
Andin berontak, berusaha melepaskan diri dari pria yang kini sudah berada tepat di atasnya. Beberapa pukulan dan tendangan keras, ia layangkan di area mana saja yang mudah dijangkau. Namun semakin kuat ia mencoba, semakin kuat pula pria itu membelenggu tubuhnya.
“Diam dan menurutlah sebentar!” bentak pria itu lirih agar tak terdengar oleh penghuni lain yang ada di rumah itu.
Seketika Andin menghentikan gerakannya, bukan karena menurut. Melainkan sedang menyetarakan ingatan dan pendengarannya mengenai siapa pemilik suara tersebut. Sebuah suara yang sangat tak asing begitu juga dengan aroma parfum yang menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Dalam temaram cahaya lampu kamar. Andin memicing tajam, berusaha menemui manik mata pria yang memandangnya dengan tatapan penuh kerinduan dan juga … cinta. Reza! Ya, pria itu adalah Reza.
Sepersekian detik kemudian, dengan mengumpulkan seluruh kekuatan. Andin mendorong kasar dada Reza agar menjauh darinya. Namun lagi-lagi, usahanya gagal.
“Aku akan melepaskanmu tapi tolong jangan berteriak,” ujarnya mencoba bernegosiasi. Tanpa pikir panjang Andin segera mengangguk. Wanita itu juga ingin tahu apa yang menjadi alasan dibalik kenekatan Reza yang datang seperti penyusup profesional.
Reza menarik tangannya yang sedari tadi masih membekap mulut Andin. Kemudian duduk di tepian tempat tidur sembari melepaskan topi dan juga maskernya. Sementara Andin, wanita itu sibuk mencari pasokan udara segar yang sempat hilang karena bekapan. Ia beringsut dan menoleh pada pria yang duduk di sebelahnya.
“Brengsek! Dasar pria kurang ajar! Apa kamu sudah gila, menyelinap kerumah orang di tengah malam seperti maling?” Andin memukuli Reza secara membabi buta, meluapkan emosi yang tertahan sejak tadi. Bila saja pembunuhan itu halal dilakukan, mungkin wanita itu akan mencekiknya sampai mati saat itu juga.
“Andin! Tenang dulu … dengerin aku! Tadi kamu sudah janji nggak akan teriak. Kenapa kamu teriak?” Reza menepis tangan Andin. Ketika melihat ada kesempatan, ia berhasil merangkum seluruh tangan Andin dengan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
“Lepas!”
“Enggak. Kalau kamu nurut, aku akan melepasnya!”
“Reza!” sentak Andin.
“Andin!” Ini bukan suara Reza melainkan suara Mira yang berada dibalik pintu. Pun keduanya membeku seraya menatap ke arah pintu yang diketuk berulang kali. “Andin? Buka pintunya! Kamu lagi ngobrol sama siapa?” tanya Mira kemudian.
Tak ada jawaban. Dalam keadaan panik, keduanya saling melayangkan pandang. Reza menempelkan jari telunjuknya di depan bibir sembari menggelengkan kepalanya sebagai isyarat untuk tidak membuka pintu dan memberitahukan keberadaannya di kamar itu.
“Andin … buka pintunya!”
“I-iya Mami! Tunggu sebentar.”
Mendengar sahutan Andin, seketika tubuh Reza melemas. Baiklah, sepertinya malam ini ia akan gagal dengan tujuannya datang kemari. Tapi diluar dugaan, Andin menarik tangannya untuk segera bersembunyi di dalam lemari pakaian.
“Kamu tunggu disini dan jangan berisik! Aku akan membuka pintunya.” titah Andin seraya menegaskan jari telujuknya sebagai peringatan.
__ADS_1
“Iya. Aku diem, aku kalem, aku nurut,” ucap Reza dengan nada menyebalkan membuat Andin memutarkan iris cokelat miliknya. Ia menutup pintu lemari. Setelah merapikan rambut dan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan, ia pergi menyalakan lampu kemudian membuka pintu kamar sembari mengutuk Reza karena merepotkan dirinya.
“Ya, Mami. Ada apa?” tanya Andin ketika pintu baru saja dibuka.
“Kamu yang ada apa? Kenapa teriak? Kamu lagi ngobrol sama siapa?” Tanpa izin pemiliknya, Mira masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan diikuti oleh Andin yang terlihat semakin panik di belakang wanita paruh baya tersebut.
“Andin nggak teriak atau lagi ngobrol sama siapapun,” elaknya. Sesekali wanita itu melihat ke arah lemari yang terbuka sedikit. Andin mendekat untuk menutupi celah tersebut dengan tubuhnya agar Mira tak menyadari kalau ia sedang menyembunyikan seorang pria di dalam sana.
