Pandangannya lurus menatap ke layar yang ada di depannya.


Kegugupannya bertambah ketika cairan kental berwarna bening itu berlabuh di permukaan kulit perutnya diikuti dengan probe yang berputar-putar mencari sesuatu disana.


"Wah ... ada dua kantung," ucap dokter antusias. "Selamat ya Bu Andinia."


Pemilik nama itu terpaku. Bingung menatap layar yang hanya menampilkan keadaan rahimnya. Gambar tersebut dominan hitam dan memang ada dua lingkaran disana. Tetapi ia sulit untuk memahami. Sampai sentuhan Rissa di pundak, membuyarkan keterpanaannya.


"Andin! Kamu beneran hamil. Kamu hamil anak kembar!"


"Apa? Kembar?" Ia menatap bergantian antara layar, Rissa dan juga dokter yang ada di sampingnya.


Usai mendapat beberapa wejangan dari dokter dan menebus resep di apotek, Andin dan Rissa kembali pulang.


Di halaman parkir, dengan sengaja Andin menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Rissa. "Kak! Lebih baik Kakak langsung ke kantor saja. Aku nggak apa kalau pulang naik taksi."


"Kok gitu? Jangan, Kakak akan tetap mengantarmu. Ingat! Kamu itu sedang hamil, bahaya kalau pulang sendiri."


"Ah elah, gini doang, Kak. Insha Allah aman. Percaya, deh!" Sikap keras kepala Andin kembali mencuat. Bila sudah begini, berbagai negosiasi tak akan mampu menggoyahkan kemauannya. "Sudahlah Kak. Tenang saja. Aku bisa jaga diri."


"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan. Jaga keponakan Kakak dengan benar," titah Rissa mengusap perut rata Andin.


"Beres!"


***


Sepanjang perjalanan menuju rumah. Mata Andin tak lepas menatap poto hasil USG yang ada di tangannya. Senyum ceria terpancar jelas menandakan bahwa ia sedang dalam fase bahagia luar biasa. Tak sabar rasanya untuk segera memberitahukan kabar ini pada sang suami.


Ia mengeluarkan ponsel. Saat hendak menelepon Reza, perhatiannya teralih pada pop up di layar yang menampilkan catatan pengingat. Matanya terbelalak.


Astaga! Hari ini dia ulang tahun! Kenapa aku bisa melupakannya?


Andin menggigit bibir sembari berpikir. Sesaat kemudian, niat hati ingin menelepon pun batal. Sebab ia memutuskan untuk pulang pada hari itu juga dan secara langsung memberikan kabar kehamilannya sebagai kado untuk Reza.


Ditatapnya sekali lagi hasil poto USG sambil mengelus perutnya. Tak ada yang bisa Andin ungkapkan untuk melukiskan bagaimana perasaannya kini.


"Sehat-sehat yang anak-anak Yanda Bunda. We love you."

__ADS_1


Tak lama, mobil yang membawa Andin berhenti di halaman rumah Rudi. Setelah memberikan beberapa lembar uang pada sang sopir, ia turun dan gegas masuk ke dalam dan pergi ke kamarnya sembari tersenyum lebar.


“Ada apa, nih? Senyum-senyum sendiri.” Mira yang kala itu baru saja keluar dari kamar yang keberadaannya tepat di seberang kamar Andin, terlihat heran mendapati putrinya itu mesam mesem seperti orang tidak waras.


Andin tak lekas memberikan jawaban. Ia mendekat dan langsung menghambur ke pelukan Mira. Membuat wanita tua yang masih cantik meski usianya sudah banyak itu terlihat semakin kebingungan.


"Hei! Ada apa, sayang? Kok kamu kelihatannya seneng banget!”


“Iya, Andin memang lagi seneng banget, Mami!” Andin mengangguk antusias. Detik berikutnya, ia melepas pelukan dan menarik tangan Mira untuk ikut ke dalam kamarnya.


“Ada apa, cerita sama Mami. Apa yang membuat putri Mami yang cantik ini terlihat begitu senang?” Mira melempar pertanyaan setelah duduk di tepian ranjang. Dengan segera Andin merogoh tas, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana dan menyerahkannya pada Mira.


“Sebentar lagi, Mami akan nambah cucu.”


“Apa! Kamu hamil?” Senyum Mira mengembang. Bahkan lebih lebar ketika Andin mengangguk memberikan jawaban. Secara seksama, ia memperhatikan hasil USG yang ada ditangannya. “Mami lihat disini ada dua kantung. Kamu hamil anak kembar, Nak?”


