Belenggu Takdir

Belenggu Takdir
Menutupi Sesuatu


__ADS_3

“Sayaaaaaaaangggggggg!" Teriakan Reza menggema hingga menyentuh telinga wanita yang tengah sibuk menata menu sarapan di atas meja makan.


“Apasih!” keluh Andin lirih sembari menatap kesal pada pintu kamarnya.


“Ibu naik saja. Biar ini saya yang selesaikan.” Tiba-tiba Jumi datang dari arah dapur dengan membawa piring dan gelas kosong.


Andin mengangguk. Ia segera melangkah ke lantai dua dan pergi ke kamarnya. Disana, ia mendapati suaminya sedang sibuk mencari sesuatu di dalam ruangan khusus pakaian.


“Kenapa pagi-pagi sudah teriak, sih? Ayam tetangga bisa jantungan dengar suaramu itu, Bee!"


“Dih! Segitunya.”


“Terus kenapa teriak-teriak?”


“Aku lagi cari jam tangan yang kamu kasih ke aku waktu anniversary kita, Yank. Kamu lihat nggak?”


“Cari itu pelan-pelan. Orang aku nggak pernah pindahin, kok.” Wanita itu menghampiri suaminya. Mencoba membantu mencari barang yang dimaksud. Setelah membuka tutup beberapa laci, akhirnya ia menemukannya. “Ini!”


“Eh iya. Pinter banget carinya.” Reza menerima barang tersebut kemudian melayangkan ciuman singkat di bibir wanita yang sedang mendengkus itu.


“Kalau itu ular. Mungkin sudah di patok, kali!”


Reza hanya terkekeh sembari memakai jam tangannya. Sementara Andin, memantulkan bayangan dirinya di stand mirror. Memastikan penampilannya sudah siap untuk berangkat bekerja.


Sudah dua tahun berlalu sejak hari yang paling bersejarah bagi keduanya. Kini, pasangan itu terlihat sangat rukun dan harmonis. Meski terkadang ada setitik celah kesedihan bergelayut di benak mereka. Sebab sampai saat ini, kehadiran seorang anak belum kunjung ada di tengah-tengah mereka.


“Kamu nanti siang ke kantor aku, ‘kan?” tanyanya tanpa berbalik.


“Sepertinya nggak deh, Sayang. Aku ada janji dengan klien.”


Andin menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyemprotkan wewangian di lehernya. “Farah ikut?”


“Ya mestilah. Dia, ‘kan asisten aku.”


Tidak ada respon dari Andin. Namun hal itu justru menarik perhatian Reza. Dengan cepat ia memeluk tubuh istrinya dari belakang.


“Kamu cemburu?"


“Siapa yang cemburu,” elak Andin. Dalam hati ia sedikit membenarkan tuduhan itu. Istri mana yang tidak cemburu melihat kedekatan suaminya bersama wanita lain. Terlebih, wanita itu pernah memiliki rasa terhadap suaminya. Namun ia berusaha meyakinkan diri bahwa suaminya pasti akan bersikap profesional.


Reza tidak serta merta percaya. Ia tersenyum tipis dan berbisik lirih. "Kamu lebih tahu bagaimana hatiku. Jangan ragukan aku, Sayang."


"Iya iya, enggak! Udah ih, jangan macam-macam." Andin menepis tangan Reza yang mulai gentayangan kesana kemari.


"Aku hanya ingin membuktikannya, Sayang. Kalau tubuh dan hatiku hanya milikmu seorang."


"Nggak usah nggak usah. Ini sudah jam berapa?"


Bukannya menjauh, Reza justru mempererat pelukannya dan meletakkan dagunya di pundak Andin. "Jujur, aku sangat menyesal menikah sekarang."


Andin terbelalak. Sekuat tenaga ia melepaskan pelukan itu dan membalik tubuhnya menghadap Reza. "Kenapa? Karena merasa nggak bebas ini itu sama cewek lain? Merasa aku ini cuma menjadi penghalang buat kamu?"


Kemurkaan Andin membuat Reza kelabakan. "Bu-bukan itu, Sayang. Maksud aku—."


"Halah, dasar buaya! Ternyata kamu sama saja dengan pria-pria brengsek yang pernah aku temui dulu." Andin berlalu pergi melewati Reza yang berusaha mengejarnya sebelum melewati pintu kamar.