“Mami memang tua. Tapi Mami nggak budeg!” sergah Mira. Ia melirik balkon yang terbuka. “Itu kenapa pintu balkon nggak di tutup?”
“Ah … itu … gerah, Mi.” Sembari mengipaskan telapak tangannya di depan wajah sebagai pembenaran dari alasannya.
“ACmu kurang dingin?”
“Ding—.” Kalimatnya terpotong ketika perhatiannya teralih pada sebuah topi hitam yang tergeletak begitu saja di lantai tak jauh dari Mira berdiri. Buru-buru ia menghampiri maminya dan menendang topi itu hingga melesat jauh di bawah tempat tidur.
“Diluar hujan. Angin malam nggak bagus untuk kesehatanmu," ujar Mira usai menutup pintu balkon.
“Iya, Mi,” jawab Andin singkat.
“Kamu kenapa belum tidur?”
“Ya sudah, Mami keluar. Kamu istirahatlah.” Mira mengecup kening putrinya sebelum kembali ke kamarnya yang ada di seberang kamar Andin.
Baru sampai di depan lemari, Mira menghentikan langkahnya dan memperhatikan salah satu pintu yang tak tertutup rapat. Melihat itu, Andin lantas mengginggit bibir bawahnya sambil meremas jemarinya.
Ayolah Mami ... abaikan itu dan kembalilah ke kamar.
“Lemarimu rusak?” tanya Mira sambil memegangi handle pintu lemari tersebut dan dijawab gelengan cepat oleh Andin. Sementara pria yang ada di dalam sana, juga tak kalah panik. Ia menatap ruang gelap itu berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa menutupi tubuhnya sebagai antisipasi kalau saja Mira membuka lebar pintu dan memergoki keberadaanya. Sungguh sial nasibnya.
Sesaat kemudian, Mira lantas mendorong dan mengunci rapat pintu lemari. Saking rapatnya, bahkan cucu semut saja tak mampu menyelinapkan tubuhnya. Ruangan itu gelap dan kedap udara. Andin mengerjapkan matanya berulang kali. Ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan maminya.
Astaga … semoga dia tidak mati di dalam sana. Tapi salahnya juga, sih. Rasakan saja akibatnya.
"Kamu kenapa?" Mira mengernyit heran melihat Andin seperti orang ketakutan.
__ADS_1
"Nggak apa, Mi. Nggak apa." Andin mendekat dan menuntun maminya agar lekas keluar dari kamarnya. "Andin mengantuk. Sebaiknya Mami juga istirahat, ya."
Mira menurut, ia keluar kemudian pergi ke kamarnya. Dengan cepat, Andin berbalik dan membuka pintu lemarinya. Didetik berikutnya, Reza keluar dalam keadaan lemas tak berdaya. Ia langsung terduduk di lantai dengan keringat dingin yang mengucur deras membasahi wajahnya yang pucat.
"Reza ... Za ... Kamu baik-baik aja, 'kan?" Andin terlihat panik. Kondisi Reza begitu mengenaskan.
"A-apa ya-ng baik-baik saja. Aku hampir mati di dalam sana." Dada pria itu naik turun, berusaha menetralkan napasnya yang tersengal.
"Maaf." Andin berdiri mengambil air putih di atas nakas kemudian kembali lagi menghampiri Reza. "Ini, diminum dulu."
Usai menenggak habis isinya dan melihat wajah Reza sudah teraliri darah segar, Andin mengajaknya pindah untuk duduk di atas sofa.
"Katakan ... Apa tujuanmu datang kemari? Apa kamu tidak punya jam, bertamu semalam ini di rumahku? Eh tunggu ... dari mana kamu tahu kalau aku tinggal disini?" cecar Andin sesaat setelah keheningan tercipta diantara mereka.
"Satu-satu dong, tanyanya. Bingung tahu, mau jawab yang mana."
Andin menarik napas dalam. Sepertinya ia harus memupuk kesabaran ekstra menghadapi pria menyebalkan itu. "Dari mana kamu tahu rumahku?"
"Gita."
"Gita? Sekretarisku?"
"Memangnya Gita siapa lagi? Aku, 'kan selama ini selalu berhubungan dengannya saat aku belum mengetahui kalau kamu adalah atasannya." Reza menjeda kalimatnya saat melihat wajah Andin mulai menunjukkan kemurkaan pada sekretarisnya itu. "Tapi tolong, jangan marah padanya. Disini aku yang salah. Aku yang memaksanya untuk memberitahukan alamatmu padaku," jelas Reza.
"Lalu, apa tujuanmu datang kemari?"
"Simple!" Reza memiringkan tubuhnya menghadap Andin. Wajahnya tegas dan serius. "Aku ingin memperjuangkanmu."
***
Hayo dukung siapa?
Andin vs Reza
Andin vs Denis
__ADS_1
atau
Author vs Reza😎