Andin menganggukkan kepalanya lagi. Kemudian beranjak membuka lemari, mengambil koper dan beberapa pakaian untuk dibawa pulang. Melihat pemandangan seperti itu, senyum Mira perlahan surut.


"Loh, kamu ini mau kemana?" Mira berdiri, melangkah mendekat pada Andin yang mulai sibuk menata pakaiannya ke dalam koper.


“Andin mau pulang ke Bandung, Mi.”


"Memangnya Reza sedang dimana? Apa dia sudah dalam perjalanan kemari?"


"Enggak, Mi. Andin akan pulang sendiri."


Netra tua yang kini mulai kabur terkikis usia itu melebar. “Enggak! Mami nggak setuju. Mami nggak ijinkan kamu pulang sendirian dalam keadaan hamil seperti ini.” Ucapan Mira terdengar tegas. "Kecuali kamu telepon suamimu dan minta dia datang kemari untuk menjemputmu."


Andin menghentikan gerakan tangannya sembari menghela napas panjang. Dengan memupuk kesabaran, ia jelaskan alasan kenapa ia ingin pulang sesegera mungkin. Pada akhirnya, Mira setuju dengan syarat, Andin boleh pulang namun harus diantar oleh sopir keluarganya.


***


Andin menatap sebuah bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya. Gedung berlantai lima dengan desain unik adalah tempat Reza bekerja selama ini.


Bersama beberapa orang berpakaian santai yang diketahui Andin adalah karyawan suaminya, ia memasuki gedung.


Ada fakta yang menarik disana. Bila biasanya atasan atau karyawan selalu berpenampilan rapi menggunakan dasi dan jas. Berbeda dengan aturan yang dibuat Reza. Seluruh pekerja bebas memakai pakaian apa saja selama itu pantas. Dengan konsep seperti itu, Reza ingin menciptakan kenyamanan sosial di antara sesama karyawan tanpa memandang jabatan apapun.


"Silakan, Bu Andin." Salah satunya mempersilakan Andin untuk menggunakan lift yang sudah terbuka di depannya itu.


"Kalian nggak ikut masuk."


"Ka-kami akan menggunakan lift yang ini saja, Bu." Pria bernama Akmal gugup menjawab seraya menunjuk pintu mesin pengangkut manusia yang ada disebelahnya. Mana berani mereka satu lift bersama istri bosnya tersebut. Meskipun Reza terlihat ramah, tetapi bila menyangkut istrinya ia tampak macam singa. Sangar. Maklumlah, namanya juga Buciners sejati.


Pernah sekali, ia tak sengaja satu lift bersama Andin. Wanita yang menurutnya low profile itu ternyata asyik diajak ngobrol. Banyak hal yang mereka bahas sembari menunggu lift tiba di lantai atas. Tanpa sadar, Reza yang kebetulan sedang menunggu istrinya di depan lift, tampak murka melihat keakraban Andin dan Akmal. Karena cemburu buta, Akmal langsung mendapat bogem mentah dari Reza yang mengira pria itu sedang menggoda istrinya.


"Ya sudah." Tak mau ambil pusing, Andin lekas menarik diri dan menekan angka lima yang berada di sisi kanannya. Pintu pun tertutup dan naik ke lantai atas.


Koridor lantai lima itu tampak sepi ketika Andin berjalan menuju pintu bertuliskan 'Pimpinan'. Sesekali pandangannya teralih pada paper bag berisi beberapa potong klappertaart—kue khas Manado— kesukaan Reza.


"Tumben pintunya nggak tertutup rapat. Apa ada tamu?" Andin berusaha menjangkau pandangannya melalui celah pintu yang terbuka. Namun nihil, ia tak melihat apa-apa di sana. Sampai jiwa kepo dan kurang sopan muncul membuatnya mendorong pelan pintu tersebut.


DEG


Jantung Andin berhenti berdetak diikuti oleh mata yang membola sempurna melihat adegan di depannya. Dua manusia yang dulu pernah terikat tali pertunangan itu tampak seperti sedang berciuman. Terlihat dari tangan Reza yang berada di tengkuk leher Farah menjadikan kedua wajah mereka saling dekat dengan jarak beberapa senti.

__ADS_1


Maksud hati ingin memberikan kejutan, malah ia sendiri yang mendapat kejutan tersebut. Rasanya seperti Dejavu.


__ADS_2