"Sayang! Dengerin aku dulu!" Reza merentangankan tangannya membuat wanita itu menahan langkah.


“Apa yang mau kamu dijelaskan?”

__ADS_1


“Aku hanya—.”


“Hanya apa?”


“Makanya diam dulu. Dengerin aku.”


"Enggak! Kamu jahat, Bee. Jahat!" Ia pukuli dada suaminya seiring dengan cairan bening yang mulai memupuk di pelupuk matanya. "Aku kira kamu beda. Aku kira kamu tulus cinta sama aku. Tapi ternyata kamu—."


Telinga Reza semakin gatal. Ia memangkas kalimat Andin dengan sebuah ciuman. Tentu saja si pemilik bibir itu berontak. Ciuman itu begitu dalam dan menuntut. Namun Andin tidak mudah untuk digoyahkan. Menit berikutnya, Reza menjauhkan bibirnya.


"Sayang! Tolong dengarkan aku dan jangan menyela. Aku hanya mencintaimu. Aku hanya menyesal kenapa aku tidak menikah sejak dulu kalau ternyata menikah itu semenyenangkan ini."


Seketika wajah Andin memanas. Ternyata ia sudah salah paham. Malu, ia palingkan wajahnya kemana saja asal bukan suaminya. Sampai ia merasakan sentuhan di dagunya.


"Sayang tatap aku." Andin menurut. Ia tatap suaminya kembali. "Percaya padaku. Yang kumau hanya kamu dan kamu selamanya.”


Andin memeluk suaminya. "Jangan bercanda seperti itu lagi. Kamu tahu, 'kan aku benci penghianat."


"Iya, Sayang. Aku minta maaf," ujar Reza seraya membelai rambut panjang istrinya.


***


"Antar sampai sini saja, Bee," tolak Andin ketika Reza hendak mengikutinya masuk ke dalam gedung kantornya.


"Aku harus memastikan istriku selamat sampai ruangannya."


"Terlalu berlebihan!" Ia mengedarkan pandangannya dan terhenti pada sosok wanita berkacamata yang tergopoh-gopoh menghampirinya. "Gita!"


"Bu Andin, Pak Reza. Selamat pagi," sapa Gita ketika sudah sampai di depan keduanya.


"Pagi," sahut Andin dan Reza kompak.


"Lebih baik kamu segera pergi ke kantor, Bee."


"Bee! Apa-apaan, sih!" Wajah Andin kembali merona. Kenapa bisa suaminya sangat berlebihan seperti ini?


"Beres, Pak!" Gita memberi hormat layaknya prajurit pada komandannya.


“Aku hanya ingin istri cantikku baik-baik saja.”


Tak ingin terlalu larut dalam drama yang diciptakan suaminya. Ia lekas meraih tangan Reza dan menciumnya kemudian mendorong pria itu agar lekas beranjak dari sana. "Udah udah sana! Cari uang yang banyak karena jajanku juga banyak!"


"I love you." Sebuah kerlingan nakal melayang pada Andin. Malu-malu ia membalas meski tanpa sadar ada hati yang terkoyak-koyak melihat pemandangan itu di sampingnya.


“I love you too.”


Woy! Apa kalian tidak melihat ada seorang jones disini? Dasar tidak peka! Mama … Bapak … anakmu pengen nikah!


Ingin sekali Gita meneriakkan kalimat itu. Benar-benar merusak mental!


Setelah memastikan mobil suaminya telah menghilang dari pandangan. Andin menoleh ke samping, menatap Gita yang masih bergeming. “Kamu kenapa, Ta?”


"Pak Reza punya kembaran nggak, sih, Bu?”


“Hah!”


“Bu … kalian baru saja bikin saya baper. Pengen kayak gitu. Masih ada nggak stoknya?”


Andin mengulum senyum. "Nggak ada! Dia itu limited edition!"

__ADS_1


“Ish!” Gita memanyunkan bibirnya dengan terus melangkahkan kakinya masuk ke lift bersama sang big boss.


***


Reza baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien di sebuah cafe shop bersama Farah. Namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.46, mereka memutuskan pindah ke restoran yang tak jauh dari sana untuk sekadar menikmati makan siang yang tertunda.


“Alhamdulillah, A’. Usahamu semakin berkembang pesat.”


“Alhamdulillah. Ini juga karenamu, terima kasih sudah menemaniku dari awal aku merintis usaha ini.”


“Sama-sama, A’,” jawab Farah tersenyum kemudian melanjutkan lagi makannya.


“Oh iya. Kamu nggak kesepian tinggal di Bandung sendirian?” tanya Reza.


“Awalnya iya. Tetapi lama-lama aku sudah terbiasa. Lagipun, aku juga tinggal dilingkungan aman.”


“Maaf ya Farah. Gara-gara aku pindah kemari. Kamu jadi harus berjauhan dengan orang tuamu. Tapi jujur aku nggak punya pilihan lain selain kamu untuk terus menjadi asistenku.”


“Jangan sungkan, A’. Aku sudah lebih nyaman sekarang. Toh, jarak kampung dari sini juga masih bisa di jangkau dengan kendaraan darat.”


Reza hanya tersenyum dan mengangguk. Suasana kembali diisi oleh dentingan suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring. Sampai akhirnya dering disertai getaran ponsel di saku celana mengalihkan perhatiannya. Pria itu segera menempelkan jari telunjuknya di bibir ketika nama Andin tampil di layarnya. Mengisyaratkan Farah untuk diam.


“Siapa?” Tanpa suara wanita itu bertanya dan segera mendapat jawaban melalui jari manis Reza yang tersemat cincin kawin. Mengerti maksud pria tersebut, Farah hanya menganggukkan kepalanya.


“Ya Sayang?”


“Kamu sudah makan siang, Bee.”


“Su-sudah. Aku sudah makan, Sayang.” Reza memejamkan matanya sambil merutuki diri. Entah kenapa ia menjadi gugup seperti ketahuan sedang berselingkuh. “Kalau kamu gimana? Sudah makan?”


“Kamu lagi dimana?” tanya Andin dan mengabaikan pertanyaan suaminya.


Deg!


Jantung Reza berdetak dua kali lipat. Tak mungkin ia berkata jujur. Ia sangat tahu, akhir-akhir ini istrinya itu selalu bersikap possesif. Bahkan tadi pagi, ia juga melihat raut wajah cemburu Andin meski wanita itu berupaya mengelak. Daripada bertengkar lebih baik mencegah, pikirnya.


Dan sungguh, ini pertama kalinya Reza berbohong. Namun tidak menutup kemungkinan pria itu akan terus berbohong. Ingat rumusnya? Kebohongan kedua akan muncul untuk menutupi kebohongan pertama. Begitu seterusnya.


“Aku? Ya aku di kantor, Sayang. Kan, ini sudah jam kerja. Mana mungkin aku keluyuran.”


Netra Farah melebar. Ia bingung mendengar kalimat Reza.


“Oh! Ya sudah. Aku cuma mau tanya itu saja.”


“Ya Sayang. Sampai jumpa nanti sore. I love you.”


Tidak ada sahutan dari Andin. Sepertinya wanita itu sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.


“Kenapa kamu berbohong, A’?” tanya Farah yang sudah sangat penasaran apa latar belakang Reza membohongi istrinya.


“Aku tidak mau membuat dia cemburu karena aku dekat denganmu.”


“Kenapa dia mempermasalahkan sekarang? Bukankah kita selama ini hanya sebatas rekan kerja. Tidak lebih!” sergah Farah dengan menekankan ujung kalimatnya.


“Iya aku tahu. Tapi siapa yang tahu isi pikiran Andin? Aku sangat mengenalnya. Dia wanita sensitif bila mengenai masalah ini.”


“Sampai sesuatu terjadi pada hubungan kalian. Awas saja bila melibatkanku,” ancam Farah seraya menegaskan jari telunjuknya.


“Iya iya, enggak. Takut amat, sih?” Reza mengusak rambut Farah dengan gemas.

__ADS_1


“Aa’! Rambutku rusak, nih!”


Reza tergelak. Dan perlakuan itu tak luput dari sepasang bola mata cokelat yang memperhatikannya dari jarak beberapa meter di belakang. Bersamaan dengan itu juga bulir-bulir bening mendesak keluar dari pelupuk matanya.


__ADS_2